Yang Sesungguhnya Terjadi Saat Ke Resto dengan Balita

Dibuat oleh: Imesh Sugiri

Saat makan bareng di akhir pekan, sepupu saya yang sedang hamil besar bilang, “Nanti kebayang deh, kalau aku sudah punya anak mau ajak dia makan di aneka restoran kayak kita suka nyoba-nyoba gini. Pasti seru, ya?” Saya langsung ketawa dan nanya, “Seru beneeerrrr… Mau tahu kayak, apa?”

Pertama, kita datang, masuk ke restoran yang tampak tenang dan kece buat foto-foto itu. Pintu dibuka, pelayan menyapa, lalu belum sempat kita jawab sapaannya, si 5 tahun langsung teriak, “Duduknya di situ! Aku mau duduk di situ!” Hmm, jadi lupakan sofa keren yang kita taksir tadi. Untuk si kecil, duduk di dekat patung sapi yang warna ijonya gengges banget atau di pinggir kolam yang bangkunya sempit rupanya lebih menarik. Mendekati meja…

“Aku mau duduk dekat Papa!” ujar si 3 tahun.

“Oke, berarti kamu duduk di sini.”

“Tapi aku mau yang ada bantalnya!”

“Eh, aku yang duduk di sini!” si 5 tahun merasa terancam.

Dan seterusnya…dan seterusnya hingga Anda membutuhkan sekian menit sendiri hanya untuk menentukan siapa duduk di mana.

Setelah semua akhirnya duduk, pelayan datang ke meja dengan buku menu. Ibu menyodorkan tangan mengambilnya, tapi… seettttt sudah ada tangan kecil yang merebut. “Aku pilih sendiri, yaaaa…” Kakak pengen seisi dunia tahu ia sudah bisa membaca (atau melihat gambar) buku menu. “Aku mau buku menu juga!” si adik pokoknya yang penting ikutan. Mari kita minta beberapa buku menu lagi pada pelayan.

IMG_5187

“Aku mau sushi!” ujar satu anak setelah membaca dan membulak-balik buku menu sebanyak 374x. Maka sekarang saatnya kita jelaskan padanya bahwa restoran Sunda tidak menjual sushi. Bila berhasil, baru kita bisa mulai menjelaskan apa-apa saja yang betul-betul bisa dipesannya. Lalu jari-jari kecil itu menunjuk gambar… lobster. Hayah! Kenapa pula restoran Sunda pakai gambar lobster bakar dengan keju leleh yang harganya mahal sekali? Kenapa nggak gambar gurame goreng standar aja? Ke-na-pa???

“Oh, kalau yang itu habis, Nak!” waktunya orangtua berbohong pada anak demi kebaikan bersama, “Pesan ini aja ya? Udang tepung. Enak, lho!”

Tapi tiba-tiba terdengar pelayan berkata dengan riang, “Lobsternya masih ada kok, Bu! Adek mau?” Aaarrrgh… pelayan rese!!!

Setelah akhirnya kita melalui fase krisis kepercayaan anak pada orangtua akibat lobster tadi, tibalah saatnya di mana kita harus menunggu makanan datang sambil menghadapi anak-anak yang seolah tidak bisa sabar di meja. Goyang-goyang, geser-geser, pegang-pegang semua yang ada di meja.

“Aku bosan!” keluh yang satu.

“Ini apa?” tanya yang dua sambil menuang kecap.

“Kita pindah meja, yuk! Aku mau duduk di situ aja!” Horrreeeeeeee… kita mulai lagi dari awal soal duduk di mana dan siapa di sebelah siapa tadi.

Hingga akhirnya, makanan datang. Aaah… senangnya! Tapi bukan berarti sampai di akhir cerita sih.

“Sendokku mana? Aku mau sendok kecil.” Ya sudah, panggil pelayan.

“Aku mau makan pakai tangan saja ya? Ibu, temenin cuci tangan!” Baiklah, ayo cuci tangan.

“Lho? Kok sepatunya dilepas?” Iyaaa…pakein sepatu dulu.

Segera kembali ke meja setelah menemani si kecil cuci tangan, berarti saatnya menyantap hidangan.

“Aku nggak mau makan ini.” si 3 tahun cemberut.

“Tadi kamu katanya mau ini?” Ibu berusaha mengingatkan.

“Sekarang udah nggak mau. Sekarang, maunya yang itu!” sambil tanpa salah menunjuk piring Ibu. Ibu harus mengalah.

“Es kelapaku, nggak enak! Tukar saja ya, sama jus punya Ibu?” si 5 tahun gantian protes. Ingat, Ibu harus mengalah.

Sudah ya… sudah dooong… kan sudah tinggal makan aja?

“Ibu… aku mau pup!” Whaaaaaatttt?!!!

Itulah kira-kira yang sesungguhnya terjadi berdasarkan pengalaman saya pribadi dengan dua anak plus cerita dari teman-teman sesama Ibu yang juga punya anak balita. Ini belum termasuk fakta kalau di beberapa restoran, sepanjang acara makan kaki Ibu harus nyangkut di kaki kursi atau meja untuk menjaga agar kursi yang diduduki si kecil tidak terbalik. Juga belum termasuk kehebohan bila anak masih harus disuapi dan fakta bahwa kebanyakan ibu biasanya makan 1/3 sisaan dari tiap menu yang dipesan.

Jadi untuk semua calon Ibu dan ibu baru, saya ucapkan SELAMAT menantikan momen-momen seru ini yaaaa… Dan untuk para Ibu dengan balita yang pernah atau sering mengalami apa yang saya ceritakan di sini, saya angkat topi! Tenang saja, Anda tidak sendiri.


One Comment - Write a Comment

Post Comment