Bakti Mulya 400, SD Bernapaskan Islam yang Jadi Favorit Teman-Teman Saya

Warga Selatan Jakarta, pasti sudah cukup familiar dengan SD Bakti Mulya 400. Konon, sekolah ini banyak diincar karena metode serta sarana dan prasarananya sangat memuaskan. Benar nggak, sih? Yuk, simak pandangan dua teman yang menyekolahkan anak-anaknya di Bakti Mulya 400.

Menulis SD Bakti Mulya 400 jadi mengingatkan pada saat galau mencari sekolah anak saya, Bumi. Sudah sejak lama saya sering mendengar review sekolah swasta yang satu ini. Alhasil saya pun sempat memasukannya dalam daftar list sekolah incaran. Apalagi sekolah ini juga jaraknya nggak jauh dari rumah orangtua, tempat saya tinggal.

Berhubung saya berencana untuk segera pindah ke rumah second yang kami beli, Bakti Mulya 400 pun akhirnya dicoret dalam list sekolah yang kami survey. Lah wong, rumah saya di Tangerang Selatan, sepertinya mustahil jika kami memaksakan diri.

Tapi, lingkaran pertemanan saya, ada beberapa teman yang memilih Bakti Mulya sebagai lembaga pendidikan anak-anaknya. Adalah Evie dan Sofia, dua teman dekat saya semasa SMP dan SMA yang menyekolahkan kedua anaknya di BM 400. Belum lama ini saya pun berhasil bertanya pada mereka soal BM 400. Siapa tahu hasil obrolan saya ini bisa mencerahkan mommies yang punya rencana menyekolahkan anaknya di sana.

bm 400-mommiesdaily*foto dari http://sekolah.data.kemdikbud.go.id

Faktor apa saja , sih, yang membuat kalian memilih sekolah Bakti Mulya sebagai lembaga pendidikan anak-anak?

Evie       : Pertama jaraknya dekat dari rumah, baik rumah pribadi dan rumah orangtua. Soalnya, kalau ada apa-apa yang sifatnya mendadak, kakek neneknya bisa mudah menjangkau, karena gue dan suami itu kan sama-sama  bekerja. Kedua, karena lokasinya searah dengan gua dan suami saat berangkat ke kantor, jadi bisa sekalian. Anak-anak itu pakai mobil antar jemput hanya pulang saja, sementara perginya bareng ortunya.  Jadikan gue juga bisa lebih hemat, hahaha. Alasan lainnya karena memang sekolahnya bagus, mulai dari fasilitas, sarana dan prasarananya. Dan alasan terakhir itu, sekolahnya bernafaskan Islam. Jadi Bakti Mulya bukan “Sekolah Islam” tapi sekolah “bernafaskan Islam”, sekolahnya nggak mewajibkan anak perempuan untuk pakai jilbab. Tapi sekolahnya ini mengajarkan nilai-nilai Islam secara fun tapi tetap sesuai kaidah ajaran agama.

Sofia      : Terus terang saja, ketika milih sekolah anak, gue sama suami itu sepakat kalau harus cari sekolah yang bisa mengajarkan pendidikan agama. Jadi, faktor utamanya karena BM bernafaskan Islam.

Saat memilih lembaga pendidikan, apa saja sih pertimbangan kalian perhatikan? Apa memang sudah terpenuhi di SD BM ini?

Evie       : Pertama banget, sih, agama-nya dulu, kalau soal bilingual seperti Bahasa Inggris bisa menyusul. Kedua, lingkungannya. Karena di BM tidak dicampur dengan SMP dan SMA, jadi eksklusif SD. Ada temen yang cerita, dia sampai pindahin anaknya gara-gara TK, SD, SMP, SMA tumplek blek di satu lingkungan. Jadi pada saat istirahat atau pulang sekolah anak TK atau anak SD bisa lihat kakak kelasnya di kantin atau di halaman sekolah ya pacaran atau mendengar percakapan kakak kelasnya yang sudah remaja. Belum lagi, katanya anak cewek kelas 6 sudah jadi inceran kakak kelasnya yang SMP atau SMA buat dipacarin, huhuhu denger cerita kaya begini kan cukup mengerikan.

Sofia      : Kalau faktor utama itu pokoknya harus bernafaskan islam, sih, masalah kurikulum atau metode buat aku nomer berikutnya. Dan yang paling penting, anak juga perlu enjoy, sejauh ini sih masih ok ya.

Bisa dijelaskan sedikit nggak bagaimana, sih, metode pembelajaran di sana seperti apa?

Evie       : Kurikulumnya, sih, active learning, dan belajarnya itu tematik.

