5 Hal yang Ingin Saya Ajarkan Tentang Politik pada Anak

Belum lama, tiba-tiba sepulang sekolah si sulung saya bertanya kepada saya, “Mama, nanti mama pilih siapa? Jokowi atau Prabowo?” Jawab apa kira-kira?

Saya kemudian balik bertanya, “kalau Awan bisa ikut Pemilu, kamu mau pilih siapa?” “Jokowilah!” jawabnya mantap. “Alasannya apa pilih beliau?” tanya saya lagi. Ia mengedikkan bahu, “Aku tahunya cuma Jokowi.” Hahaha…apakah ini efek gambar beliau yang ada di kelasnya di atas papan tulis?

mengajarkan pemilu politik pada anak

Tapi kalau begitu, jadi dia tahu nama Prabowo dari mana? Karena terus terang, sumber informasi yang berseliweran belum saya beri akses. Internet hanya sebatas nonton YouTube, main game dan cari informasi untuk tugas sekolah, itupun harus ada saya, dan kebetulan di rumah kami jarang sekali nonton televisi. Dia ternyata tahu Prabowo dari obrolan yang dia dengar saja.

Baiklah, berhubung dia juga sudah mulai bertanya, maka saya memilih untuk mulai mengenalkan tentang politik di usianya yang sudah jelang 12 tahun ini. Apalagi sekarang tahun politik, kan?

Setiap orang punya hak memilih

Buat saya langkah pertama untuk memperkenalkan anak-anak tentang ranah politik adalah memberitahu mereka kalau semua orang punya hak pilih. Caranya salah satunya dengan membawa anak-anak ke TPS agar dia bisa melihat bagaimana proses memilih dalam Pemilu.

Sebenarnya ini sudah saya lakukan setiap kali Pemilu, sih, baik Pilkada mau pun Pilpres. Hanya saja sekarang si sulung sudah lebih bisa diajak berdiskusi. Saya sampai saat ini belum membolehkan mereka ikut masuk ke bilik suara. Tapi mungkin next Pemilu boleh, deh, ajak si sulung. Tentunya dengan pesan bahwa Pemilu itu bersifat rahasia, jadi nggak perlu woro-woro ke orang lain siapa pilihan kita kalo memang kita nggak mau kasih tahu.

Tapi kenali juga risiko membawa anak ke bilik suara. Saya sampai tertawa sakit perut melihat anak teman saya berteriak dari bilik suara, “Papaaaa…mama nggak mau pilih Moncong Putih! Pilihnya pohon beringin.” Hahaha…ketahuan, deh.

(Baca juga: Alasan Basi Tak Ikut Pemilu dari Najwa Shihab)

Kenalkan calonnya

Beritahu nama calonnya, kasih unjuk fotonya, dan mungkin bisa sambil buka-buka Wikipedia untuk menyampaikan pada anak, apa, sih, yang sudah dilakukan beliau-beliau ini. Kalau saya cukup membiarkan anak membaca saja sendiri, tak perlu menggiring opini. Kalau mereka tanya, usahakan menjawab serasional mungkin tanpa menjelek-jelekkan satu pihak.

Misal, ketika membicarakan Prabowo, ceritakan saja siapa beliau, pernah menjabat apa, saat ini posisinya di partai Gerindra apa. Sebaliknya ketika membicarakan Jokowi, terangkan bahwa dia pernah jadi pengusaha, di pemerintahan saat ini apa posisinya, dan lain-lain. Nggak perlu berdiskusi yang ribet-ribet. Walaupun ia anak kita, harus selalu diingat dia adalah individu yang berbeda. Biarkan ia menyimpulkan sendiri semuanya.

Perbedaan itu Indonesia

Saya lebih suka mengajarkan pada anak saya bahwa Indonesia itu terdiri dari beragam perbedaan, mulai dari suku, adat, budaya hingga agama. Tentunya perbedaan ini menimbulkan adanya perbedaan dari sisi pemikiran juga. Beri contoh betapa ia berbeda dengan adiknya, padahal lahir dari ibu yang sama.

Nah, apalagi beda suku, adat, dan agama, kan? Hanya saja justru perbedaan itu yang menyatukan kita semua. Perbedaan itu biasa. Jadi kalau yang satu pilih Jokowi, yang satu pilih Prabowo, monggo saja, itu hak pribadi masing-masing. Nggak perlu saling mengejek pilihan orang lain. Dengan begitu anak jadi punya keterampilan untuk menghargai dan menghormati pendapat orang lain. No SARA allowed dalam kamus saya.

Semua warga Indonesia berhak duduk di pemerintahan

Belajar dari poin sebelumnya bahwa Indonesia terdiri dari masyarakat yang majemuk. Walau pun begitu sebagai sesama orang Indonesia memiliki hak yang sama. Memiliki hak untuk menggunakan transportasi publik, hingga mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama, misalnya. Ini termasuk memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih.

Kalau kita bebas memilih siapa presiden atau anggota legislatif, maka kita juga boleh dipilih tanpa memandang suku, agama, ras, dan latar belakang. Ini juga bisa jadi bahan diskusi, kalau-kalau si kecil bercita-cita jadi Presiden nantinya :)

Kalau moms yang lain gimana? Share di kolom comment ya, tips mengajarkan politik pada anak.


Post Comment