banner-detik
PARENTING & KIDS

The Perks On Having 1 Child :)

author

nenglita11 Sep 2014

The Perks On Having 1 Child :)

bertiga

Sebelum membaca keseluruhan artikel ini, saya peringatkan ya, bahwa akan ada banyak subyektivitas di sini :D

Sampai saat ini, saya hanya punya 1 anak. Banyak yang nanyain, sih, “Nggak mau nambah anak?”, atau “Keburu keenakan tuh, anaknya udah gede, ntar malah males nambah anak”. Apalagi, banyak juga yang bilang, anak tunggal itu calonnnya manja, nggak mandiri, mau menang sendiri, keras kepala dan seterusnya. Walaupun kalau baca artikel yang ditulis Riska ini, dan kebetulan saya punya banyak teman yang anak tunggal, rasanya nggak sepenuhnya tepat, deh.

Selama 6,5 tahun jadi ibu dengan satu anak, ada beberapa keuntungan yang saya rasakan:

  • Saya punya waktu one on one bersama anak saya
  • Saya pernah mengungkapkan ke Kirana yang punya anak 4 (!), bahwa saya takut nggak bisa membagi rasa sayang saya kalau saya punya anak lagi. Kirana bilang kira-kira begini, “Cinta elo ke anak lo nggak bakal berkurang kalau elo punya anak lagi, malah cinta di hati lo bakal nambah seiring dengan bertambahnya anak lo”. Hum, mungkin ada benarnya, ya?

    Tapi untuk saat ini, saya menikmati waktu saya berdua saja dengan Langit tanpa ada pihak lain yang menginterupsi (kecuali bapaknya).

  • Saya punya banyak waktu untuk diri sendiri
  • Ini pastinya egois. Tapi buat saya, walaupun sudah menjadi seorang ibu, saya harus tetap memiliki waktu untuk diri sendiri. Setelah jadi ibu, lebih dari 50% waktu dan pikiran saya adalah untuk keluarga. Sisanya dibagi antara pekerjaan dan diri sendiri.

    Belum bisa kebayang di benak saya situasi ideal jika saya punya anak lebih dari satu. Saat yang satu tidur, saya harus menemani yang lain, misalnya. Ini berarti, waktu untuk diri saya sendiri akan berkurang, kan? Bukannya saya nggak suka jadi ibu, jadi ibu merupakan salah satu fase kehidupan saya yang amazing banget. Tapi bukan berarti dunia kebahagiaan saya harus berpusat di situ, kan?

  • Anak saya tau bagaimana bermain sendiri
  • Banyak yang ngebayangin jadi anak tunggal kesepian, lekas bosan, sulit beradaptasi dengan orang lain, dst, karena ia nggak punya teman bermain. Kalau yang saya lihat dari anak saya, nih, dia malah sering menemukan cara untuk asyik main sendiri. Memang sih, ia bakal girang bukan kepalang kalau ada teman bermainnya, siapa sih yang tidak?

    Masalah sulit beradaptasi, justru kebalikannya. Saya malah melihat Langit jadi anak yang mudah beradaptasi dengan anak lain atau situasi baru, mungkin karena terbiasa berganti teman main, ya?

    Selanjutnya: Setiap anak, ada rezekinya :)

    IMG_6943

  • Easier on my wallet :D
  • Dengan segala macam biaya yang semakin tinggi belakangan ini, punya satu anak, saya bisa fokus untuk mengatur pengeluaran dan dana pendidikannya. Nggak percaya kalau dana pendidikan itu tinggi? Di artikel ini, dijelaskan bahwa di Jakarta, inflasi dana pendidikan rata-rata adalah 20% *cegluk*

    Kata orang, setiap anak ada rezekinya, betul sekali. Tapi bagi saya, rezeki yang diberikan oleh Tuhan harus tetap diatur, kan? Nah, bagi saya yang kurang disiplin apalagi untuk masalah keuangan, menyesuaikan diri mengatur keuangan untuk 1 anak saja sudah cukup sulit, apalagi lebih? Lagipula, saya nggak mau berdebat masalah rezeki yang diberikan oleh Tuhan, namanya manusia, berapa besar penghasilan, pasti akan berasa kurang saja, kan? Makanya ada koruptor :D

    Intinya, dengan memiliki satu anak, saya lebih bisa fokus untuk urusan pengaturan dana untuknya plus punya luxury untuk menikmati selebihnya.

  • Saya dan (semoga) Langit, baik-baik saja
  • “Kasihan nggak ada temannya”, “Nanti kalau dewasa, dia nggak ada teman sharing”, dan seterusnya, dan sebagainya. Jangan berasumsi dulu, ah.

    Saya sering mengajukan pertanyaan ke Langit, mau nggak punya adik?. Jawabnya, “Nggak mau, maunya punya kakak”. Haha. Padahal sudah saya ceritakan lho, serunya punya adik itu apa (walaupun saya juga nggak bisa menceritakan secara persis, secara saya anak bungsu, jadi nggak ada pengalaman punya adik kan?). Mungkin beberapa tahun lagi, akan saya laporkan ya, apakah ia tetap mau punya kakak atau berubah ingin punya adik :D

    Sementara saya sendiri, kalau teman-teman sering komentar “Duh, jadi kangen ya, punya bayi lagi”, saat melihat teman baru melahirkan, entah kenapa, saya tak pernah merasakan hal itu. Saya baik-baik saja dengan Langit. Saya tak merasa ada yang kurang dalam hidup saya. I'm happy with who I am. Dan semoga dengan menjadi ibu yang bahagia, Langit juga tumbuh jadi anak yang bahagia. Amin.

    Lalu apa pendapat suami saya? Sesungguhnya, dia yang kebetulan berasal dari keluarga besar, ingin punya anak lagi. Tapi sejauh ini, dia paham alasan saya belum mau menambah anak dan menyerahkan perkara nambah anak ini ke saya. Bagaimana dengan Mommies, ada yang mau menambah daftar di atas atau bahkan menyanggahnya? Silakan lho. Tapi mohon dicatat ya, saya nggak bilang punya anak 1 lebih baik daripada lebih dari 1. Malah saya salut sekali dengan Mommies yang memutuskan untuk punya anak banyak. Serius! :)

    PAGES:

    Share Article

    author

    nenglita

    Rock n Roll Mommy


    COMMENTS