Sudahkah Kita Menanamkan Pendidikan Kebinekaan Pada Si Kecil?

Coba kita tanya pada diri sendiri, sudahkah kita menanamkan pendidikan kebinekaan pada si kecil? Selain di sekolah, pendidikan ini juga wajib diajarkan di lingkungan rumah.

“Berteman itu nggak usah pilih-pilih. Apa lagi memilih cuma karena status sosial, suku dan agama. Asal temen kamu baik, nggak kasih pengaruh buruk, ya, berteman saja.”

Kira-kira beginilah kalimat yang terus dilontarkan mama saya sejak saya masih mengenal bangku sekolah. Pesan ini masih terus membekas dan saya wariskan pada anak saya, Bumi.

Berpegang pesan ini, masa kecil saya juga rasanya sangat menyenangkan. Bebas bermain dengan siapa saja tanpa perlu pengkotak-kotakanan, baik di lingkungan sekolah atau pun rumah. Buah manis yang saya dapat jadi banyak engalaman karena berteman dengan beragam latar belakang suku dan agama. Dan hal ini masih berlangsung sampai detik ini.

sudahkan kita mengajakan pendidikan kebinekaan pada si kecil-mommiesdaily

Tapi melihat kondisi sekarang, saya kok khawatir ya? Khawatir kalau nilai toleransi dan kebinekaan hilang. Apalagi saat memasuki masa pemilihan Gubernur dan Calon Gubernur Jakarta, isu soal SARA ini kan kian berhembus. Ngeri melihat postingan di sosial media yang menyudutkan pihak atau masyarakat yang minoritas. Takut kalau kondisi seperti ini sampai memasuki ramah lingkungan sekolah.

Kekhawatiran saya ternyata memang sudah terjadi, karena kondisi benih-benih intoleransi memang kian menyebar di lingkungan sekolah. Sudah baca berita soal ada sekolah yang menolak ketua OSIS yang beda Agama?

Begitu membaca berita tersebut saya, cukup sedih, ya. Menurut saya, sikap toleransi  ini selain perlu dipupuk di lingkungan rumah, juga harus diterapkan di lingkungan sekolah. Biar bagaimana pun, sekolah ibarat ‘rumah kedua’ buat anak-anak. Nyatanya, sejumlah penelitian yang digelar Mendikbud tahun 2015-2016 menunjukkan fakta-fakta yang memprihatinkan mengenai kebinekaan di sekolah.

Beberapa waktu lalu Mommies Daily sebenarnya diundang ke acara media diskusi yang berkaitan dengan hal ini. Sayangnya waktu itu saya berhalangan untuk hadir. Namun, saya masih mendapatkan data yang dipaparkan lewat rilis yang menjelaskan kondisi dan pentingnya nilai kebinekaan dalam dunia pendidikan. Salah satu tujuannya, tentu saja untuk menjaga kerukunan antar umat dan menghindari terjadinya radikalisme.

Nur Berlian Venus Ali, mewakili peneliti di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyampaikan, seharusnya sekolah bisa menerapkan pendidikan kebinekaan dengan melakukan pembauran siswa dari berbagai latar belakang dalam berbagai kegiatan intra maupun ekstrakurikuler, organisasi, kepanitiaan, dan sebagainya.

Pendidikan kebinekaan bisa diartikan sebagai suatu layanan pendidikan untuk membentuk dan mengembangkan suasana sekolah pada sikap dan perilaku saling menghormati dan menghargai kemajemukan.  Dengan pendidikan kebinekaan ini tentunya harapannya bisa menumbuhkan sensitivitas warga sekolah terhadap budaya masyarakat yang bersifat plural, sehingga tercipta sikap dan perilaku yang menghormati dan menghargai keberagaman

“Dengan demikian, siswa menjadi terbiasa dan saling menerima serta menghargai perbedaan,” katanya.

Jadi sudah bisa dipastikan, ya, kalau pendidikan kebinekaan ini sangat penting. Jika tidak, tentu saja bisa memicu terjadinya konflik. Baik konflik agama, entik, konflik komunal hingga adanya aksi teroris.

Masalahnya, seperti yang dipaparkan Nur Berlian V. Ali, masih banyak fakta yang berkembang di lingkungan sekolah dan masyarakat  mengenai perilaku intolerasi, adanya dominasi atau diskriminasi mayoritas terhadap minoritas, serta adanya tindakan radikal yang masih jadi ancaman

Untuk itulah pendidikan kebinekaan dan penguatan wawasan kebangsaan  perlu dilakukan. Ia yakin jika wawasan kebangsaan masyarakat Indonesia lebih kuat, paham radikalisme dan terorisme tidak akan bisa masuk ke Bumi Nusantara.

Namun, perlu dipahami kalau pendidikan kebinekaan ini tidak hanya perlu diajarkan dari lingkungan sekolah saja, namun  termasuk lingkungan terdekat seperti lingkungan keluarga. Seperti yang disampaikan Nur Berlian, bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi sekolah dalam penerapan pendidikan kebinekaan.

Apa saja?

1) Sikap sebagian siswa yang kurang mendukung seperti memilih teman yang seagama atau seetnis dan memilih pemimpin yang seagama atau seetnis.

2) Kurangnya pemahaman siswa tentang wawasan kebangsaan

3) Faktor keluarga yang masih kuat ikatan primordialnya;

4) Adanya pemahaman agama yang sempit (eksklusif) sehingga berpotensi menimbulkan konflik di masyarakat.

5) Kepala sekolah dan guru sulit memantau kegiatan siswa di luar sekolah yang berpotensi membawa paham-paham radikal, seperti: pengaruh media sosial, dan  informasi yang menyesatkan.

Mengetahui fakta dan kondisi seperti ini saya semakin yakin, bahwa sebenarnya tugas kitalah, para orangtua untuk memberikan pemahaman dan pendidikan yang baik mengenai kebinekaan. Sudahkan kita melakukannya?

 

 

 


Post Comment