Agar Anak Tak Tertular Bad Habits dari Daycare

Semalam suami saya cerita, saat menjemput ke daycare ia disambut Xylo dengan kata “monyong.” Xylo bilang “pinjem dong, monyong”. Suami tentu kaget tapi tidak marah, baru setelah di rumah kami bertanya baik-baik, siapa teman Xylo yang suka bilang begitu?

Awalnya ia menolak menjawab dan mengalihkan pembicaraan. Namun setelah terus dikejar, akhirnya ia menyebut nama yang sama sekali tidak membuat saya terkejut. Sudah berkali-kali Xylo mengikuti perilaku kurang baik karena mengikuti temannya, dan nama yang muncul hanya nama itu lagi. Jadi saya sudah maklum.

Karena meski sudah mati-matian mencari daycare yang sesuai dengan value yang kami anut, tetap saja ada anak yang pola pengasuhan orangtuanya berbeda dengan apa yang saya dan suami ajarkan. Anak itu yang jadi menularkan bad habits pada anak lain.

bad habits daycare

Selain “monyong”, Xylo juga pernah tiba-tiba senang membicarakan “hantu”. Setelah ditelusuri ternyata ada satu anak yang suka ditakut-takuti dan diceritakan hantu oleh ibunya. Pernah ia juga menjawab dengan juluran lidah setiap kali saya memintanya melakukan sesuatu. Ada pula masanya ia menunjukkan pantat sambil tertawa setiap kali ditanya.

Kondisi seperti ini bisa jadi tricky karena di satu sisi saya tidak mau Xylo meniru hal yang tidak baik tapi di sisi lain saya juga tidak mau ia hanya tahu teman-teman yang baik saja. Saya mau ia tahu bahwa ada teman-teman yang bisa saja berbuat tidak baik, dan ia tidak boleh menirunya.

Kalau sudah begini, yang pertama saya lakukan pasti bertanya, tahu dari mana? Karena sudah jelas ia meniru anak lain di sekolah. Kemudian saya bilang bahwa yang ia lakukan itu tidak baik.

Saya juga tegaskan pada Xylo bahwa anak-anak yang perilakunya tidak baik itu tidak perlu ditemani. Ulangi selalu bahwa Xylo anak baik dan sebaiknya juga bermain dengan anak baik. Sejauh ini berhasil, Xylo bahkan tidak mau meminjamkan mainan pada anak yang ia nilai sebagai anak tidak baik.

Selain itu, saya juga membacakannya buku tentang “belajar berpendirian” bahwa kita bisa lho tidak ikut-ikutan iseng atau berkata tidak baik hanya karena mengikuti teman. Ia harus punya prinsip sebagai anak baik dan tetap berpegang pada prinsip itu.

Bicarakan juga dengan guru atau pemilik daycare. Meski sangat sedikit hal yang bisa dilakukan selain menegur orangtua dengan anak yang menjadi bad influence, minimal pemilik daycare menyadari bahwa ada anak yang menjadi pengaruh buruk bagi anak lain. Dalam kasus-kasus tertentu, ada anak yang menjadi semacam diisolasi dan dipisahkan bermainnya dari anak lain karena terlalu sering memukul atau merebut mainan.

Membentengi anak dari perilaku buruk itu memang menantang sekali ya. Tak hanya dari daycare, bad habits bisa juga muncul dari teman sepermainan di rumah atau juga di sekolah. Tapi saya yakin satu hal, selama keluarga lebih kuat mengajarkan hal-hal baik, hal buruk akan selalu bisa dilawan. Semangat, Mommies!


Post Comment