Belajar dari Kasus #JusticeForBenjol, Ayo Ajarkan Anak Agar Cinta Hewan

Timeline Instagram khususnya pecinta anjing yang ramai dengan tagar #JusticeForBenjol membuat saya sadar bahwa mencintai hewan jadi sisi parenting yang agak jarang dibahas. Yuk, ajarkan anak mencintai hewan!

wisnu pelatih anjing

Beberapa hari ini, timeline Instagram khususnya pecinta anjing diramaikan dengan tagar #JusticeForBenjol. Benjol adalah nama seekor anjing Alaskan Malamute yang dibunuh dengan cara ditusuk. Sang pembunuh adalah pria bernama Wisnu (yang konon seorang pelatih anjing), kekasih pemilik Benjol, Loren.

Dramanya pelik sekali. Dari chat-chat tentang kecemburuan pada Benjol sampai ilmu hitam. Kini, Wisnu sudah menyatakan permintaan maaf namun warganet tampaknya masih marah dan tetap akan melanjutkan kasusnya dibantu oleh pengacara Hotman Paris.

Belajar dari kasus ini, rasanya mencintai hewan jadi sisi parenting yang agak jarang dibahas ya. Padahal mencintai hewan adalah salah satu bagian dari menyayangi lingkungan sekaligus mengajarkan bukan hanya manusia yang memiliki bumi ini. Kita berbagi bumi dengan makhluk hidup lain dan harus menjaganya bersama-sama.

Dengan mencintai hewan, anak juga bisa belajar cinta kasih dan empati. Anak belajar tentang kehidupan lain selain manusia yang juga butuh makan, minum, dan bisa berkembang biak.

Beruntung bagi anak-anak yang memang punya peliharaan di rumah jadi bisa terbiasa menyayangi hewan. Bagiaman dengan yang tidak punya hewan peliharaan?

Tidak terlalu sulit sebenarnya. Anak tetap bisa dikenalkan pada hewan lewat buku atau video. Di usia 4 tahun, Xylo anak saya sudah bisa membedakan karnivora, herbivora, dan omnivora. Ia juga bisa menyebutkan hewan sesuai habitatnya.

Kemudian beri contoh hewan itu harus disayangi dengan benar. Banyak anak yang refleks memukul-mukul hewan saat melihatnya pertama kali, ajari saja langsung cara menyayangi yang benar dan perlakukan hewan sebagai teman. Teman tentu tidak boleh disakiti kan?

Jika kebetulan berkunjung ke kebun binatang, tetap tekankan pada anak bahwa hewan dikurung itu sebetulnya kasihan karena mereka tidak leluasa dan banyak yang jadi melenceng dari sifat aslinya. Seperti burung hantu di kebun binatang yang jadi terbangun di siang hari karena kebun binatangnya berisik padahal mereka binatang malam.

Atau kalau mau lebih niat lagi, sudahlah nggak perlu itu mengunjungi kebun binatang. Agar kita tidak menjadi bagian dari “pendukung” pengurungan hewan bukan di habitatnya demi jadi tontonan belaka. :(

Jadi yuk, ajarkan anak-anak cinta hewan agar tidak muncul lagi kasus-kasus penyiksaan hewan berikutnya.


Post Comment