Ajarkan Anak Kemampuan Problem Solving

Kemampuan problem solving buat saya adalah salah satu skill penting yang perlu dimiliki oleh anak-anak saya.

Ajarkan Anak Kemampuan Problem Solving  - Mommies Daily

Salah satu concern penting saya ketika berorganisasi dan begitu nyemplung di dunia kerja adalah, apakah orang-orang di sekitar saya dan saya sendiri bisa menjadi deretan orang yang mampu memberikan solusi ketika ada masalah datang, atau malah masuk ke dalam kategori mereka yang cenderung melempar masalah ke orang lain dan enggan mencari solusi?

Karena cukup menyebalkan lho kalau ketemu rekan kerja yang bisanya hanya mengeluh tanpa memberikan solusi. Makanya, saya ingin banget anak-anak saya belajar tentang problem solving dari kecil.

Mungkin, beberapa point ini bisa mulai kita terapkan agar anak belajar mengenai problem solving sejak dini….

1. Untuk usia anak 3 -5 tahun, gunakan Emotion Coaching. Apa saja emotion coaching itu? Memahami emosi yang dirasakan oleh anak, ajarkan anak untuk mengenal emosi di dalam dirinya, bantu anak untuk mengatasi emosi dengan baik, baru mengarah ke problem solving. Bisa juga ajukan pertanyaan seperti “Coba kasih tahu ke mama, bagian mana yang sulit menurut kamu?”

2. Belajar tentang problem solving dari buku cerita atau permainan. Misalnya melalui creative play seperti Lego yang mengajak anak untuk menciptakan sesuatu dari nol. Kegiatan ini membuat anak mendapat tantangan dan mengasah imajinasi mereka.

3. Pada usia 5 – 7 tahun kita bisa memulai mengajarkan mengenai problem solving step:
Langkah 1: Apa yang dirasakan?
Langkah 2: Apa masalah yang dihadapi?
Langkah 3: Solusinya kira-kira apa?
Langkah 4: Coba cari beberapa alternatif solusi “Kira-kira apa yang akan terjadi kalau ….”
Langkah 5: Mana yang akan dipilih sebagai jalan keluar terbaik?

4. Ajukan pertanyaan-pertanyaan dengan metode open ended question: Bagaimana kita bisa bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini? Menurut kamu, kalau kita memilih jalan keluar A, apa yang akan terjadi? Bagaimana kalau kita memilih jalan keluar C?

5. Jangan menganut pola asuh Helicopter Parenting, karena ini membuat anak merasa tidak memiliki space dan tidak dipercaya untuk menangani masalah yang dia hadapi. Biarkan anak belajar bahwa wajar jika melakukan kesalahan asalkan mereka belajar untuk memperbaikinya.

6. Biarkan anak memikirkan multiple potential solution. Misalnya kita bisa memberikan contoh sebuah masalah dan minta anak memikirkan jalan keluarnya seperti apa. Setelah anak mengungkapkan solusi yang tepat menurut dia, namun ada celah yang bisa kita sanggah, coba kita sanggah solusi yang dia berikan agar dia mencoba lagi untuk berpikir mengenai solusi lainnya.

7. Jadikan kegiatan “mencari solusi’ menjadi kebiasaan yang menyenangkan di keluarga kita. Setiap hari pasti kita mengalami sebuah masalah, mau sesederhana apa pun masalah yang kita punya. Sesederhana, mau masak apa hari ini atau mau berangkat sekolah jam berapa hari ini. Biarkan anak-anak yang mencari jalan keluarnya.

Dan semoga semakin banyak anak-anak yang menyelesaikan masalah dibanding menjadi sumber masalah itu sendiri :D.


Post Comment