Berkenalan dengan Gentle Birth

Labor & Delivery

dwiranch・13 Aug 2014

detail-thumb

Gentle-Birth

Sejak dinyatakan hamil, saya menjadi sangat tertarik pada artikel dan buku yang terkait dengan kehamilan. Mungkin sangat wajar ya, kalau para moms-to-be, terutama untuk kehamilan pertama, menjadi ingin tahu lebih banyak mengenai apa yang terjadi pada dirinya dan juga kandungannya. Pada kehamilan saya yang memasuki bulan ke-4, saya mulai berkenalan dengan gentle birth.

Awalnya, saya tertarik pada metode water birth saja, karena ada iming-iming mengurangi rasa sakit. Jujur, saya takut dengan rasa sakit yang dirasakan saat melahirkan, dan tidak ingin untuk menjalani operasi caesar. Sehingga, begitu mengetahui ada metode ini, saya merasa ini solusi terbaik. Tapi, muncul masalah baru: pertama, karena metode ini belum digunakan di banyak RS. Kedua, karena di RS langganan saya sudah tidak melayani water birth. Dan ketiga, karena melahirkan dengan water birth lebih mahal dibandingkan melahirkan normal! Haha...

Sampai dengan pada akhirnya saya berkenalan dengan teman kakak saya yang menjadi Doula, namanya Mbak Hanita. Saat ini ia sedang berada di Amerika, sehingga tidak bisa membantu pendampingan selama hamil hingga melahirkan nanti. Tapi, ia memberikan rekomendasi nama dokter dan bidan yang bisa membantu melahirkan dengan gentle birth serta referensi sumber bacaan yang bisa saya gunakan. Setelah itu, saya jadi lebih rajin membaca dan mencari tahu tentang gentle birth ini.

Ternyata, tidak hanya water birth - itu hanya salah satu metodenya saja. Tapi, gentle birth adalah prinsip yang bagi saya membuat tenang, karena menekankan bahwa proses kelahiran bayi ke dunia adalah proses yang alami dan seharusnya menjadi pengalaman yang indah bagi ibu dan bayi, serta minim trauma. Alami di sini bukan berarti harus normal dan dilakukan di rumah, lho. Melahirkan di RS dengan bantuan dokter, atau bahkan melalui intervensi medis juga bisa tetap menggunakan prinsip ini. Asalkan kita tetap menghadapi dengan tenang. Toh, dalam ibu yang tenang akan ada bayi yang tenang juga.

Proses gentle birth yang terkenal tentu saja yang dialami Dewi Lestari ketika melahirkan anak keduanya. Tapi, ternyata setelah saya cari tahu, banyak sekali kisah indah mengenai proses melahirkan dengan gentle birth ini, dan tentunya membuat saya makin ingin melahirkan dengan gentle pula. Sayangnya, di Jakarta memang masih belum banyak tenaga kesehatan yang mendalami prinsip ini. Kalaupun ada, belum sepenuhnya menyebarluaskan pada khalayak ramai.

Saya sendiri saat ini sedang menjajaki kemungkinan melahirkan dengan bantuan seorang bidan yang sangat menerapkan prinsip gentle birth dan juga bisa membantu proses water birth (beliau sudah bersertifikat IWBA). Kalau semua lancar dan saya diyakini bisa melahirkan normal, maka saya akan membulatkan tekad untuk melahirkan di rumah. Pilihan ini tentu ada pro dan kontra, serta menghasilkan berbagai komentar dari orang-orang yang saya kenal. Tapi, kembali lagi pada prinsip gentle birth yang mendorong calon ibu untuk membuat semua yang dialami menjadi nyaman, maka saat ini saya masih merasa pilihan ini yang paling nyaman di hati.

Jadi, apakah saya masih takut sakit melahirkan? Masih ada, sedikit. Tapi lama-kelamaan berkurang dan semakin yakin melahirkan adalah proses yang indah.