5 Anggapan Salah Tentang Ibu Bekerja

Berbagai “tuduhan” yang dilayangkan seputar pengasuhan anak dan lain-lain kepada kami ibu bekerja, lebih baik senyumin aja, ya. Karena di balik sosok kami yang sibuk di kantor, otak dan hati kami selalu tersedia ruang untuk keluarga.

Selain kami adalah manusia biasa, kami juga ibu yang tetap melibatkan hati dan logika kok dalam berpikir. Keputusan menjadi ibu bekerja pasti juga didahului dengan pemikiran yang matang. Ada alasan yang jelas. Misalnya, kalau hanya mengandalkan penghasilan suami, keluarga tersebut tidak bisa menyekolahkan anak dengan standar value pendidikan yang mereka miliki. Nah, pendidikan kan termasuk hak dasar anak yang wajib dipenuhi orangtua. Wajar toh, ayah dan ibu bekerja sama memperjuangkan kehidupan keluarga yang lebih baik?

5 Anggapan Salah Tentang Ibu Bekerja - Mommies DailyImage: Corinne Kutz on Unsplash

Hampir 5 tahun saya berpredikat sebagai ibu bekerja, ada saja anggapan sebagian orang yang masih salah kaprah. Kenapa? Karena pas saya menjalankan, dan melihat fakta yang terjadi di sekitar saya, ya, nggak gitu kenyataannya.

1.Ibu bekerja DENGAN MUDAH-nya mensubkontrakan hak asuh ke pihak ke-3

Telinga saya sangat tidak nyaman mendengar kalimat semacam ini. Ya kan, alasan seorang ibu bekerja juga segambreng. Jika kami menitipkan anak kepada mbak, suster, orangtua atau daycare, akan dibarengi dengan aturan main yang jelas. NGGAK SEGAMPANG ITU! Contohnya pas mau memperkerjakan mbak atau suster. Umumnya teman-teman saya di kantor, akan ada sesi wawancara dulu. Atau pemilihan daycare, yang makan waktu mingguan hingga bulanan untuk survei. Hingga keluar satu nama tempat sreg di hati.

2.Keluarga bukan prioritas

Duuh udah deh. Tenggelamkan anggapan ini di otak kalian. Kami kerja, kami berkarya, kami membangun networking untuk siapa? Ya, keluarga. Segimana peliknya urusan kantor, jika pihak daycare sudah menelepon Jordy sakit, nggak pakai lama, saya langsung pulang. Suami juga seperti itu. Nggak peduli, mau sepenting apa agenda liputan dia. Izin sama atasan, langsung melesat dengan motornya.

3.Nggak dekat dengan anak

Dulu ini juga jadi salah satu kekhawatiran saya. Tapi takjub sendiri, pas tahu reaksi yang saya dapat dari Jordy malah sebaliknya. Buktinya, kalau saya ada niatan menitipkan dia di rumah neneknya, pas saya dan suami harus masuk di Sabtu-Minggu, Jordy menolak sekuat tenaga. “Pokoknya aku maunya sama Bunda aja!.”

Baca juga: Sebagai Ibu Bekerja, Saya Butuh Quality dan Quantity Time Bersama Anak

4.Nggak punya waktu berkualitas sama anak

Kuncinya, “Sediakan waktu buat anak”, contohnya saya membuat kurikulum sendiri, seputar kegiatan Jordy sepulang dari daycare. Pas lagi di samping dia, hadir sepenuhnya. Artinya, singkirkan dulu gadget. Kan sudah di luar jam kerja juga. Sejauh ini, teknik tersebut berhasil menghasilkan quality time dengan Jordy.

5.Nggak tahu apa-apa tentang perkembangan anak

Masing-masing ibu punya cara sendiri untuk merekam jejak milestone anaknya. Ada yang menulis di-blog, sesederhana mencatat di HP, rajin foto, merekam lewat video, dan lain-lain. Jadi kalau dibilang nggak tahu apa-apa soal perkembangan anak, kami punya dokumentasi mumpuni dari awal kelahiran mereka. Meski bukan orang pertama yang melihat dia berjalan, saya hafal, Jordy mulai lancar berjalan di usia 13 bulan, dan bisa merangkai 3 kata ketika ia masuk 17 bulan.

Baca juga: 3 Hal yang Perlu Dilakukan Ibu Bekerja di Akhir Tahun

Ada yang mau menambahkan?


Post Comment