Sofia      : Metodenya mungkin sama seperti sekolah swasta lainnya, tapi di BM yang aku tahu itu ada kelas reguler biasa dengan bahasa pengantarnya Bahasa Indonesia  untuk kelas 1 sampai kelas 3 dan ada juga kelas Cambridge yang bisa dipilih mulai dari kelas 4 sampai kelas 6. Kalau untuk TK metodenya moving class jadi anak-anak  nggak bosen  dan bisa interaksi dengan temen  kelas lain dimasing-masing sentra class.

Dari kacamata kalian sebagai orangtua apa aja sih kelebihan SD BM 400 ini ?

Evie       : Jujur, hal pertama banget yang gue lihat dari sekolah itu toiletnya, kalau toilet kotor, jorok dan bau, ah itu sih langsung gue coret, ahahhaa. Kelebihannya, mengajarkan nilai Islam, anak gue sekolah dari sana sejak TK, umur 3 tahun dan sejak TK mereka sudah hafal bacaan sholat setiap gerakannya.

Beda banget sama gue,  dulu baru hafal doa dan gerakan sholat pas SD kelas 2, hahahaa. Anak-anak juga sudah bisa hafal  surat Juzama, padahal gue gak pernah ngajarin. Itu mereka dapat dari gurunya saat di kelas baca bersama dengan teman-teman.

Oiya, di BM ini juga nggak ada biaya daftar ulang dan bayaran sekolahnya nggak terlalu mahal, ya ini memang relatif, sih, tapi kalau dibandingkan dengan sekolah swasta lain yang sejenis, yang punya sarana yang serupa, biayanya BM ini masih terjangkau. Di sana juga bilingual, satu kelas ada 2 guru, yang satu mengajarkan dan berbahas English dan satunya lagi Bahasa Indonesia.

Sofia      : Aku tuh suka di BM dengan metode mereka yang bernafaskan Islam. Misalnya, nih, sebelum memulai pelajaran anak-anak mulai dari kelas  1 dan 2 dibiasakan membaca juzz Amma terlebih dahulu dan mulai dari kelas 3-6 mereka dibiasakan membaca AL-Quran dulu sebelum memulai pelajaran. Begitu juga di TK, pagi setelah bel masuk mereka diajarkan  sholat dhuha bersama dulu.

Sejauh ini, apa aja sih komentar anak kalian soal sekolah mereka, apa yang disuka dari sekolah BM 400?

Evie       : Selama ini yang gue lihat, sih, anak-anak enjoy banget, ya.  Nggak pernah ngeluh. Apalagi mereka di sana dari TK yang kelompok umur 3 tahun. Gue sempat tanya langsung ke mereka, katanya kalau di TK ada swimming pool-nya, kalau di SD library-nya gede. Gue sendiri belum pernah lihat perpusnya, sih.

Sofia      : Anakku yang besar  sering ngomong a kalau dia suka karena gedung sekolahnya bersih dan dan jarak dari jumah juga nggak jauh. Kalau anakku yang kecil, yang masik  TK suka karena di TK tuh ada kolam renang sendiri.

Soal fasilitas bagaimana?

Evie       : Fasilitasnya sih menurut gue sudah OK banget, semuanya sudah menunjang. Keamanannya juga sudah OK. Untk ekskulnya  yang gratis, anak-anak bisa pilih maksimal 2, kalau memang mau ikut lebih dari 2 baru bayar.

Sofia      : Fasilitasnya sih lumayan ya, ada ruang komputer,perpustakaan, pilihan ekskulnya  juga banyak banget, kok. Mulai dari  futsal, wushu, basket, melukis, menari, atau robotic.

Salah satu kekhawatiran ortu ketika anaknya di sekolah soal tindak bullying, atau sebagai sekolah yang homogen anak-anak berisiko kurang belajar toleransi. Ada nggak sih, cara pihak sekolah untuk menekan atau mencegah hal seperti ini terjadi?

Evie       : Nah itu memang jadi perhatian semua ortu, tapi kebetulan di lingkungan rumah,  tetangga gue juga banyak yang non muslim, anak gue pun main sama temennya yang  beda agam dan ras, mereka akrab-akrab saja kok. Waktu bulan puasa pun, temen-temennya juga menghormati. Memang, sih, kalau soal toleransi ini anak perlu banyak pengalaman dan kenal temen-temen yang beda agama. Kalau bullying sekarang sesama ortu juga sudah open communication, lewat WA dulu terus bisa lewat Fkom kelas dan sekolah atau langsung ke pihak sekolah kalau memang ada gejala-gejala seperti itu. Keterlibatan orangtua memang perlu, sih.

Sofia : Kalau dari pihak sekolah sih sudah ada pemberitahuan  dan ngadain  seminar juga tentang berbagai topik yang  berkaitan dengan anak-anak.  Sebagai orangtua, tinggal kita aja yang memang perlu sering bertanya sama anak  dan berpesan jangan sampai terjadi atau mengalami hal tersebut. Kasih tahu ke anak bagaimana mengatasinya, intinya memang perlu terus jalin komunikasi baik sama anak dan pihak sekolah.


Post Comment