Mengirim Anak ke Sekolah Terlalu Muda, Apa Risikonya?

Jangan terlalu ambisius soal akademis anak, apalagi sampai ngoyo mengirim anak sekolah, padahal usianya masih terlalu dini. Sedihnya lagi tanpa memperhitungkan kenyamanan anak dan perkembangan sesuai usianya.  

Mengirim Anak ke Sekolah Terlalu Muda, Apa Risikonya? - Mommies DailyImage: Element5 Digital on Unsplash

Ide artikel ini datang dari scarymommy.com, yang membahas tentang risiko yang dialami anak ketika sekolah di usia terlalu dini, dalam kasus ini usia SD (pendidikan formal). Laporan dari Centers for Disease Control (CDC) yang berbasis di USA menunjukkan, bahwa diagnosa ADHD meningkat dalam 15 tahun terakhir. Di 2015 sebuah laporan menyatakan 11% anak atau 1 dari 10 anak usia sekolah mendapatkan diagnosis ADHD. Peningkatan yang luar biasa, sebanyak 42% dari 2003-04 ke 2011-12.

Tapi temuan Harvard berkata lain, soal memulai sekolah lebih awal, kemungkinan bukan ADHD. Melainkan kurangnya kesiapan sekolah pada usia muda, “Temuan kami menunjukkan kemungkinan bahwa sejumlah besar anak-anak mengalami overdiagnosis dan overtreated untuk ADHD karena mereka relatif belum matang dibandingkan dengan teman sekelas mereka yang lebih tua di tahun-tahun awal sekolah dasar,” kata Timothy Layton, penulis utama studi ini. Layton juga seorang asisten profesor kebijakan perawatan kesehatan di Institut Blavatnik di Harvard Medical School.

Meski dua temuan di atas berbeda, tapi benang merahnya tetap sama, yaitu seputar masalah emosi. Senada seperti keterangan yang saya dapat dari Binky Paramitha Iskandar, Co-Founder Rumah Dandelion., khusus di tataran pendidikan formal, yaitu SD ke atas dia mengatakan, “apabila terlalu dini (bukan hanya usia ya, tapi kematangan anak dalam hal tugas perkembangan), baru lah terlihat risikonya (itupun biasanya terlihat di tingkat yang lebih tinggi kelas 3 atau 4 SD, anak yang belum siap secara sosial, emosi, kemandirian, atau tugas-tugas perkembangan sebelumnya. Kemungkinan anak dapat mengalami permasalahan di sekolah terkait dengan akademis dan non akademisnya (pertemanan, emosi, dll).

Baca juga:

Soft skill yang Diasah Jelang Anak Masuk SD Apa Saja?

Bagaimana dengan usia preschool?

Usia pendidikan non formal atau preschool, ada di usia 3-4 tahun, lalu dilanjutkan TK (5-6). Jika di antara mommies ada yang memasukkan anak-anak di jenjang-jenjang pendidikan non formal tersebut tidak ada yang perlu dikhawatirkan, asalkan Mbak Binky mengingatkan, “bisa menjadi ideal apabila ‘sekolah’ itu memang menekankan hal-hal yang penting untuk anak sesuai dengan perkembangan usianya. Tidak banyak menuntut prestasi yang membuat anak menjadi tertekan atau tidak nyaman di sekolah.” Jadi menurut saya, wajib banget hukumnya mommies dan pasangan melakukan trial yang melibatkan anak, ngobrol dengan para tenaga pengajar. Dan yang terpenting lagi, sejalankah nilai-nilai pendidikan yang ingin kita tanamkan ke anak?

Informasi berharga lainnya, juga ditambahkan Mbak Binky. Mungkin sebagian dari kita belum paham betul, ya, apa sih, tujuan preschool ini? “Disebut preschool karena memang ini adalah fase sebelum anak mulai sekolah formal. Jadi yang diharapkan anak akan belajar mengenai bagaimana bersosialisasi dengan teman sebaya, bagaimana mengikuti instruksi di kelas, bagaimana bermain dengan baik, dan sebagainya.”

Nggak hanya dari segi pemahaman tujuan dari tiap jenjang pendidikan  non formal dan formal anak saja yang harusnya kita pahami secara mendalam (karena perkara memasukkan anak ke sekolah bukan sekadar ikut-ikutan). Soal harapan kita ke anak, juga sebaiknya bisa kita kendalikan, alias jangan berharap terlalu tinggi.“Jadi harapan disesuaikan dengan usia anak. Ketika usianya memang sedang belajar berteman, maka harapan orangtua dan guru adalah anak dapat berinteraksi dengan teman sebaya, bermain sesuai aturan di lingkungan sosial, dsb. Ketika nanti usianya semakin dewasa dan perkembangan anak semakin matang, harapan tentu akan meningkat pula, disesuaikan dengan tugas perkembangan anak di usia tersebut,” kata Mbak Binky bicara soal poin harapan orangtua ke anak.

-

Logika sederhananya seperti ini, kan anak kita yang akan menjalankan hari-harinya di sekolah. Baik itu pendidikan non formal maupun formal. Merupakan hal yang sangat manusiawi, kalau mereka harus nyaman dan senang dengan apa yang dijalankan, bukan sebaliknya stres. Ingat lho, anak itu bukan kita dalam versi mini, setiap dari mereka adalah pribadi yang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, hargai itu :)


Post Comment