Hal Sederhana yang membuat Pernikahan (Makin) Bahagia

Kadang saya suka lupa, kalau pernikahan yang bahagia itu perlu kita ciptakan sendiri. Bahkan dimulai dari hal remeh temeh yang sering kali saya sepelekan.

Usia pernikahan saya dan suami memang masih seujung kuku, baru melewati usia yang ke-8 tahun. Jadi, pengalamannya belum seberapa dan harus banyak belajar. Belajar bagaimana bisa menghargai satu sama lain, tidak merendahkan apalagi di depan orang lain, tidak perlu banyak menuntut untuk saling berubah. Dan satu lagi yang nggak kalah penting, kami sama-sama belajar untuk bisa konsisten melakukan hal yang tampak sepele, tapi ternyata punya pengaruh yang luar biasa. Hal yang dianggap remeh temeh justru penting untuk bikin pernikahan makin bahagia.

pernikahan bahagia - mommiesdaily

Never take things for granted

Menikah 8 tahun, bisa dibilang sudah membuat saya nyaman. Sudah merasa kalau suami sudah paham betul bagaimana pribadi saya, bisa menerima apa adanya. Tapi kan bukan berarti jadi keenakan. Lupa dengan hal kecil seperti memberikan apresiasi. Sekadar bilang terima kasih atas usaha yang dilakukan suami, memberikan pujian atau malah bentuk cinta seperti memeluknya di pagi hari? Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas North California di Chapel Hill menemukan bahwa ketika ada perempuan yang memiliki pernikahan bahagia, mereka memeluk pasangan selama 20 detik. Dan hanya perlu dilakukan dua kali dalam sehari. Katanya, hal ini disebabkan oleh kadar hormon stres mereka bisa turun, sementara kadar oksitosin- hormon ‘berpelukan’ yang menyehatkan jantung – mengalami peningkatan.

Nggak usah memperdebatkan hal sepele

Ya, ya, ya, saya tahu kalau sebuah pernikahan perlu komunikasi yang baik, bagaimana bisa berdiskusi dengan pasangan. Tapi untuk membesar-besarkan sesuatu sampai harus bertengkar? Duh, buat apa, sih? Lebih baik diskusi untuk hal penting seperti perencanaan keluarga. Contohnya, diskusi soal program punya anak. Kalau dirasa belum siap, ya, tunda saja lebih dulu dengan menggunakan alat kontrasepsi yang nyaman, baik untuk saya ataupun suami. Kalau WHO sudah merekomendasikan dan menyatakan kalau IUD paling efektif mencegah kehamilan hingga 99.4% Pertimbangan lainnya, karena IUD non hormonal ini tidak memengaruhi produksi dan kualitas ASI, dan juga memberikan rasa nyaman dan perlindungan 3 – 10 tahun.

Waktu memutuskan menggunakan IUD, kami pun lebih dulu diskusi. Termasuk membahas soal fakta dan mistos soal IUD. Hahaha, tahu dong, ya, sekarang ini banyak banget berita hoax? Belum lagi soal mendengar komentar orang yang belum tentu benar. Mitos soal IUD yang paling sering saya dengar soal IUD yang hilang di dalam rahim. Ada juga yang bilang kalau IUD itu bikin susah untuk punya anak lagi. Nyatanya itu semua cuma persepsi yang keliru kok. Justru setelah menggunakan IUD saya merasa nyaman, pun dengan suami. Soal IUD hilang, hal tersebut tidak akan terjadi jika pemasangan dilakukan secara benar oleh bidan atau dokter terlatih. Selain itu, kalau memang kita rutin kontrol segala masalah bisa diketahui, termasuk jika memang bergeser. Soal susah punya anak? Ah, saya sih percaya kalau urusan punya anak banyak fator yang memengaruhuinya. Disamping itu, IUD yang kami pilih adalah IUD non hormonal sehingga tidak akan mengganggu kesuburan.

Jangan lupa tertawa

Ah, ini sih tampak sepele banget, ya? Tapi percayalah, tertawa bersama pasangan itu obat yang paling ampuh buat hati. Bikin bahagia. Untungnya, meskipun ‘casing’  suami saya ini tampak serius, tapi soal bikin istri dan anaknya ketawa dengan goyonan yang receh, dia jagonya. Bahkan, salah satu alasan yang bikin saya jatuh hati dan yakin menjadikannya pasangan hidup, karena ia bisa membuat saya tertawa lepas. Menertawakan hal bodoh bersama-sama itu bikin saya bahagia.

Kalau saya selalu berusaha mengingat 3 hal ini, bagaimana dengan mommies yang lain?

 


Post Comment