5 Alasan Anak Perlu Belajar Bilang, “Maaf!” dan Bukan Hanya di Bibir Saja

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Seringkali yang dianggap ‘cara terbaik’ untuk membuat anak menyadari kesalahannya adalah dengan menyuruh mereka meminta maaf pada temannya.

Beberapa tahun silam, ketika usia anak saya Pi masih batita, saya pernah bertetangga dengan keluarga yang punya balita yang nakalnya nggak ketulungan. Sebut saja namanya Kevin. Kalau saya perhatikan, Kevin punya kecenderungan violence dan Pi sering menjadi korban. Dari dicubit, didorong, sampai pernah Pi kena pukul Kevin. Kevin bahkan tidak segan melakukan tindak kenakalannya terhadap Pi di depan saya, ataupun Mamanya sendiri. Namanya tetangga dekat, kemana Pi bermain, di situ pasti ada Kevin.

Ketika suatu kali sikap violence Kevin muncul dan disaksikan oleh Mamanya, yang terjadi adalah ia dimarah-marahi oleh Mamanya. Tak hanya itu, Kevin juga dibentak dan dicubit oleh Mamanya, sebelum kemudian dipaksa untuk meminta maaf. Spontan, saya shock melihat reaksi Mama Kevin. Mungkin maksudnya baik, beliau tidak mentolerir kenakalan anaknya dan ia berusaha mendisiplinkan anaknya, tetapi menurut saya caranya tidak tepat, bahkan cenderung main ‘fisik’. Buktinya, kenakalan Kevin tidak berhenti meski ia berulang kali meminta maaf pada anak lain. Saya jadi bertanya-tanya, mungkin dari situ sifat agresivitas Kevin bermula.

Baca juga:

Sudahkah Kita Bertangungjawab Terhadap Pola Asuh yang Diterapkan?

Memang, mengucap maaf adalah hal yang paling mudah dilakukan dalam mendisiplinkan anak. Malah, yang ada, kata maaf cenderung mudah diobral, demi tak kena hukuman. Selain perlu belajar meminta maaf, lebih penting adalah agar anak belajar menyadari bahwa tindakannya adalah salah. Berikut adalah lima alasan kenapa anak perlu belajar meminta maaf, bukan sekadar ucapan di bibir saja.

5 Alasan Anak Perlu Belajar Bilang, “Maaf!” dan Bukan Hanya di Bibir Saja - Mommies Daily

#1 Membantu mereka mengerti bahwa tindakan mereka salah

Sebelum menyuruh anak meminta maaf, dia harus menyadari apa yang ia lakukan adalah salah. Anak-anak (terutama balita) belum paham kalau apa yang mereka lakukan salah. Makanya, ketika kita meminta mereka untuk meminta maaf atas sesuatu yang mereka tidak tahu mengapa, hal itu justru akan membingungkan mereka. Orang tua perlu memberitahu anak tentang benar dan salah, tentang batasan antara mana yang becanda dan mana yang sudah kelewatan. Jika anak belum mau meminta maaf atas tindakannya, jangan dipaksa dulu. Sebagai gantinya, Anda bisa meminta maaf pada temannya atas sikap anak. Ajak anak berdiskusi setelahnya.

#2 Jangan menyakiti kalau tidak mau disakiti

Anak usia pra sekolah dan balita masih dalam fase “aku”. “Mainan itu punyaku.”,”Aku maunya begini.”, dan sebagainya. Ajarkan ia kapan ia harus meminta maaf. Kita meminta maaf ketika menyakiti orang lain. Menurut penulis buku parenting Sarah Ockwell-Smith, seperti yang dilansir dari Huffington Post, anak-anak belum bisa memahami sudut pandang orang lain. Mereka belum bisa mengerti jika perasaan orang lain berbeda dari perasaan mereka sendiri. Inilah yang disebut sebagai empati. Bantu anak untuk berempati, ajak ia membayangkan bagaimana jika ia berada pada posisi temannya yang disakiti. Misalnya, “Tuh, lihat, Nabila nangis. Menurutmu gimana perasaannya sekarang? Kalau kertas gambarmu dirusakin, kamu sendiri gimana?”

#3 Ajarkan anak cara kongkret menebus kesalahan

“Ditto suka usil gangguin Izza, adiknya, sampai adiknya nangis. Ia suka merebut mainan Izza. Kalau sudah begitu, saya pasti akan memintanya untuk mengembalikan mainan Izza, atau mengajak adiknya main bareng,” cerita Lina, ibu dua anak yang masing-masing berusia 8 dan 5 tahun. Menurut Lina, untuk mendisiplinkan si Kakak yang nakal, selain meminta maaf, yang lebih penting adalah bagaimana si Kakak mau menebus kesalahannya.

#4 Mau mengambil tanggung jawab

“Dulu, Dafa kalau sedang tantrum sampai bikin rumah berantakan kayak kapal pecah, mainannya dilempar-lempar ke segala arah. Ngerinya, kalau pas ada temannya sedang main ke rumah. Yang ada, dia drama, saya ikut emosi,” cerita Nia. Menyadari kalau dirinya tak boleh terbawa emosi, Nia lantas menegaskan ke Dafa, “Kalau kamu melempar mainanmu seperti itu, perabot rumah bisa rusak. Belum lagi kalau kena ke orang lain, bisa bikin cedera. Kalau kamu bikin rumah berantakan, konsekuensinya kamu harus beresin sendiri. Lain kali, kalau mau marah, masuk ke dalam kamar. Marah sendiri saja. Jangan sampai orang lain jadi korban,” tegas Nia, yang juga menyuruh Dafa membereskan rumah yang sudah ia buat berantakan akibat kemarahan Dafa.

Baca juga:

Kiat Menghadapi Anak Tantrum

#5 Menghindari mengulang kesalahan yang sama

Bagian yang tersulit dari pelajaran meminta maaf adalah mengawal agar anak tidak lagi mengulang kesalahan yang sama. Tentu, praktiknya tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh kesabaran dan proses yang panjang. Anak harus terus menerus diingatkan.

Karena bagaimana pun, berani meminta maaf adalah salah satu dari basic skill dalam hidup yang wajib dimiliki oleh anak.


Post Comment