Ketika si Kecil Mau Jadi Youtuber!

Etc

?author?・09 Nov 2017

detail-thumb

Saat si kecil mengutarakan keinginannya mau jadi youtuber atau profesi lainnya yang nggak umum, sebagai orangtua harus bagaimana, ya, sebaiknya bersikap seperti apa?

Suatu hari, di tengah rapat editorial, Adisty, editorial Mommies Daily, membuka topik pembicaraan yang cukup unik.

Mosok yaaa, Bumi bilang ke gue, cita-cita mau jadi youtuber!”

Kami yang mendengarnya, nggak begitu heran. Karena Adis dan suaminya Doni, memang bekerja di media online. Dan merekapun tergolong orangtua, yang mengizinkan Bumi nonton tayangan anak-anak di youtube, asalkan masih dalam pengawasan orangtua. Lalu, Bumi juga suka main ke kantor Mommies Daily, “diculik”, buat jadi talent video-video youtube MD, atau sesi pemotretan :D

Ketika si Kecil Mau Jadi Youtuber! - Mommies Daily

Yang jadi permasalahan Adis waktu itu, bagaimana ya, ia dan suami bisa merespond dengan tepat, pernyataan dari Bumi. Kalau kata Mbak Vera Itabiliana, psikolog anak dan keluarga,  yang penting orangtua selalu menanggapinya dengan dengan positif. Bahkan di kasusnya anak Mbak Vera yang kecil, ia pernah bilang mau jadi tukang DVD dan driver Go-Jek, hihihi, lucu ya, mommies. Walau cita-cita yang diutarakan aneh, Mbak Vera mengingatkan respond orangtua harus tetap positif.

“Mengutarakan cita-cita merupakan salah satu bentuk ekspresi anak-anak, memandang dirinya seperti apa. Selain respond-nya harus positif, juga harus dihargai. Bilang iya saja dulu. Dan selanjutnya, kita bisa tanya. “Kenapa kamu mau jadi youtuber?, memang, youtuber itu ngapain saja? Enaknya apa sih?.” Digali dan dieksplore lebih lanjut saja,” lanjut Mbak Vera.

Khusus kasusnya Bumi, atau mommies yang mengalami kejadian serupa dengan Adis. Mbak Vera bilang, nggak apa-apa, lho, kalau kita menunjukkan wujud nyata atau hasil kerya youtuber itu seperti apa sih? Dengan syarat, bareng dengan orangtua, ya. Kalau keinginan anak naik level, misalnya minta dibuatkan akun youtube, ooh tentu saja, harus menunggu usianya minimal 13 tahun. “Tapi nanti, kalau si kecil bilang “Aku mau punya akun pribadi!,”, nah ini jangan dulu. Harus tunggu usianya 13 tahun, karena nanti terhubung dengan email. Dan aturan membuat email, minimal harus 13, kan?. Jadi kalau dia mau lihat contohnya, ya lihat bareng saja,” papar Mbak Vera, soal pembuatan akun social media.

Tapi gimana dong, kalau anak kita kepingin latihan jadi youtuber? Boleh saja kok, kata Mbak Vera. Bisa diakali dengan membuat video menggunakan HP. Lalu upload videonya ke What’s App group keluarga. Nanti kita bisa kasih pengertian seperti ini ke anak: “Kamu test dulu. Sebelum yang nonton lebih banyak. Kita test dulu, dikirim ke kakek, nenek, om dan tante.”

Atau bisa juga, kalau ibunya punya social media seperti path, di-upload di situ. Tapi jangan lupa inner circle, ya, mommies. “Kendalinya tetap di orangtua, memilih lingkungan yang aman untuk si kecil. Karena kita juga nggak mau kan, informasi personal si kecil dicaplok orang nggak dikenal?,” wanti-wanti dari Mbak Vera, terkait keamanan privacy si kecil.

Dalam skala yang lebih besar, Mbak Vera bilang. Orangtua harus siap dan dibiasakan dengan pemikiran, “Nantinya anak kita, tidak harus bekerja untuk orang lain. Tapi dia bisa bikin pekerjaan sendiri.” Contohnya Nadime Makarim, CEO GoJek. Makanya, kata Mbak Vera, di beberapa kampus, ada mata kuliah entrepeneurship. “Maksudnya, supaya nanti anak-anak tidak tergantung untuk cari kerja, tapi juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Mind set seperti ini, yang menurut saya, harus diubah orangtua. Anak bisa kok kerja sendiri, dan nggak harus mencari pekerjaan.”

Kalau dipikir-pikir, ya, mommies, 5-10 tahun mendatang, pasti akan bermunculan jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya kita nggak duga. Mengantisipasinya hal ini, kita wajib memerhatikan minat anak, dan nanti sebaiknya diarahkan ke bidang itu. Menurut Mbak Vera, kalau sekarang si kecil bilang mau jadi youtuber, bilang iya saja dulu. Toh, anak masih punya kesempatan mengubah cita-citanya, sampai nanti usia pubertas.

Artinya begini mommies, saat anak menyebut cita-citanya, jangan pernah disepelekan, apalagi diremehkan. Anak jadi nggak berani untuk punya cita-cita. Karena dampaknya akan sampai besar. Jangan sampai, pas ditanya mau jurusan apa, dia jawab. “Nggak tahu!.” “Nah, itu, anak-anak yang mungkin dulunya, nggak pernah ditanya, “Kamu mau jadi apa, sih?.” Dan suka disepelekan, ketika menyebut apa cita-citanya,” jelas Mbak Vera.

Last but not least, obrolan saya dengan Mbak Vera ditutup dengan penyataan menarik. “Menghargai anak sebagai dirinya yang unik sangat penting. Jadi supaya nanti ketika nanti dia menentukan pilihan, bukan berdasarkan ikut-ikutan teman-temannya. Tapi karena dia sendiri suka di bidang itu.”

NOTED, banget Mbak Vera :)

Semoga Mbak Adis dan mommies lainnya, yang sedang mengalami hal serupa, bisa terbantu dari hasil obrolan MD dengan Mbak Vera, ya. Si kecil mau jadi youtuber atau buat yang perempuan mungkin mau jadi MUA (Makeup Artist), silakan saja :)