Bye Bye Balita, Welcome ABG! - Mommies Daily

Stop Katakan 7 Hal Ini pada Anak!

Jadi ibu itu memang banyak tantangannya,. Bagi saya, yang paling membuat khawatir adalah karakter buruk yang muncul pada diri anak sebagai reaksi dari perkataan atau perbuatan kita sehari-hari.

Terbayang sedih sekali ya di masa depan kalau anak jadi pemarah atau tidak percaya diri karena kata-kata kita yang menyakitkan saat ia kecil.

Bye Bye Balita, Welcome ABG! - Mommies Daily

Ini daftar kalimat yang sebisa mungkin dihindari.

“Pergi sana!”

Atau versi lainnya “jangan ganggu dong!” Ya mama butuh waktu untuk sendiri juga tapi pilih kalimat yang membuat anak tidak merasa diabaikan atau justru menganggap dirinya sebagai pengganggu. Mommies bisa ganti kalimat “usiran” dengan lebih halus seperti “mama harus nyelesaiin ini dulu dek, kamu main sendiri dulu ya”.

“Kamu tuh ya, …”

Lanjutannya biasanya berupa labelling seperti “malas” atau “jorok” atau “pemalu”. Padahal melabeli bisa membuat anak jadi merasa sesuai label itu padahal belum tentu. Kalimat yang judging seperti itu jelas tidak perlu. Kita bisa mengubahnya menjadi situasi yang lebih positif seperti “wah anak baik sih setelah main langsung bereskan mainannya, bereskan sama-sama yuk!”

“Udah, jangan nangis!”

Menangis adalah sesuatu yang sangat wajar dan cara anak mengeluarkan emosi. Meminta anak berhenti menangis hanya akan membiasakannya untuk memendam perasaan. Kalimat ini bisa diubah dengan “Kalau kamu sedih atau marah, kamu boleh menangis. Tapi tidak boleh pukul atau melempar barang”.

“Kenapa sih nggak bisa kalem kaya kakak?”

Kita sebagai orang dewasa saja sebal dibanding-bandingkan kan? Anak-anak juga sama. Kalimat semacam ini melukai harga dirinya dan anak-anak juga punya perkembangan yang berbeda satu sama lain jadi bahkan kakak dan adik pun tidak perlu dibandingkan.

“Kalau nangis terus mama cubit nih!”

Ancaman tidak akan pernah berhasil membuat disiplin, moms. Anak mungkin jadi anak penurut, tapi ia menurut bukan karena motivasi sendiri melainkan karena takut pada ancaman. Coba lebih sabar dan refleksi diri, apakah ada hal yang membuat kita tidak bahagia sampai bisa mengancam anak?

“Tunggu sampai papa pulang”

Atau “mama bilang papa lho nanti!” juga salah satu bentuk ancaman yang lain. Padahal bisa jadi saat papa pulang, si anak juga sudah lupa apa kesalahannya tadi. Ancaman semacam ini menunjukkan mommies punya masalah otoritas pada anak. Baca tentang solusi masalah otoritas di artikel ini ya: Punya Masalah Bonding dengan Anak? Coba Metode Theraplay Yuk! 

“Pintar sekali!”

Apa yang salah dalam kalimat ini? Pujian yang kurang spesifik. Muji saja bisa jadi salah ya ahahahaha. Memuji sebaiknya dilakukan untuk menghargai sebuah usaha jadi usahakan sespesifik mungkin! Contoh “kamu hebat sekali sudah bisa pakai baju sendiri” atau “terima kasih ya sudah membantu mama beres-beres rumah”. Dengan demikian, anak akan jadi lebih semangat dan berusaha lebih lagi.


Post Comment