Asyiknya Melahirkan Dengan Cara Waterbirth

Sebenernya pilihan untuk melahirkan waterbirth itu sama sekali tidak terlintas di antara saya dan suami. Karena kami mikirnya, “Jangan-jangan itu mahal” atau paling minimal tidak berbeda jauhlah dengan proses kelahiran sectio. Padahal dokter kandunganku udah nyaranin melahirkan dengan waterbirth saja.  Dari jauh-jauh hari dr. Hariyasa Sanjaya, yang merupakan salah satu dokter ahli kandungan waterbirth di Bali, mengingatkan bahwa kehamilanku termasuk yang tidak bermasalah dan anak selalu berada di posisi yang normal di dalam kandungan.

Tapi namanya juga newmom, ya, saya takut nanti anaknya kehabisan napas kalau baru lahir eh, tiba-tiba nyemplung ke air. Hehehe alasannya bodoh banget yaa…. Nah, menurut dr. Hariyasa, bayi di dalam kandungan kan memang hidup di tengah-tengah air yaitu air ketuban jadi justru mereka tidak kagok kalau pas lahir nanti langsung kena air. Sudah dijelaskan panjang lebar pun tapi saya dan suami tetap takut dengan waterbirth. Mendingan melahirkan secara normal saja, deh, yang pasti lebih murah dan orangtua kita juga kan dulunya melahirkan kita secara normal biasa saja, jadi intinya sebenarnya saya sama suami itu masih takut untuk mencoba hal-hal yang baru (apalagi kalau mahal :p)

Nah, sampai pada suatu pagi 6 bulan yang lalu, saya mules-mules dan ketuban pecah yang artinya bayinya sudah mau keluar melihat dunia, saya ke rumah sakit bersalin diantar suami dan mertua. Pas lagi terbaring di UGD, suster bertanya mau melahirkan secara apa: normal, sectio, atau waterbirth? Karena sudah lama merencanakan cukup melahirkan dengan normal akhirnya saya dengan PD-nya jawab melahirkan secara normal,.

Tapi tiba-tiba suami datang dari ruang administrasi rumah sakit dan bertanya kembali apakah saya mau melahirkan waterbirth. Ia pun menunjukkan daftar biaya persalinan dan ternyata harga proses waterbirth itu ternyata tidak semahal yang kami sangka yaitu sekitar 6 juta (kurang malahan) termasuk biaya rawat inap 2 hari 1 malam, dokter kandungan, dokter anak, obat, biaya suster & perawat, dll di RSB. Harapan Bunda, Renon – Denpasar, Bali. Pokoknya komplet, deh, semuanya! Langsung semangat ambil keputusan mau waterbirth saja padahal sama sekali tidak ada bayangan dan persiapan.

Sekitar pukul 16.00 saya sudah mules-mules hebat, lalu disuruh masuk ke ruang khusus waterbirth. Ketika saya masuk ke dalam kolam, tiba-tiba rasa sakitnya mendadak berkurang drastis, lho. Mungkin karena pengaruh airnya yang hangat. Suasana ruang waterbirth-nya juga dibikin senyaman mungkin. Lampunya redup dan dikasih lilin-lilin, ada juga aromatheraphy yang wanginya lembut, air di bak melahirkannya pun ditaburi bunga warna-warni, dan ditemani alunan musik jazz pula. Pokoknya terasa rileks gitu suasananya. Kebetulan proses melahirkan saya tergolong yang lumayan cepat. Saya hanya dua kali mengejan sudah brojol saja bayinya.

Saya sendiri masih takut lihat anak pertama saya lahir jadi ketika mengejan pun sambil memejamkan mata. Alhamdulillah pas melahirkan itu rasanya tidak sakit. Sumpah, deh. Mungkin ini, ya, kelebihan dari waterbirth yaitu rasa sakit ketika melahirkan itu jauh berkurang dibanding melahirkan normal biasa. Dan saya juga sempat lihat ke air di bak bekas saya melahirkan tadi. Airnya bercampur darah tapi warnanya menunjukkan kalau darah tidak banyak yang keluar. Suami juga bilang kalau darah yang keluar memang sedikit.

Dan yang bikin terharu adalah ketika anakku lahir ke dunia, tim penolong persalinan yaitu dokter kandungan, dokter anak, suster, perawat, petugas pengontrol air waterbirth spontan menyanyikan lagu Happy Birthday to You buat anak saya. Merinding dengarnya, bahagia terharu dan sedih karena saya melahirkan hanya didampingi suami sedangkan orangtua saya belum datang dari Jakarta, semuanya bercampur aduk. Tapi saya bahagia sekali karena anak saya lahir ke dunia ini dengan selamat melalui proses yang mengagumkan juga. Walaupun tidak ada dokumentasi seperti foto atau video yang merekam proses persalinan saya itu tapi semua adegan kelahiran anak kami, Diandra Swari Nararya Regandhi, tersebut terekam dengan baik di memori saya dan suami.

Sejak itu saya bertekad untuk persalinan anak kedua nanti pasti pilih persalinan waterbirth saja, deh. Enak, cepat, dan tidak sakit pokoknya highly recommended lah!


25 Comments - Write a Comment

  1. Hi juga mbak GrcYrn,
    aku ga tau klo waterbirth di ubud biaya nya berapaan. maaf yaa ga bisa membantu :p palingan lebih mahal ga siih secara mereka juga ngejual susana dan view hihihi
    Njelembret itu artinya pipi nya kepencet gitu deeh :D

  2. gw kayanya batal waterbirth gara2 dokterku dgn santainya bilang: ngapain waterbirth? anak pertama kok, uda normal aja
    gw jawab; takut sakit dok… trus bales dokternya: sakit sih pasti ada, nanti pake alat pernapasan aja…
    hikkssss…. padahal tuh dokter empunya rumah sakit pertama yg pake metode WB. kok malah ogah nangani sihhh…

Post Comment