It Takes A Village to Raise A Child

Kasus pengeboman beberapa waktu lalu, membuat saya sadar bahwa sudah saatnya kita benar-benar melaksanakan apa yang ditulis oleh peribahasa asal Afrika ini!

Bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga dengan melibatkan empat orang anak.

Di tempat berbeda, meledaknya bom rakitan di rusunawa tak hanya mematikan sang ayah dan ibu, namun juga kedua anaknya.

Serangan bom kembali terjadi di Polrestabes Surabaya, yang juga dilakukan oleh satu keluarga. Namun, seorang anak yang diduga anak dari pelaku berhasil selamat dari insiden tersebut.

Beberapa dari pelaku bom bunuh diri yang masih anak-anak menunjukkan gelagat yang berbeda, karena ada yang menolak mengikuti pelajaran PPKN dan ada juga yang dengan bangga menyatakan bahwa cita-citanya adalah mati syahid.

Sedih ….

Sekaligus merasa tertampar, sebagai orang dewasa dan juga seorang ibu….

Saya nggak akan bertanya apa yang salah dengan keluarga itu? Atau apa yang salah dengan orangtuanya? Karena jawabannya sudah jelas, keluarga itu dan tentu orangtuanya SALAH BESAR. Ideologi yang mereka dapat kemudian kembangkan sudah pasti salah.

Pertanyaan saya, apa yang salah dari orang-orang dewasa di lingkungan anak-anak itu tumbuh? Apa yang luput dari perhatian mereka? Ataukah memang kekhawatiran itu sudah ada, hanya saja kita masih merasa canggung untuk ikut cammpur ke dalam ranah pengasuhan keluarga lain?

 It Takes A Village to Raise A Child - Mommies Daily

Saya lalu teringat dengan pepatah asal Afrika yang saya tuliskan sebagai judul dari artikel ini: It takes a village to raise a child. Ya, benar sekali, dibutuhkan banyak sekali pihak untuk membesarkan seorang anak yang berakhlak baik, nggak salah didik dan tidak tumbuh dengan pemikiran bahwa “it’s okay untuk membunuh orang yang berbeda dengan kita.”

Dibutuhkan kepedulian dari kita semua, untuk tidak hanya fokus pada pola asuh anak-anak sendiri, namun juga anak-anak di sekitar kita. Anak kakak, anak adik, anak saudara, anak tetangga atau mungkin teman anak-anak kita di sekolah.

Bukan bermaksud terlalu ikut campur, anggap saja ini wujud kepedulian kita sebagai sesama manusia, yang berharap bisa hidup rukun, damai dan saling menghargai sesama.

Anggaplah ini salah satu usaha kita, melindungi generasi muda agar terhindar dari ideologi-ideologi salah yang hanya akan menghancurkan kedamaian di hidup kita. Karena untuk melindungi masa depan anak-anak kita, kita juga perlu menjaga tempat mereka bertumbuh dan bersosialisasi.

Mulailah dari hal-hal kecil yang mudah dilakukan namun butuh kepedulian serta keberanian dari kita.

Peduli untuk mengenal teman-teman anak kita, keluarga mereka, cara mereka dibesarkan, meluangkan waktu untuk mengobrol ketika mereka berkunjung ke rumah, meluangkan waktu untuk menemani mereka ketika playdate.

Peduli dengan anak-anak di lingkungan rumah kita. Anak-anak tetangga yang mungkin selama ini cenderung kita abaikan. Sudah saatnya kita menjadi ‘orangtua-orangtua’ untuk menjaga mereka.

Miliki keberanian, untuk bertindak melawan orang-orang dewasa yang sibuk meracuni anak-anak dengan paham radikalisme. Melawan orang-orang yang menanamkan bibit radikal pada anak-anak.

Buat support group sesama orangtua, yang bekerja sama dengan pihak sekolah, untuk mencegah bibit ekstrimis tumbuh liar tidak terkendali.

Sudah waktunya kita untuk lebih peduli

Sudah waktunya kita untuk bertindak nyata

Mungkin kita bisa yakin, anak-anak kita akan aman dari ideologi yang salah

Tapi apakah kita bisa memastikan, ketika anak-anak kita tidak menjadi pelaku, mereka akan aman dari menjadi korban?

Saya yakin, kita tidak ingin ada lagi anak-anak yang dengan gagahnya mau terlibat dalam tindakan bunuh diri dengan bom.

Saya juga yakin, kita juga tidak mau ada korban anak-anak, seperti kakak beradik Evan Hudojo dan Nathan Hudojo atau Daniel.


Post Comment