Jangan Sepelekan BB Seret pada Anak

Oleh: Rianti Fajar

BB seret bisa berisiko gizi buruk, lebih parahnya bisa stunting dan mengganggu pertumbuhan otak anak.

Jangan Sepelekan BB Seret Pada Anak - Mommies DailyImage: by Michal Bar Haim on Unsplash

Sejak lahir sampai usia 9 bulan, baru sekali kenaikan BB Laika sesuai dengan kenaikan berat minimal. Tapi menurut DSA yang menangani Laika saat itu, masih wajar, toh masih mengikuti tren grafiknya dan nggak sampai ke garis merah. Sebagai ibu baru saya cukup tenang dengan penjelasan dokter saat itu. Saking selow nya, malah bikin saya cuek meski BB Laika naiknya sedikit banget. Pikir saya, ah yang penting naik. Itulah kesalahan pertama saya :(( Plis, jangan ditiru ya, moms. Sampai akhirnya saya curiga ada yang nggak beres sama pertumbuhan Laika.

Berat badan Laika nggak naik selama 3 bulan berturut-turut. Nggak heran karena selama 3 bulan itu juga nafsu makannya mulai menurun dan nggak mau minum susu lagi, ditambah batuk tak berkesudahan hampir 2 bulan.

Lalu saya baca IGS nya dokter Meta mengenai BB seret. Lah kok mirip banget sama kondisi Laika saat itu. Akhirnya setelah meyakinkan suami untuk segera periksa Laika ke dokter lain, kami pun bertemu dengan dr. Klara Yuliarti, SpA, Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik, di RSCM Kencana. Dan benar saja di pertemuan pertama, Laika didiagnosis gagal tumbuh dan gizi buruk karena BB nya saat itu di usia 12 bulan cuma 6 kilogram :((

Saya pun sudah siap kalau saat itu saya akan dimarahin, minimal diceramahin dokter karena nggak bisa ngurus anak, tapi saat itu dr. Klara menghadapi saya yang sedih dan kebingungan, dengan ramah. Beliau menyampaikan diagnosisnya tanpa sedikitpun menghakimi. Bahkan memberikan semangat dan optimisme kalau pertumbuhan Laika masih bisa dikejar. Mumpung belum usia 2 tahun. Pertumbuhan seorang anak memang pesatnya sampai usia 2 tahun, begitupun dengan pertumbuhan otaknya.

Hal pertama yang dianjurkan dr. Klara adalah tes urin dan darah lengkap untuk dicari tahu dulu apa sebenarnya yang bikin BB Laika seret. Setelah hasil keluar ketahuanlah kalau Laika positif ISK dan pertusis. Tentu aja saya kaget, karena sama sekali nggak ada gejala infeksi, nggak pernah demam, nggak pernah terlihat kesakitan, dan masih aktif. Itulah kenapa ISK pada anak sering disebut sebagai silent infection, karena seringnya tidak bergejala, jadi bisa nggak terdeteksi kalau nggak tes urin.

Trus kenapa ISK ini bikin BB seret? Soalnya, udahlah kebutuhan nutrisi tubuh meningkat, eh malah bikin anak nggak nafsu makan, trus makanan yang masuk ke dalam tubuh itu udah habis duluan buat lawan bakteri, jadi nggak tersisa deh buat pertumbuhan anak.

Setelah dapat diagnosis penyakitnya, Laika langsung diberikan antibiotik buat mengatasi ISK nya tersebut. Sementara untuk mengejar BB nya, Laika diharuskan minum susu formula tinggi kalori dan kurangi ASI supaya bisa lebih lapar dan minum sufor lebih banyak. Bukan berarti dokternya nggak pro ASI. Tapi saat ini, sufor bersifat sebagai pengobatan. Apalagi di usia setahun kan ASI hanya mampu memenuhi kebutuhan gizi anak sebanyak 30%.

Seminggu berlalu, Laika nggak berhasil minum sufor sesuai target. Dia nggak suka sufor. Saya juga stres karena terkesan harus memaksa Laika minum sufor, sering banget sampai nangis. Ditambah lagi harus kurangin ASI padahal saya lagi menikmati banget proses menyusui. Sejujurnya itu bikin patah hati banget sih :((

Saya pun kembali konsul ke dr. Klara dan ia pun menyarankan agar Laika dipasang NGT (nasogastric tube) supaya sufor tetap bisa diberikan tanpa harus maksa. NGT juga bisa meningkatkan BB sampai 400 gram per minggu. Buat yang belum tahu, NGT adalah selang makanan yang dipasang di hidung sampai ke lambung. Biasanya dikenal dengan sonde.

Saat pertama kali dengar harus pasang NGT, saya sedih banget. Ngebayangin gimana akan tidak nyamannya Laika kalau ada benda asing di hidungnya. Kebayang juga gimana akan merepotkannya kalau selang sampai ditarik. Saya minta waktu untuk pikir-pikir dulu. Sampai dr. Klara bilang “Bu, jangan kelamaan mikirnya karena ng nkita kejar-kejaran dengan waktu. Coba dulu aja pasang seminggu, nanti ibu lihat sendiri hasilnya, setelah itu baru putuskan lagi mau lanjut pasang atau nggak.”

Akhirnya setelah banyak pertimbangan, meski banyak keluarga yang tidak mendukung, dengan tekad bulat saya dan suami memutuskan untuk memasang NGT ke Laika.

