3 Cara Ampuh Mengelola Gaji Bulanan

Baru juga dua minggu gajian sudah stress melihat nominal di rekening dan sibuk mencari dana tambahan. Jangan sampai seperti ini ya, Mom. Kuncinya: punya strategi dari awal. Coba deh, tiga cara sederhana ini yang terbukti sukses di saya *bangga.

Mau cerita dulu nih, pengalaman teman saya yang sempat “kedodoran” urusan gaji bulanan. Dia dan pasangan punya kebiasaan setiap tanggal gajian merasa kaya mendadak, kalap beli apapun, makan di mana aja, tapi pas pertengahan bulan panik! Ternyata pos kebutuhan primer malah ada yang belum terpenuhi, yaitu dana pendidikan anak dan investasi. “Duuuh, kok bisa, sih? Kan jadi lebih besar pasak dari pada tiang,” saya membatin.

3 Cara Ampuh Mengelola Gaji Bulanan - Mommies Daily

Usut punya usut, teman saya mengakui, kalau dia tidak punya strategi dari awal untuk mengelola gajinya. Sedih banget nggak sih kalau hal ini sampai menimpa kita? Urusan menabung dan investasi kan, buat kita yang sudah berkeluarga wajib hukumnya. Udah punya tanggungan, lho. Berarti gaji yang kita dan suami terima, sebagian besar diperuntukkan untuk urusan masa depan keluarga. Dan jangan sampai, hanya mengandalkan gaji, untuk biaya hidup sehari-hari.

Beruntung saya mendengar kisah tadi sebelum menikah. Jadi bisa ambil pelajaran dari cerita teman saya tadi. Pas menikah, saya sudah punya cara untuk mengelola gaji. Berikut ini tiga cara yang sampai sekarang saya pakai.

1. Budgeting

Anggaran keuangan bulanan atau bahasa kerennya budgeting itu dasar dari pengelolaan keuangan saya setelah menikah agar gaji bulanan bisa dikelola dengan baik. Saya yakin, keluarga mommies pasti sudah banyak yang melakukannya, bukan? Pertama-tama, saya biasanya menuliskan pengeluaran pokok terlebih dahulu. Setelah itu saya menuliskan pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya tentatif dan pengeluaran yang tak terduga. Biar tidak mendatangkan masalah, tagihan bulanan dan utang saya prioritaskan terlebih dahulu. Semua saya tulis dengan rinci karena saya tidak ingin ada pembengkakan anggaran. *sedih.* Tabungan juga biasa saya sisihkan di awal. Begitu menerima gaji, tabungan atau lebih tepatnya uang untuk investasi biasa saya sisihkan langsung. Belajar dari pengalaman, ketika uang investasi disisihkan belakangan, yang terjadi uang sudah lenyap. *senyum*. Investasi itu saya sisihkan di awal begitu menerima gaji, bukannya disisakan di akhir yang justru rawan habis di tengah bulan.

2. Manajemen amplop

Walaupun cara ini terbilang oldschool, ternyata cukup efektif, lho menyelamatkan nominal gaji bulanan saya dan suami. Sistem amplop memudahkan saya membuat budgeting tiap bulannya. Misalnya tabungan investasi pendidikan anak, bayar kartu kredit, premi asuransi, bayar gaji ART, zakat dan sedekah, bayar listrik dan pengeluaran pokok lainnya. Bentuknya bisa dimasukkan ke amplop putih biasa, lalu dikasih nama untuk setiap pengeluaran. Atau bisa membeli map yang berbentuk amplop, di dalamnya terdapat beberapa sekat. Pos-pos wajib yang terbagi dalam beberapa amplop ini, termasuk dalam prioritas utama pengeluaran keluarga. Nggak boleh belanja, sebelum mengamankan pos-pos wajib tadi. Kalau tergiur jajan macam-macam di awal gajian, yang ada pasti menyesal karena gaji bulanan “lenyap” tanpa jejak.

3. Menggunakan platform IPOTPAY

Teknologi IPOTPAY ini, saya aplikasikan baru beberapa bulan belakangan ini. Dan ternyata benar-benar membantu, layaknya asisten pribadi saya untuk mengatur gaji. Jadi, IPOTPAY adalah the ultimate fintech platform yang memaksimalkan hasil saldo nasabah dengan fleksibilitas tanpa batas. Bisa digunakan untuk bayar, beli, dan transfer dana tanpa limit secara real time. Dari sekian banyak fitur menarik yang IPOTPAY punya, saya paling suka sama sistem otomatisasi pengaturan pembayaran berkala. Semua transaksi pembayaran dan pembelian bisa saya kendalikan, notifikasi akan terkirim lewat email.

Lewat IPOTPAY saya bisa membayar kebutuhan bulanan, misalnya tagihan listrik, telepon, dan kartu kredit. Ini bermanfaat banget sih, membantu saya mengatur flow gaji bulanan. Nggak ada yang terlewat, fokus sesuai kebutuhan keluarga kami. Tak hanya untuk pembayaran, fitur IPOTPAY lengkap dengan fitur pembelian voucher pulsa, token PLN hingga top up e-wallet. Dengan menggunakan IPOTPAY, diskon atau potongan harga seperti yang ditawarkan oleh e-wallet tetap bisa diperoleh hanya dengan top up e-wallet dari aplikasi IPOTPAY. Fitur transfer dana tanpa batas juga menarik.

Bonus lainnya yang saya rasakan, saldo saya tidak termakan inflasi. Ada fleksibilitas tanpa batas melalui layanan penempatan dana secara otomatis di reksadana pasar uang. Hasilnya cukup menggiurkan, kisaran 7-9% per tahun.

Soal keamanannya kayaknya baru IPOTPAY deh, yang menggunakan tiga lapis keamanan. Artinya selain password, mommies harus memasukkan secure PIN dan kode OTP untuk setiap kegiatan transaksi. Sistem keamanannya juga dikenal dengan SSL 256 bit. Lebih yakin lagi menggunakan IPOTPAY, karena terdaftar dan diawasi OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Dengan mendaftar di Web IPOTPAY atau mengunduh apps IPOTPAY di Play Store atau App Store, semua keuntungan dan bonus itu saya dapatkan.

Silakan, lho, kalau ada yang punya trik lainnya. Siapa tahu, bisa jadi inspirasi buat keluarga mommies yang lainnya.


Post Comment