Bu, Boleh Istirahat Dulu Nggak Marahnya….

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Hari ini, ada yang bikin saya nyesel. Karena saya marah-marah ke Pilar, anak saya.

Kebetulan, Pilar (10), anak saya sedang menghadapi UTS Matematika. Sejak kemarin, sebisa mungkin saya sudah berusaha membuat suasana rileks, dengan tak membahas latihan soal sama sekali. Toh, di hari-hari lainnya ia sudah sering belajar. Entah kenapa, tadi pagi, tiba-tiba ia bertanya tentang akar pangkat kuadrat, salah satu materi yang akan diujikan nanti.

Saat saya terangkan, ia seperti blank (padahal sudah pernah saya ajarin sebelumnya). Ditambah lagi, ia ngeyel dengan mengatakan kalau itu berbeda dengan yang diajarkan di sekolah. Ketika saya berusaha meluruskan kesalahannya, ia malah semakin ngotot. Di sinilah, emosi saya terpancing. Geregetan. Nada bicara saya jadi naik. Duh!

Pernah, enggak, Anda merasa seperti saya? Marah ke anak kemudian menyesal, karena setelah dipikir-pikir, kayaknya kok, kemarahan yang keluar adalah hal yang enggak perlu.

Bisa dipahami, sehari-hari kita pasti menghadapi tekanan-tekanan di sekitar kita. Entah itu tuntutan pekerjaan, finansial, kesehatan, urusan rumah, kemacetan, dan sebagainya, daftar yang tidak akan ada habisnya. Lalu, di tengah tekanan itu, ada interaksi dengan anak yang tidak setiap hari berjalan smooth.

Anak yang kadang susah dibilangin, susah disuruh stop main game, susah disuruh rapiin barang, susah disuruh makan, dan sederet ‘pemberontakan’ kecil lainnya. Belum lagi, rengekannya, kerewelannya, tuntutannya minta ini itu. Well, namanya juga anak-anak. Ada saja hal-hal yang dilakukan anak yang bisa memancing emosi kita. Kalau kita sedang tidak ‘aware’, bisa-bisa meledaklah kemarahan itu.

Dalam istilah psikologi, dikenal istilah ‘ghost in the nursery’. Merujuk pada fenomena bahwa apa yang dilakukan anak pada kita ternyata mampu menstimulasi ingatan bawah sadar kita pada masa kecil kita sendiri. Ketakutan dan kemarahan kita pada masa kecil yang terekam, bisa muncul kembali dalam bentuk reaksi kita terhadap anak. Makanya, seringkali tanpa sadar kita marah-marah ke anak karena hal sepele. Hal yang sebetulnya tidak pernah ingin kita lakukan, tapi bisa ‘keluar’ sewaktu-waktu.

Bu, Boleh Istirahat Dulu Nggak Marahnya.... - Mommies Daily

Emosi marah adalah hal yang normal. Akan tetapi, ketika muncul dalam bentuk respons, bisa berdampak bahaya pada anak. Apalagi jika ekspresi yang keluar ada teriakan, ucapan verbal, bahkan fisik. Kita tentu nggak bermaksud menyakiti anak, bukan?

Memendam emosi marah dan tak pernah menunjukkan rasa marah pada anak, juga tidak baik. Sebab, anak juga perlu diajarkan batasan dos and don’ts. Anak juga perlu belajar bahwa marah adalah sebuah emosi yang menjadi bagian dari diri manusia, namun perlu dikelola secara bertanggung jawab.

Sebelum marah-marah bikin kita nyesel (seperti yang saya lakukan hari ini), lima tip yang saya olah dari Ahaparenting berikut ini bisa menjadi panduan mengelola rasa marah.

1# Hindari bertindak saat kita sedang marah. Sebab, pada saat itu, kemarahan yang berbicara. Mengekspresikan kemarahan saat kita marah justru membuat kita menjadi semakin marah. Efeknya? Orang lain jadi sakit hati dan takut.

2# Ambil waktu untuk menenangkan diri. Tarik napas sejenak, inhale dan exhale. Ajak anak berdiskusi ketika suasana hati kita dan anak sudah enak. Jelaskan bahwa tindakannya salah dan minta ia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

3# Hindari ‘main tangan’. Mengekspresikan kemarahan dengan kekerasan adalah big no no. Banyak penelitian membuktikan, pukulan dan semua bentuk hukuman fisik memiliki dampak negatif pada perkembangan anak yang berlangsung sepanjang hidup.

4# Pantau nada suara dan pilihan kata Anda. “Malu kedengeran tetangga” kalau kata orang tua zaman dulu. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tenang kita berbicara, semakin tenang yang kita rasakan, akan semakin tenang pula orang lain merespons kita.

5# Bersama anak, buat daftar cara yang dapat diterima untuk mengekspresikan kemarahan. Dalam keadaan di rumah sedang tenang, bicarakan dengan anak tentang cara-cara yang dapat diterima untuk mengatasi kemarahan. Apakah boleh dengan memukul? Melempar barang? Boleh berteriak?

Ingat, karena kita adalah panutan, aturan yang berlaku untuk anak juga berlaku untuk Anda.


Post Comment