Unfollow & Block! Sudah Saatnya Kita Membaca Berita Bukan di Social Media

News

annisast・09 Feb 2019

detail-thumb

 

Kebohongan? Industri media? Berita yang difabrikasi tergantung kepentingan pemiliknya? Selamat, kamu terkena gegar budaya media sosial.

Ayah saya adalah wartawan media cetak selama 20 tahun. Beliau kemudian mengajar mata kuliah penulisan dan fotografi di kampus. Saya yang senang menulis sejak kecil, merasa jurnalisme juga adalah sebuah pilihan karier menyenangkan mengingat saya senang menulis dan senang bertemu orang banyak.

pers

Tahun ini tahun ke-8 saya bekerja di industri media. Dari hanya reporter, kemudian menjadi editor, lompat ke digital marketing selama 2 tahun, dan tahun lalu kembali menjadi editor.

Bekerja di 2 media besar dan bertemu dengan banyak sekali wartawan idealis saya termasuk golongan orang yang percaya kebohongan dan berita tidak bisa difabrikasi semudah itu. Jangan terlalu gampang percaya apa yang kalian baca di social media.

Pengguna media sosial adalah orang biasa. Tidak punya editor dengan pengalaman puluhan tahun. Tidak terikat idealisme media, tidak terikat berbagai peraturan sebagai wartawan. Mereka bebas bicara apa saja, dibayar siapa saja, dan sialnya orang gampang percaya.

Mereka-mereka ini bisa saja teman kita saat sekolah. Rajin menyebarkan berita di group WhatsApp. Berita entah sumbernya dari mana, entah yang menulis siapa, tak tahu tokoh dan ceritanya fiktif atau tidak. Tapi toh sebagian percaya.

Padahal banyak sekali wartawan yang saya kenal, bahkan tidak boleh sekadar menerima goody bag dari event. Dikirimi lipstik dari brand lipstik lokal pun harus dikembalikan. Ada independensi yang harus dijaga. Ada netralitas yang tidak boleh diganggu gugat. Jangankan amplop, diberi barang kecil pun tidak mau. Karena dikhawatirkan beritanya jadi berat sebelah dan itu sama sekali tidak boleh.

Apa pelajarannya? Baca berita jangan di social media. Percaya sesuatu jangan dari group WhatsApp belaka. Sudah saatnya menegur orang-orang yang sering menyebar hoax di berbagai group, sudah saatnya mengingatkan orangtua kita sendiri agar berhenti mem-forward berita yang tidak jelas sumbernya.

Kita sendiri, sudahlah unfollow dan block orang-orang tidak jelas di media sosial. Mulailah baca berita dan sumber terpercaya. Jurnalisme yang ideal itu masih ada, lho! Media seperti The Jakarta Post, CNN Indonesia, BBC Indonesia, saya yakin masih punya ruang redaksi yang tidak semudah itu diganggu gugat.

Jangan hidup dalam stereotype ibu-ibu yang mudah dibohongi, mudah percaya, dan tidak mau baca berita. Selalu kroscek semua hal dan biarkan semua berita hoax berhenti di kamu!

Selamat Hari Pers Nasional!