Apakah Anak Kita Radikal?

Kids

Mommies Daily・02 Jul 2017

detail-thumb

Seberapa khawatir Anda melihat video anak-anak berpawai dan menyanyikan lagu yang isinya ajakan membunuh? Bagaimana kita bisa melindungi anak-anak dari paham radikal?

Saya dan banyak sekali orangtua khawatir sekali menonton video itu. Selain karena membunuh adalah kejahatan, juga karena ini membuktikan bahwa radikalisme sudah masuk bahkan sampai ke taraf anak-anak. Dibanding mengajarkan anak-anak untuk mencintai semua mahluk ciptaan Tuhan, mereka diajarkan untuk membenci dan membunuh. Di usia yang masih sangat kecil, otak mereka diisi dengan pemahaman: kalau tidak sama dengan saya, kalau berbeda, maka layak dimusuhi.

Baca juga:

Ajak Anak Tetap Berbhineka Tunggal Ika Dalam Pertemanan

Semua agama mengajarkan cinta kasih dan merupakan tuntunan untuk hidup dengan baik. Baik kepada lingkungan, baik kepada sesama manusia, baik kepada Tuhan. Karena itu mengajarkan anak untuk membunuh jelas-jelas adalah hal yang salah. Bayangkan, kalau semua yang berbeda dengan mereka, atau orangtua mereka, mau dibunuh? Bisa penuh penjara!

Apakah Anak Kita Radikal? - Mommies Daily

Ada beberapa hal yang merupakan pertanda anak terkena radikalisasi menurut Marc-André K. Lafrenière, pakar tentang radikalisasi dari Canada:

1. Meninggalkan lingkungan sosialnya, seperti teman dan keluarga.

2. Perilaku obsesif terhadap kegiatan atau kelompok radikal dan meninggalkan kegiatan lamanya, seperti olahraga, pergi bersama kawan-kawan.

3. Kepercayaannya terhadap paham radikal terlihat dari perilakunya sehari-hari. Misal, dia mengomentari anggota keluarga yang menurutnya melakukan hal yang sangat salah. Atau intoleran terhadap orang lain yang berbeda darinya.

Sebelum anak-anak kita terkena paham radikal, ada beberapa cara untuk mencegah hal itu terjadi:

1. Budayakan Ngobrol

Komunikasi selalu menjadi kata kunci agar anak bebas mengutarakan pendapat ataupun memberikan pertanyaan. Mungkin menurut Anda ini remeh, “Ah, saya ngobrol kok sama anak saya.” Namun, apakah kita benar-benar bicara dari hati ke hati? Atau cuma sekadar membahas rutinitas si anak dan sekolahnya? Apakah kita menanyakan perasaannya ataupun pendapatnya?

2. Buatlah Nilai-nilai Keluarga

Keluarga seperti apa yang kita inginkan? Kebanyakan akan menjawab yang penuh kasih sayang, keterbukaan, tanggung jawab, kepercayaan, saling menghargai, dan lain-lain. Tanamkan nilai-nilai keluarga itu lewat tingkah laku kita. Katanya, anak tak selalu mendengar omongan kita, namun mereka selalu berhasil mengimitasi tindakan kita.

3. Masukkan ke Sistem yang Toleran

Sistem yang dimaksud di sini adalah lembaga atau organisasi yang bersentuhan dengan anak. Misal, orangtua percaya dengan toleransi dan berharap si anak bisa menerima perbedaan sebagai hal biasa, namun bagaimana kalau sekolahnya mengajarkan sebaliknya? Perhatikan juga apakah tempat dia les, kegiatan ekstra kurikuler dan tempat ibadahnya juga memiliki nilai-nilai serupa dengan keluarga Anda.

4. Tokoh yang Baik

Carilah figur atau tokoh yang baik untuk ditiru anak-anak. Tak harus tokoh agama, bisa juga tokoh di film, serial atau komik yang menurut Anda bagus kalau dia tiru. Tokoh yang mengenalkan toleransi dan kemampuan menerima perbedaan pendapat.

Baca juga:

Ajarkan Anak Tentang Toleransi Lewat Buku Cerita

5. Koreksi Diri

Sering kita tidak sadar saat bicara dengan teman atau keluarga, ada anak di sebelah kita. Kita anggap dia masih kecil, dia tidak mengerti, namun itu salah. Apa yang anak dengar dan lihat, itu yang dia ingat. Anak sangat pintar meniru, biarkanlah dia meniru hal-hal yang baik dari Anda, bukan sebaliknya.

Sekarang pertanyaannya, sudahkah kita mengajarkan paham kebhinekaan pada si kecil?