Anak Juga Butuh Mengerti Kita, Orangtuanya

anak

Sejak melahirkan Xylo empat tahun yang lalu, saya baru sadar, tidak semua ibu bisa merasakan “romantisme” punya anak. Romantisme semacam “capek kerja hilang setelah liat senyum anak atau “rela meninggalkan karier demi anak” itu ternyata tidak terjadi pada saya.

Saya malah melihat hubungan anak dan orangtua dari perspektif lain. Bahwa tidak selamanya kita harus berkompromi pada kebutuhan anak dan tidak semua hal dilakukan di balik alasan“demi anak”. Tidak selamanya kita yang harus mengerti apa maunya anak, tapi juga kita harus mengusahakan bagaimana anak bisa mengerti peran kita sebagai orang dewasa.

Contoh paling gampang, saat pergi kerja, ada masanya kan anak tiba-tiba tantrum dan melarang kita pergi? Ada pula masa-masa kita tega aja langsung pergi ninggalin anak ngamuk, tapi ada juga masanya kita langsung mempertanyakan “Apa gue keluar kerja aja ya?”

Kalau sudah begitu, pertanyakan ulang: Apa sanggup diam di rumah dan hanya mengurus anak? Saya sih jelas nggak sanggup ya, saya tipe yang harus punya kegiatan, bertemu orang banyak, dan jelas diam di rumah hanya mengurus anak bukan untuk saya. Maka saya harus berusaha agar Xylo bisa mengerti posisi saya sebagai ibu bekerja.

Sejauh ini kuncinya hanya satu, yaitu beri penjelasan yang sebenarnya. Saya selalu beri pengertian bahwa Ibu dan Appa (panggilan Xylo pada ayahnya) adalah orang dewasa. Orang dewasa harus bekerja agar punya uang untuk beli makan dan bayar rumah. Saat orang dewasa bekerja, anak-anak harus sekolah.

Saya contohkan juga dengan contoh nyata. Misal kebetulan kami bertemu dengan pengemis di perempatan jalan. Saya selalu bilang, dia bajunya tidak bagus karena dia tidak bekerja. Karena dia tidak bekerja, rumahnya pun tidak akan sebagus rumah kita. Kenapa dia tidak bekerja? Karena mungkin dulu dia tidak sekolah. Jadi sekolah dan kerja itu harus supaya hidup kita enak seperti sekarang.

Sejak usianya 3 tahun, Xylo surprisingly mengerti lho dijelaskan hal-hal semacam ini. Jadi saya tidak pernah menjelaskan alasan kerja untuk beli susu atau mainan. Jawaban susu atau mainan mungkin paling mudah dimengerti, tapi juga mudah dibantah. “Susu dan mainanku masih banyak, ibu nggak perlu kerja!”

Dan jangan suka menganggap remeh anak kecil lho, ya! Anak-anak itu orang dewasa yang belum belajar banyak soal kehidupan. Jadi ya diajari, dibuat mengerti, bukannya diremehkan dan tidak diberi penjelasan. Atau malah dimanjakan dengan diberi semua yang mereka minta.

Penjelasan-penjelasan semacam ini juga jadi bentuk komunikasi yang berkualitas. Anak jadi tahu, bahwa sebagai orangtua kita punya tanggung jawab khusus memberinya makan, tempat tinggal, dan sekolah.
Yuk, bangun komunikasi berkualitas dengan anak. Karena anak, juga harus mengerti kita, orangtuanya.


Post Comment