Ajak Anak Tetap Ber-Bhineka Tunggal Ika Dalam Pertemanan

Semakin sering saya dengar anak-anak sekarang memilih teman dengan bertanya terlebih dahulu apa agama temannya itu? Pertanyaan saya, kenapa harus seperti itu?

Belakangan, sejak isu agama makin memborbardir di tengah masyarakat kita (I blamed people who use this issue for politic by the way. Efeknya jadi kemana-mana) sering sekarang saya dengar, kalangan anak-anak sekolah dasar juga mulai mempermasalahkan agama saat bergaul dan berteman.

Miris juga, ketika seorang anak tetangga menangis pulang, mengadu pada ibunya karena takut masuk neraka. Tentu saja tetangga saya kaget, kok, bisa dia yakin masuk neraka? “Iya, soalnya aku’begini’ (sambil menyebut kata ganti orang yang memeluk agama berbeda) bu. Kata si Wawa (bukan nama sebenarnya), aku pasti masuk neraka. Kita semua masuk neraka,” terangnya sambil lanjut histeris. Anak ini masih kelas 4 SD, padahal. Sudah ‘diancam’ nggak bakalan masuk surga. Sementara buat saya, sih, urusan surga dan neraka itu hak prerogatif Yang Maha Kuasa.

Jelas hal ini membuat saya dan beberapa teman menjadi prihatin. Teringat masa-masa kecil kami dulu, yang lepas dari kegaduhan seperti sekarang ini. Mau Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, semua berteman tanpa pernah sekali pun menyinggung agama masing-masing. Kalaupun kami memilih dalam berteman biasanya dipengaruhi oleh tingkat kejagoan seseorang dalam bermain kasti, lompat karet, hingga galasin, hahaha…

Keadaan ini tentu saja tak bisa dibiarkan. Paling penting menurut saya, selain di sekolah, ajaran tentang keberagaman itu sendiri juga harus dimulai dari rumah.

Ajak Anak Tetap Berbhinneka Dalam Pertemanan - Mommies Daily

Mempelajari baik-baik agama masing-masing

Buat saya yang beragama muslim, tentu pedoman kami dalam hidup adalah Al Qur’an. Dan sudah banyaklah, ya, nggak perlu saya jabarkan di sini ayat-ayat yang mengajarkan untuk mencintai sesama makhluk ciptaan Allah. Bahwa agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku, bukanlah sekadar semboyan belaka. Kisah-kisah bahwa Rasul pun tetap menghormati dan mencintai non muslim juga banyak, sehingga saya pun tetap berpegang teguh pada itu. Saya yakin, di agama lain pun begitu. Yang diajarkan adalah kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup. Kalau kebenaran itu yang kita ajarkan pada anak-anak, saya yakin nggak akan ada komentar-komentar SARA maupun memilih-milih teman berdasarkan persamaan golongan, saat anak-anak kita bergaul.

Menjadi contoh nyata

Anak-anak adalah peniru ulung. Terutama meniru orangtuanya. Percuma kalau kita cuma bicara soal kebhinekaan di mulut saja, tanpa mencontohkan perilaku yang sama. Di depan anak kita, kita masih saja berkomentar SARA, memaki yang kulit warnanya berbeda. Sebisa mungkin hindari melabeli orang berdasarkan suku, agama, dan rasnya. Walaupun konteksnya bercanda, contohnya, nih, ketika kita bercanda dengan teman yang sedang enggan mengeluarkan uang, lalu refleks kita berucap, “Dasar, Padang pelit!” Ngertilah, ya, kalimat-kalimat sejenis. Ingat saja, betapa otak anak yang seperti spons, mampu menyerap dengan cepat apa yang terjadi di sekelilingnya.

Melakukan perjalanan memperkaya pengalaman

Jika ada dana lebih, ajak anak-anak memperkaya pengalaman dengan berjalan-jalan ke belahan bumi Indonesia lain. Bila perlu dari sabang sampai merauke. Ajak anak melihat, bahwa ia dan golongannya tidak sendirian. Masih banyak golongan-golongan lain yang jauh berbeda dengan dirinya. Berbeda dari cara berpakaian, cara berbicara, hingga cara berdoa. Seorang teman bahkan lebih memilih untuk menabung demi mengajak anaknya traveling hingga luar negeri, daripada memilih sekolah swasta. Menurutnya dengan mengajak anak traveling, dia juga bisa belajar banyak hal.

Tak ada dana untuk jalan-jalan ke luar kota? Well, di dalam kota juga bisa, lho. Mengunjungi museum, melihat-lihat dari luar rumah ibadah agama lain, atau bahkan mengajaknya menonton film tentang keberagaman adalah salah satu cara memperkaya pengalaman anak. Siapa yang setuju sama saya?

Buat saya pribadi, melihat kondisi sekarang, sudah bukan waktunya lagi untuk diam dan apatis. Merasa bahwa ini bukan urusan kita, hanya akan menciptakan lingkungan yang semakin terkotak-kotakkan ke depannya.

Mau kalau si kecil hanya akan mengenal satu golongan saja sepanjang hidupnya? Saya sih nggak mau .


Post Comment