Bermain, Bagian Dari Periode Emas Si Kecil

Etc

adiesty・05 Mar 2014

detail-thumb

Nggak bisa dipungkiri, ya, kalau selama ini banyak orangtua yang sering fokus  dan mengutamakan untuk memberikan nutrisi atau pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Nggak salah, sih, tapi sayangnya jadi ada hal yang sering dilupakan karena dianggap begitu sepele. Hal yang saya maksudkan di sini adalah bermain.

Kondisi ini saya ketahui ketika mengikuti acara “PlayLab Goes to School” dari Fisher Price di Sekolah Cikal belum lama ini. Ternyata masih banyak sekali masyarakat di Indonesia yang tidak sadar kalau bermain merupakan stimulasi utama di 500 hari pertama.

Waktu itu Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psikolog perkembangan anak dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia menjelaskan, “Periode emas, atau 500 hari pertama merupakan masa di mana proses belajar anak berlangsung paling cepat. Anak belajar dan menyerap banyak hal dari lingkungan sekitarnya serta mengembangkan kemampuan sesuai tahapan usianya melalui aktivitas keseharian, yaitu bermain.”

Sebelumnya, saya juga sudah sempat ngobrol banyak dengan Mbak Vera perihal pentingnya bermain untuk anak-anak dalam artikel ini. Waktu itu, Mbak Vera menjelaskan kalau banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan lewat bermain. Kecerdasan intelektual, koginitif, language, emosional sosial, anak-anak semua bisa dikembangkan lewat bermain. Yang terpenting, bermainnya juga disesuaikan dengan usia anak dan bervariasi.

“Selain menyenangkan, manfaat bermain bagi anak sangat luas. Lewat bermain, anak bisa dapat menerima stimulasi yang berguna untuk mengembangkan kemampuan yang diperlukannya di masa dewasa kelak. Melalui bermain bersama anak, orangtua juga berkesempatan mempererat hubungan dengan anak sekaligus dapat meningkatkan kualitas bermain dengan cara memberikan stimulasi yang tepat sesuai dengan usia anak. Orangtua juga dapat memantau perkembangan Play IQ anak dan memastikan anak-anak tidak melewatkan kesempatan untuk memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan tahapan usia anak,” paparnya.

Kondisi inilah yang akhirnya menggerakan Fisher Price untuk melakukan PlayLab Goes To School. Upaya ini dilakukan untuk mengingatkan kita kembali, para orangtua untuk tidak melupakan betapa pentingnya bermain untuk anak-anak. Jangan sampai masih usia balita sudah dijejali dengan les ini itu. Apalagi kalau sampai menuntut anak usia dini untuk bisa calistung. Mengenalkan tentu saja boleh, tapi tentu caranya juga harus yang fun.

Konsep play based learning inilah yang ingin ditekankan lewat PlayLab Goes To School dari Fisher-Price. Harapannya, anak-anak bisa mengembangkan keterampilan yang diperlukan di masa depan.

Saya jadi mencoba mengingat, apakah sudah cukup menghabiskan waktu bersama Bumi untuk bermain-main? Walaupun mungkin setiap hari saya nggak bisa terlalu lama bermain dengannya, tapi setidaknya setiap pagi saya sudah berkomitmen untuk menyediakan waktu berkualitas bersama Bumi selama satu jam. Pun saat pulang kerja. Seletih apapun kondisinya, saya juga berusaha untuk melakukan sesi curhat dan mendongeng. Di akhir pekan, saya pun sering mengajak Bumi untuk melakukan outdoor activities.

Saya percaya, dengan waktu berkualitas yang mulai saya pupuk merupakan bagian dari investasi. Dan inventasi itu memang harus diada-adain. Bahkan kalau perlu dipaksa untuk ada. Bukan sisa-sisaan, hihihi. Jadi, sebaiknya nggak boleh, tuh, ya ada pikiran, “Ya, udah deh, main-main sama anaknya kalau sempat saja.” Toh, sebenarnya waktu berkualitas dengan keluarga 15 menit saja sudah cukup, kok. Lagipula, kalau dipikir-pikir, masa bermain dengan anak itu kan hanya sebentar, ya... Bahkan, ketika anak sudah mulai masuk SD, mereka sudah asik dengan dunianya sendiri.

Aaah... kalau inget ini, rasanya kok jadi nggak rela, ya, kalau ingat suatu saat Bumi akan susah saya ajak kruntelan bareng di kasur...