Takut Pelecehan atau Bullying Terjadi Pada Anak Anda? Ini Caranya Bertanya!

Parenting & Kids

kirana21・01 Apr 2015

detail-thumb
Jangan panik dulu lantas bertanya yang menjurus. Biarkan anak bercerita memakai bahasanya sendiri. Makin sedikit kita intervensi, ceritanya makin akurat.

 

Kalau ada kasus yang melibatkan anak-anak, entah itu pelecehan atau bullying, saya jadi ekstra komunikatif sama anak. Sambil memantau perkembangan kasus, saya akan menanyakan poin-poin yang saya dapat dari berita kasusnya ke anak.

Misalnya, nih, saat ramai kasus pelecehan, saya akan bertanya:

  • Bagaimana cara guru menangani anak TK atau kelas 1-2 SD kalau mau pipis atau BAB dan belum bisa membersihkan sendiri?
  • Siapa yang mengantar anak ke kamar mandi? Guru atau ada personel sekolah yang lain?
  • Pintu kamar mandi bisa dikunci/kuncinya rusak, nggak?
  • Atau saat merebak kasus bullying, pertanyaan saya:

  • Pernah dinakali teman/kakak kelas/adik kelas, nggak, baik fisik maupun verbal?
  • Pernah liat ada yang dinakali di sekolah?
  • Kalau pernah dinakali, oleh satu anak atau sekelompok?
  • Si anak pengganggu, nakalnya sama satu anak saja (single target) atau banyak?
  • Yang jadi PR, saat kita bertanya-tanya pada anak, jawabannya kadang cuma; ya, nggak, lupa, nggak tahu, dan semacamnya. Otomatis pertanyaan kita jadi lebih detil, dengan harapan memudahkan anak menjawab (baca: kita mendapatkan jawaban). Misalnya seperti percakapan berikut:

    intv1

    Nah, menurut Kamala London, PhD, seorang psikolog forensik dari Universitas Toledo, Ohio, yang menjadi nara sumber diskusi tentang "False Memory pada Anak," ternyata cara bertanya yang menjurus atau mengarahkan seperti ini (suggestive question) nggak boleh.

    Dalam proses wawancara investigasi forensik, cara ini bisa membuat kesaksian anak menjadi meleset. Yang sebetulnya 'nggak' bisa menjadi 'ya' karena anak terdesak oleh investigator. Apalagi saat investigator menekankan bahwa anak yang jawabannya 'salah' (baca: tidak memberikan jawaban sesuai keinginan penanya), lalu anak dilabel ingatannya tidak sebaik temannya.

    Bahkan pada kondisi tertentu ketika anak harus menghadapi berbagai sesi wawancara terpisah dan berturut-turut, pada wawancara kesekian anak bisa memberi kesaksian detil peristiwa yang sebenarnya tidak pernah dia alami.

    Dalam kondisi tersebut, kelak ketika anak menarik atau membantah kesaksiannya, penyidik akan menganggap anak takut sehingga bantahan yang belakangan justru diabaikan. Akibatnya, kesaksian yang salah bisa menyeret tersangka yang salah pula.

    Bagaimana anak bisa mengubah cerita?

    Di usia sekitar empat tahun, anak sudah bisa memberikan laporan kejadian dengan tepat menggunakan kata-katanya sendiri, asal wawancara dilakukan dengan tepat pula. Tidak masalah meski kejadiannya sudah lewat beberapa waktu ataupun baru terjadi, early interviews biasanya yang paling sesuai dengan kenyataan.

    Dari percobaan iseng yang dilakukan Kamala pada anaknya saat berusia empat tahun, pada dasarnya anak-anak punya kecenderungan untuk memberi jawaban, bahkan atas sesuatu yang dia tidak tahu. Ketika ditanya kira-kira apa warna awan di kota X yang si anak tidak pernah kesana, walau ragu anak menjawab,"Maybe orange?" ketimbang "I don't know" atau "I'm not sure." Kecenderungan inilah salah satu yang membuat anak akan selalu memberi jawaban pada wawancara, seberapapun absurdnya jawaban itu.

    Bayangkan apabila sesi wawancaranya seperti ini:

    intv2

    Lalu dalam kasus seperti sodomi si penanya menyelipkan detil seperti:

  • Apakah anusmu disentuh?
  • Apakah ada yang memasukkan sesuatu ke anusmu?
  • Apakah si X (tersangka) menunjukkan penisnya padamu?
  • dst.
  • Terms yang tadinya dimaksudkan sebagai detil wawancara, karena disebut berulang dalam berbagai wawancara terpisah, akan membentuk profil kejadian detil dan lengkap di otak anak, bahkan ketika si anak sama sekali nggak pernah mengalami kejadian tersebut dan tadinya sama sekali nggak tahu sodomi itu apa.

    Jangankan pertanyaan yang mendetil, mengubah sedikit kata yang dipakai dalam wawancara sudah mengubah persepsi penjawab, baik anak maupun dewasa, seperti gambar berikut ini.

    intv3

    Jadi, bagaimana seharusnya kita menggali informasi dari anak?

    Poin terpenting adalah biarkan anak bercerita memakai bahasanya sendiri. Makin sedikit kita intervensi, ceritanya makin akurat walau kadang secara kronologis masih terbalik-balik pada anak usia TK.

    Untuk anak yang lebih besar, memang mulai sulit mengajak ngobrol apalagi seringnya saat mereka ingin cerita seru kitanya sibuk, dan pas kita sela, mereka sudah asyik tenggelam baca buku atau kegiatan lain. Kiat dari Kamala yang juga punya anak remaja usia 11 tahun tetap sama, sih:

  • Hindari pertanyaan sugestif.
  • Hindari pertanyaan yang cukup dijawab ya atau tidak.
  • Gunakan open-ended questions yang membuat anak harus menjawab lebih panjang ketimbang ya dan tidak saja.
  • Detilkan pertanyaan. Pakai kalimat,"Tadi waktu istirahat/di kelas/pelajaran olahraga ada cerita apa?" ketimbang,"Tadi di sekolah ngapain?"
  • Yang perlu kita ingat juga, jangan mudah panik mendengar cerita atau istilah anak. Biasakan mendengar dulu sebelum komentar. Istilah yang digunakan anak belum tentu sama artinya dengan persepsi kita. Kadang kita suka keburu parno saat dengar cerita anak. Terus jadi heboh nanya macam-macam, lupa kalau nggak boleh suggestive questioning.

    Kepo atau waspada pada anak-anak itu penting, supaya kita selalu dapat update apa yang terjadi sehari-hari di sekolah atau di luar rumah. Tapi jangan salah bertanya, ya, Mommies. Salah-salah malah bikin anak malas menjawab pertanyaan kita lain kali.

    *gambar semua dari presentasi dan paper Kamala London, PhD.