Reflection on Childhood: Sharon Widjaja “Apa yang diinginkan oleh anak itu bukan kewajiban orangtua untuk membelikannya.”

Di usianya yang (baru) 23 tahun, dia sudah menempati posisi Product Manager. Smart dan santun, itu dua hal yang terlintas di kepala saya saat bertemu dengannya pertama kali.

Untuk mommies yang belum tahu mengenai Reflection on Childhood, sekilas info, ini adalah artikel baru di Mommies Daily yang akan mencari tahu lebih jauh tentang masa kecil dari orang-orang yang kami anggap sukses (bisa yang sudah menikah atau masih lajang). Apa yang membentuk mereka sehingga bisa menjadi pribadi yang banyak mempunyai nilai plus. Siapa tahu bisa memberikan inspirasi bagi kita dalam membesarkan dan mendidik si kecil, kan :).

Reflection on Childhood: Sharon Widjaja - Mommies Daily

Berikut hasil wawancara saya dengan Sharon Widjaja, yang mengawali kariernya sebagai anak magang di Female Daily Network dan kini telah menempati posisi Product Manager:

Apa 3 hal yang kamu sukai dari diri kamu?

1. Mandiri alias tidak suka mengandalkan orang lain
2. Senang belajar karena saya memiliki banyak minat di berbagai bidang
3. Nggak mudah terbawa arus

Pengalaman masa kecil apa yang membentuk kamu sampai bisa memiliki 3 point itu? Apakah ada kondisi-kondisi tertentu dan sejauh mana andil orangtua?

Self-reliant

Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dengan dua kakak laki-laki, semua orang mikirnya aku tuh dimanja banget. Kenyataannya? Nggak sama sekali.

Kedua orangtuaku itu sibuk bekerja, dari mereka aku belajar kalau mau mendapatkan sesuatu ya harus kerja dan usaha. Ini yang membuat aku tidak terbiasa bergantung sama orang lain. Kalau aku mau sesuatu ya aku usaha sendiri. Karena menurutku apa yang diinginkan oleh anak itu bukan kewajiban orangtua kok untuk membelikannya.

Contohnya, handphone pertama aku yang aku punya di kelas 1 SMP itu bukan dikasih orangtua, tapi hasil beli sendiri. Ngumpulin uang tabungan, bawa amplop isi uang tabungan ke toko handphone dan memilih handphone yang harganya sesuai dengan jumlah tabungan yang aku punya. Dengan usaha seperti ini, ada rasa bangga dan puas, lho! Mulai dari situ setiap kali ingin sesuatu, ya aku nabung sampai cukup. Biasanya orangtua hanya menambahkan sedikit kalau uangnya kurang, hehehe, seperti waktu beli laptop.

Kemandirian ini juga menular ke urusan belajar dan time management. Nggak ada tuh orangtuaku menyusun jadwal belajar aku, milihin tempat les, ngingetin kapan harus belajar atau bantuin bikin PR. Semua kalo masih sanggup aku kerjain sendiri, ya kerjain sendiri dengan kesadaran sendiri.

Buatku, kewajiban orangtua itu menyekolahkan anak, dan anak bertanggung jawab memberikan hasil yang memuaskan.

Multifaceted

I have many passions and interests that I want to pursue, banyak hal yang ingin aku pelajari dan explore terutama performing arts. Kegemaranku sama seni sudah sejak kecil ditanamkan orangtua dan mereka membebaskan aku untuk belajar apapun. Aku sempat les ballet, belajar biola, aktif di teater dan jadi MC.
Sebelum kuliah di jurusan broadcast and journalism, aku sempet kuliah di jurusan fashion design walaupun nggak selesai. Namun, dari sini aku belajar kalau kita memiliki pengetahuan dan minat yang beragam, itu akan membuat kita lebih ‘kaya’.

Contoh, tugas akhirku itu adalah gabungan dari berbagai minat yang aku miliki. Aku menggabungkan dua passion aku di seni dan jurnalistik untuk mempelajari film-film princess Disney dari nilai-nilai feminist. Kenapa aku mengambil film anak-anak, karena I’m passionate about children’s education too. Semua yang aku pelajari dari berbagai bidang aku yakin akan membantuku dalam hidup in one way or another, nggak ada ilmu yang nggak berguna.

Staying True to Myself

Aku dibesarkan di keluarga dengan beragam budaya dan agama. Orangtuaku berbeda agama dan etnis, ibuku Chinese Indonesian dan papaku Lampung, Sumatera. Kedua belah pihak masih sangat kental budaya dan nilai-nilai yang dipegang, jadi dari kecil aku belajar toleransi dan menghormati semua orang.

Dari aku kecil sampai beranjak remaja, aku jarang menemukan teman lain yang seperti aku, teman-temanku nggak ada yang keluarganya beragam seperti aku. Keragaman ini membuat aku berpikir, I don’t belong to just one ethnic group. I learn to love myself for who I am. Bahwa setiap orang itu pasti beda dan unik.

At the end, aku jadi paham benar siapa diriku, apa nilai-nilai yang aku pegang. Bahwa nggak perlu mengikuti ‘arus’ atau orang lain untuk fit in. Dulu saat ‘Facebook’ lagi naik daun, semua temanku punya account kecuali aku. Aku dibilang nggak gaul hanya karena aku nggak punya akun facebook. Menurutku, buat apa, toch setiap hari ketemu di sekolah.

Banyak hal yang membuat aku nggak ‘diterima’ sama kelompok pertemanan karena pandangan atau sesuatu yang aku yakini itu berbeda sama mereka, tapi aku nggak mau mengubah diriku untuk siapapun.

Reflection on Childhood - Mommies Daily

3 Buku atau film favorit kamu, yang mengubah cara pandang kamu akan sesuatu?

1. Five People You Meet in Heaven, Mitch Albom. Setelah baca buku ini cara pandang aku tentang kehidupan berubah. Semua yang terjadi pasti karena sebuah alasan, mau itu baik atau buruk. Nggak ada kejadian yang nggak penting atau waktu yang tebuang percuma, karena semua pasti berhubungan satu sama lain.

2. Wall-E. Film ini berhasil bikin aku menitikkan air mata, haha. Aku jadi makin aware untuk menjaga lingkungan dan bumi. Aku mulai dari hal-hal kecil seperti mematikan listrik saat keluar kamar, nggak asal buang sampah, mengurangi pemakaian plastik. Jangan sampai bumi kita hancur dan nggak layak untuk ditempati lagi.

3. Pay It Forward. Dari film ini aku belajar, perbuatan baik sekecil apapun bisa berdampak besar untuk orang lain. That anyone can make a change in this world. There is no such thing as a small act of kindness.

Pesan orangtua yang membekas, dan jadi semacam “my life quote”

Ini bukan pesan, tapi sesuatu yang mamiku selalu bilang kalau aku mau nginep. Dulu aku nggak boleh nginep di rumah teman, pokoknya semalam apapun harus pulang ke rumah. Mami selalu bilang “Kamu punya rumah, ngapain tidur di rumah orang.” Sekarang, aku menganggap ini cara Mami untuk mengajarkan aku bersyukur dengan apa yang aku punya. Kita selalu menginginkan lebih dari yang kita punya, selalu lihat ‘keatas’, padahal banyak orang di luar sana yang mengharapkan apa yang kita miliki.


Post Comment