Kekhawatiran Ibu Bekerja di Hari Pertama Anak Masuk Sekolah

Kekhawatiran ibu bekerja versi saya nggak ada urusanya dengan kebutuhan sekolah, karena semua sudah disiapkan. Tapi 4 hal ini yang membuat saya cukup deg-degan menyambut hari pertama sekolah setelah libur panjang.

Tiga hari lagi kedua anak saya masuk sekolah. Daftar ulang sudah dilakukan, beli seragam, pakaian dalam hingga kaus kaki juga sudah, alat tulis dan buku-buku juga sudah. Semua sudah beres, res, res. Jadi ketakutan saya sudah pasti nggak ada hubungannya dengan kebutuhan sekolah dan printilannya. Ada hal lain yang lebih membuat saya deg-degan sebagai ibu bekerja. Hmmm, apa aja coba?

Kekhawatiran Ibu Bekerja di Hari Pertama Anak Masuk Sekolah - Mommies Daily

1. Drama pagi hari

Terlalu lama libur otomatis rutinitas kedua anak saya itu mengalami pergeseran ‘nilai.’ Nilai-nilai penuh disiplin yang dianut oleh mereka di bawah tekanan sang mama alias saya, ahahaha pastinya mulai melemah dan melonggar. Tidur lebih malam. Bangun tidur lebih siang. Main gadget lebih lama. Mandi lebih jarang #lhooo!!! Jadi kebayang, begitu mereka kembali sekolah, kalau saya nggak menyiapkan mental mereka dari jauh-jauh hari, bakalan drama sih senin pagi saya nantinya.

Bangunin harus berulang kali. Belum nanti kalau yang kecil bête dipaksa bangun pagi. Kemudian nyuruh mereka bergerak cepat supaya ontime berangkatnya. Masih ada drama meminta mereka menyantap sarapan paginya. Jangan sampai hari pertama sekolah, tanduk mata sudah keluar tinggi-tinggi. Biasanya sih saya mengantisipasinya dengan mengatur ulang rutinitas mereka satu minggu sebelum sekolah dimulai. Benar-benar seperti rutinitasa mereka kalau harus sekolah. Intinya agar mereka nggak kaget dan mamanya nggak emosi :D.

2. Macet, macet dan macet

Senin pagi. Anak sekolah kembali masuk. Banyak anak yang naik kelas atau masuk ke jenjang pendidikan berbeda yang artinya akan ada banyak orangtua yang ikut mengantar anak-anaknya ke sekolah, dan ini artinya kendaraan kembali memenuhi jalan raya. Nggak kebayang macetnya akan seperti apa.

Doa saya adalah, semoga anak-anak bisa bangun pagi, semua berjalan lancar, jadi kami bisa berangkat on time dan tidak terjebak kemacetan yang hanya membuat mulut saya bertambah dosanya karena marah-marah. Apalagi kedua anak saya model yang haram banget kalau telat ke sekolah (beda sama mamanya dulu). Jadi semoga perjalanan kami dilancarkan ya Tuhan menuju sekolah. Apalagi senin besok saya ada dua meeting di kantor *__*.

3. Siapa wali kelas yang sekarang?

Wali kelas bagi saya merupakan salah satu support system yang maha penting dengan siapa saya bisa memantau perkembangan anak saya di sekolah. Kalau dapat wali kelas yang komunikasinya nggak bagus dan suka nggak terima kalau dikasih masukan, alamat perjalanan satu tahun itu bakalan penuh ‘kerikil tajam’ (lebay). Eh tapi bener deh, wali kelas yang asyik itu memudahkan hidup saya sebagai ibu bekerja.

4. Geng ibu-ibu teman sekelas anak saya

Ini kadar pentingnya juga hanya beda tipis sama wali kelas. Kalau geng ibu-ibu teman sekelas anak-anak saya orangnya asik-asik, santai, nggak nyinyir, nggak ambisius kalau pas lagi ada acara sekolah, nggak penuh penghakiman kalau ibunya si A, B atau C jarang nongol di WAG atau di sekolah, saya juga pasti akan aman damai tentrem sentosa. Nah, kalau ibu-ibunya nggak asik, bakalan susah kan mau tanya ini itu atau sekadar diskusi. Yang ada WAG malah saya mute selama satu tahun kedepan :D.

Jadi, mari biarkan saya banyak doa agar bebas drama dan satu tahun ke depan segala sesuatu bisa berjalan lancar :D.


Post Comment