Yang Saya Pelajari Saat Menemani Anak di ICU

Parenting & Kids

adiesty・22 Jun 2016

detail-thumb

"Bapak.... Ibu.... tolong sakit banget." Air mata saya dan suami tidak bisa tertahan lagi dan langsung mengalir seperti air bah ketika mendengar teriakan Bumi, anak kami di ruang ICU.

Dalam hidup, memang selalu ada pengalaman pertama untuk segalanya, termasuk pengalaman menemani anak sakit dan masuk ruang ICU. Ada yang pernah merasakan peristiwa serupa? Kalau memang belum, mudah-mudah tidak perlu mengalaminya, ya, Mommies. Amiin...

Bulan lalu, tidak lama setelah ulang tahun yang ke-6, Bumi mengalami kejadian yang mengerikan buat kami sekeluarga :( Bayangkan saja, dua cobaan datang beruntun ketika ia dinyatakan usus buntu dan harus operasi dan tiga hari kemudian dipastikan demam berdarah.

menemai anak masuk ruang ICU

Penyakit combo inilah yang akhirnya membuat Bumi harus masuk ICU. Ketika daya tahan tubuhnya masih terbilang rendah setelah operasi usus buntu, ia kemudian langsung 'dihantam' dengan DBD hingga ia mengalami shock. Memang, 3 hari pasca operasi, Bumi masih saja mengalami demam. Sementara, obat penurun panas rasanya tidak berfungsi lagi.

Padahal menurut dr. Rusmala Deviani Zen, SpA, dokter anak yang menangani Bumi saat itu, normalnya setelah operasi usus buntu anak tidak perlu mengalami demam lagi. Apalagi kalau dilihat hasil jahitannya sangat bagus, dan tidak ada indikasi kebocoran. "Mama, ini kami curiga ada  penyakit lain. Kalau hanya usus buntu, Bumi seharusnya sudah tidak demam lagi. Untuk memastikannya kita cek darah lagi saja, ya. Saya, kok, curiga Bumi DBD," begitu katanya.

Benar saja, hasil tes darah menunjukan bahwa Bumi positif terkena DBD. Dan keesokan harinya, trombostit Bumi langsung drop.  "Mama... ini Bumi sudah shock, untuk memantaunya lebih intens lebih baik Bumi masuk ke ruangan ICU saja, ya". Saya langsung lemas, begitu mendengar penjelasan dr. Rusmala.  Kondisi shock ini memang ditandai dengan demam disertai dengan ngigau. Iya, setiap malam saat badannya demam, Bumi selalu ‘meracau’, ngomongin segala dengan cara random. Tiba-tiba, dia bertanya sedang ada di mana, minta pindah dan tidur  ke kamarnya karena nggak betah, memanggil kakak sepupu dan teman-teman dekatnya, hingga tertawa seakan sedang melihat film kartun favoritnya. Selain itu, kondisi jari tangan dan kaki Bumi juga sangat dingin.

Menurut dokter Rosmala, hal tersebut mengindikasikan Bumi sudah masuk tahap shock. Saya jadi ingat,  orang yang mengalami DBD berulang, biasanya virus yang memang ke-2 kali memang akan lebih ‘serius’. Soalnya ketika seseorang sudah terjangkit salah satu tipe, maka setelah pulih, tubuh sudah membentuk kekebalan seumur hidup terhadap tipe tersebut. Namun bukan berarti jadi aman dari DBD karena masih berpotensi menderita sakit DBD kembali oleh tipe yang berbeda. Dan ini memang pengalaman ke-2 kali Bumi sakit DBD.

Singkat cerita, akhirnya Bumi pun masuk ruang ICU selama 3 hari. Entah berapa kali saya melihat tubuh anak saya ini ditusuk oleh jarum untuk diambil darahnya, termasuk harus menggunakan kateter agar cairan yang keluar dari tubuhnya bisa dihitung secara akurat.

Ternyata menemani anak sakit di ruang ICU memang butuh kekuatan mental dan fisik. Puluhan  pesan masuk ke kuping dan saya baca lewat chatting, mengingatkan saya dan suami untuk terus menjaga kesehatan supaya nggak drop. Paling tidak, dari sini saya bisa belajar beberapa hal.

Terus terang saja, begitu mendengar dokter menyarankan Bumi masuk ruang Intensive Care Unit (ICU) , paradigma yang masih ada di pikiran saya adalah pasien yang  mendapat perawatan intensif di sini adalah pasien yang sudah kiritis, yang terlintas di benak kebanyakan adalah kondisi si pasien yang sudah parah. Ujung-ujungnya saya pun jadi lebih khawatir. Ternyata pemikiran ini memang harus diubah. Karena sebenarnya pasien yang masuk ruang ICU masih punya harapan hidup, kok.  Bukan pasien yang kritis dan tidak punya harapan hidup. Dengan masuk ICU, anak justru akan mendapat terapi intensif dan pemantauan dari dokter secara ketat.

Selain itu, dukungan keluarga terdekat khususnya suami, termasuk sahabat memang punya peran yang sangat penting. Nggak kebayang bagaimana rasanya kalau tidak ada support dari mereka. Merekalah orang-orang yang terus mengingatkan saya tetap kuat, untuk tetap menjaga kondisi fisik agar tetap sehat. “Jangan lupa istirahat, lho, Dis.... makannya juga diatur jangan sampai ikutan sakit”. Dukungan dari orang-orang terdekat ini punya nilai yang sangat besar.

Selanjutnya ketika menemani anak sakit, percayalah, kalau kita memang sebaiknya ‘tutup mata’ dengan pasien yang sedang dirawat di ruang ICU. Nggak perlulah basa-basa menanyakan atau ngobrol panjang lebar dengan keluarga pasien ICU lainnya. Apalagi sampai memerhatikan atau melihat secara detail. Kemarin  saat Bumi dirawat di ruang ICU sebenarnya juga ada anak yang seusia Bumi yang mengalami sakit DBD. Hanya saja, kondisi yang sudah mengalami pendarahan. Waktu itu saya sok gagah berani melihat kondisi anak tersebut. Hasilnya? Saya malah jadi parno! Jadi nggak perlu dululah memerhatikan ini itu, fokus saja pada anak lebih dulu.

Intinya, sih, waktu itu saya benar-benar belajar untuk berpikir positif. Kondisi saya yang sedang PMS dan sering kali bikin mood jadi nge-drop, benar-benar harus dilawan. Sesuai dengan campaign Female Daily Network tahun ini, saya belajar mengubah PMS ini menjadi Powerful Message to Self. Mencari cara untuk mengirimkan pesan-pesan yang positif ke diri kita sendiri dan menularkannya ke anak. Buat Mommies yang belum ikutan campaign ini, yuk, bergabung. Paling nggak kita bisa sama-sama belajar dan melatih anak untuk bisa punya pikiran yang postitif.

Buat Mommies yang punya pengalaman menemani anaknya masuk ruang ICU, ingin nenambahkan tips lainnya? Tapi... mudah-mudahan saja pengalaman saya ini nggak perli dirasakan Mommies yang lain ya. Di bulan yang baik ini, mari sama-sama berdoa agar anak-anak dan keluarga kita selalu dilindungi dan diberikan kesehatan. Amiin...