Untuk pemasangan pertama kali mengharuskan Laika rawat inap satu malam di rumah sakit supaya bisa diobservasi gimana respon tubuhnya dan sekalian saya diajarin gimana cara memberikan susu lewat NGT. Di sinilah perjuangan dan komitmen saya sebagai orangtua diuji. Coba bayangin, Laika harus diberikan susu 8 kali sehari per 3 jam. Artinya, saya harus bangun tengah malam, sama seperti dulu awal melahirkan, hahaa selamat datang mata panda.

Seminggu pasang NGT, BB Laika melesat naik sampai 600 gram. Tentu saja ini bikin saya sumringah banget. Nggak sia-sia begadang buat teratur kasih susu. Buat mommies yang masih galau saat anaknya disarankan untuk pasang NGT, percayalah pasang NGT nggak seserem yang dibayangin kok. Kuncinya tetap kasih susu sesuai jadwal dan takaran yang diberikan dokter, pastikan anak tenang saat dikasih susu, supaya nggak muntah, awasi anak supaya selang nggak ditarik, dan makan yang banyak supaya tetap waras dan kuat begadang :D

Dari semua drama NGT, ada yang paling bikin sesak dan sempat bikin mau nyerah adalah respon orang terdekat saat melihat Laika pasang NGT.

“Ngapain, sih, anaknya dipasangin selang begitu, orang sehat-sehat aja.”

“Bapaknya, kan, juga kecil, ya wajar aja anaknya kecil, nggak usah nargetin BB sampai nyusahin anak begitu.”

“Nggak apa-apa anaknya kurus, yang penting sehat.”

“Emang nggak kasian apa anaknya dipasang selang begitu? Anaknya, kan, aktif.”

Sumpah ya, saat itu saya merasa dihakimi sebagai ibu paling kejam sedunia yang jahat banget sama anaknya :(( Kalau mau ngomongin kasian. Saya lah yang harusnya paling kasian sama Laika. Laika anak kandung saya, saya yang mengandung dan melahirkan dia, saya yang setiap hari menyusui dan mengurus dia sampai sekarang. Tapi akan lebih kasian lagi kalau BB nya gak nambah-nambah.

Lagian mana ada sih orangtua yang mau anaknya minum susu dari hidung. Kalau aja ada solusi lain yang sama efektifnya, jelas saya nggak akan ambil keputusan pasang NGT ini. Apalagi pasang NGT juga merepotkan. Saya harus bangun tengah malam  buat kasih susu, belum lagi kalau muntah, kebayang nggak tengah malam mesti ganti sprei? Hahaha. Kami juga harus bolak balik rumah sakit seminggu sekali untuk ganti selang dan biayanya nggak sedikit. Tapi nggak ada satu pun yang mengasihani kerepotan yang udah saya lakuin tersebut.

Akhirnya saya menyadari bahwa nggak gampang untuk jadi berbeda di negara ini. Masyarakat kita lebih bisa menerima orangtua yang anaknya kurang gizi lalu dibiarkan, daripada orangtua yang sedang berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki pertumbuhan anaknya. Orangtua yang diam aja tanpa usaha apapun justru dianggap lebih sayang sama anaknya hanya karena tidak membiarkan selang masuk ke dalam hidung anaknya. Padahal kurang gizi yang terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang lama bisa berisiko stunting.

Sedihnya, stunting itu irreversible, tidak bisa diperbaiki, terutama yang tidak ditangani sebelum 2 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan otak pun 80 persennya terjadi di 2 tahun pertama kehidupan anak. Kalau nutrisi anak tidak terpenuhi, gimana otaknya mau tumbuh dan berkembang. Nggak heran makanya kalau jumlah anak stunting di Indonesia masih tinggi banget. Berdasarkan data WHO, ada 7,8 juta anak di Indonesia yang mengalami stunting.

Efek gizi buruk memang nggak keliatan sekarang tapi nanti saat usia sekolah, anak jadi nggak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Sekarang anak boleh saja terlihat aktif, sehat, dan ceria. Tapi kalau BB nya seret dan nggak mengikuti grafik, nggak bisa dibilang kalau anak baik-baik aja. Jadi berhentilah jadi orangtua yang denial. Karena sesungguhnya, anak yang sehat adalah anak yang tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Memang betul, tumbuh kembang setiap anak beda-beda tapi tetap harus sesuai grafik.

Apalagi BB yang seret atau anak susah makan, itu pasti ada sebabnya. Itulah yang harus kita cari tahu. Jadi bukan sekadar kasih vitamin aja. Mau dikasih vitamin segalon juga kalau ternyata anaknya ada infeksi, ya nggak akan ngaruh. Jadi kalau mommies ngerasa udah ngelakuin semua cara tapi anak tetap susah makan atau BB nya seret, segeralah konsultasi ke dokter, minta tes urin dan darah. Kalau dokternya ikutan denial bilang anak baik-baik aja tapi data grafik pertumbuhan anak menunjukkan sebaliknya, cari dokter lain buat second opinion. Yang harus kita ingat adalah pemenuhan gizi di 1000 hari pertama anak itu penting banget, krusial, dan nggak bisa ditawar.


One Comment - Write a Comment

  1. Halo mbak Rianti. Sepertinya kasus mbak sama seperti anakku. Dan saat ini anakku disarankan pasang NGT. Apakah boleh minta kontak Mbak Rianti, e-mail misalnya, jika diperkenankan? Saya ingin bertanya lebih lanjut tentang NGT ini.

Post Comment