Serba-Serbi Ovulasi

New Parents

Mommies Daily・27 Feb 2018

detail-thumb

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Konon, ovulasi bisa dirasakan, dan saat itulah kesempatan hamil lebih besar. Ini dia serba-serbi ovulasi.

Katanya, sih, begitu. "Ovulasi bisa dirasakan, kok!" kata seorang teman saya yang saat ini sudah memiliki 3 orang anak. “Dan saat itu, tuh, kesempatan hamil lebih besar,” tambah teman saya. Tapiiii, saya, kok, nggak pernah ngerasain, ya! Hahaha, oke, mungkin karena saya kurang peka.

Ovulasi berbeda dengan fertilisasi. Fertilisasi merupakan proses bertemunya sperma dan ovum. Sementara, ovulasi adalah proses sebelum terjadinya fertilisasi ini. Lebih lengkap, ini hal-hal yang perlu diketahui tentang ovulasi.

Serba-Serbi Ovulasi - Mommies Daily

Apa, sih, ovulasi itu?

Setiap bulan, salah satu indung telur akan mengeluarkan telur yang sudah matang, yang kemudian akan ‘berjalan’ menyusuri tuba falopi. Tuba falopi inilah yang nantinya bertugas membawa telur matang tersebut ke rahim. Tapi sebelum menuju rahim, agar terjadi kehamilan, sel telur harus bertemu dulu dengan sperma di dalam tuba falopi ini. Telur hanya akan bertahan sekitar 12 sampai 24 jam. Sementara, sperma akan bertahan hingga 7 hari di dalam vagina. Sehingga, untuk hamil, sel telur dan sperma harus bertemu dalam jangka waktu tersebut.

Kapan hari yang paling subur?

Karena usia sel telur di tuba falopi hanya berkisar 1 hari dan sperma 7 hari, maka, untuk hamil, sel telur dan sperma harus bertemu dalam jangka waktu tersebut. Dengan kata lain, hari paling subur adalah pada hari ovulasi atau 6 hari sebelumnya. Panjang siklus ovulasi bisa bervariasi pada setiap wanita.

Umumnya, ovulasi terjadi pada 14 hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Memang sedikit sulit untuk menentukan kapan tepatnya ovulasi ini terjadi. Tapi karena sperma dapat bertahan hingga 7 hari setelah melakukan hubungan seks, maka kesempatan besar Anda untuk hamil adalah pada hari ke 11 sampai ke 16 (periode menstruasi).

Apa ciri-ciri terjadinya ovulasi?

Nah, ini yang penting. Pada wanita yang memiliki siklus menstruasi yang teratur, ovulasi ternyata bisa terjadi sekitar waktu yang sama setiap bulan. Tapi, pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi (terutama yang mengandung hormon), perlu beberapa bulan untuk mengetahui siklus menstruasi.

Sementara bila dilihat dari perubahan pada tubuh, beberapa hal ini bisa juga diperhatikan:

• Terjadi perubahan lendir di serviks, yaitu dari kering menjadi lebih basah dan berwarna jernih (bentuknya mirip-mirip keputihan).

• Merasa lebih bergairah. Secara alami, Anda akan merasa lebih percaya diri, merasa lebih cantik dan tanpa disadari Anda akan merasa lebih bergairah saat ovulasi terjadi.

• Terjadi perubahan suhu basal tubuh, yaitu suhu tubuh saat istirahat. Kalau mau iseng, cek suhu tubuh Anda setiap pagi sebelum turun dari tempat tidur. Kalau suhunya lebih tinggi kurang lebih setengah derajat, artinya Anda telah berovulasi dalam 12-24 jam terakhir.

Apa hubungan ovulasi dengan suhu tubuh?

Meskipun cukup sulit diperhatikan, tapi kalau diniatin dan rajin dicatat, dalam beberapa bulan Anda bisa melihat pola perubahan suhu setiap bulannya. Suhu normal wanita saat tidak terjadi ovulasi adalah sekitar 36,2 derajat Celsius sampai 36,5 derajat Celsius. Salah satu ciri terjadinya ovulasi adalah perubahan suhu dari suhu yang turun, kemudia tiba-tiba melonjak naik sekitar waktu ovulasi. Perubahan suhu ini terjadi karena saat ovulasi, korpus luteum (jaringan dalam ovarium) akan melepaskan hormon progesteron yang bekerja pada hipotalamus (yang salah satu fungsinya mengatur suhu tubuh) untuk meningkatkan suhu tubuh.

Bisakah saya hamil selama menstruasi?

Bisa! Meskipun terdengar tak mungkin, tapi kenyataannya bisa. Ini terjadi jika Anda memiliki siklus menstruasi yang pendek, yaitu 22 hari (yang normal sekitar 28 hari) atau sebaliknya, cenderung memiliki periode menstruasi yang sangat lama dan Anda berhubungan seks pada hari terakhir menstruasi, maka sperma bisa bertahan sampai telur dilepaskan saat ovulasi.

Susah-susah gampang mengetahui ovulasi. Saya, sih, lebih senang pakai aplikasi yang dapat membantu mencatat periode menstruasi saya. Tapi dengan mengetahui informasi tentang ovulasi ini lebih banyak, jadinya saya lebih hati-hati, agar tidak kebobolan anak ketiga :D :D