Untuk Bapak dan Ibu Guru, Tolong Ajarkan Anak Saya 4 Hal Ini

Enam hari lagi kedua anak saya kembali masuk sekolah. Mereka akan bertemu guru yang baru. Dari sekian banyak ilmu yang akan diajarkan para guru, saya juga ingin agar anak-anak saya diajarkan empat hal ini.

Tahun ajaran baru ini, si kakak akan duduk di kelas 5 SD sedangkan si adik akan duduk di kelas 3 SD. Untuk si adik, teman-teman kelasnya masih tetap sama dengan di kelas dua dulu, namun yang pasti guru-gurunya akan berbeda. Sedangkan si kakak, karena kelas 5 pembagian muridnya dikocok, otomatis selain berkenalan dengan guru baru, dia juga akan berkenalan dengan beberapa teman baru. Lebih menantang pastinya :D.

Dan salah satu kebiasan saya memasuki tahun ajaran baru adalah, berkenalan dengan para guru pastinya. Mencari tahu seperti apa sifat guru-guru ini dari ibu-ibu kantin sekolah yang sudah tahunan dagang di kantin, ahahaha, atau kasak kusuk sesama orangtua murid yang anaknya mungkin sudah di atas anak-anak saya dan pernah mengalami dipegang sama guru A atau B. Ini semacam persiapan sebelum saya bertemu langsung dengan mereka, ahahaha.

Beda guru sudah pasti beda sifat, sikap, kebiasaan dan cara mengajar. Namun, satu hal yang pasti, saya selalu titip pesan, minta bantuan mereka agar di sekolah, anak-anak saya tetap diajarkan keempat hal ini:

Untuk Bapak dan Ibu Guru, Tolong Ajarkan Anak Saya 4 Hal Ini - Mommies Daily

1.Berani mengeluarkan pendapat

Sudah semakin banyak memang sekolah-sekolah yang memberikan peran lebih besar ke murid saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Tradisi sekolah zaman saya kecil, di mana sekian puluh anak mendengarkan satu guru dan cenderung berjalan satu arah sudah semakin ditingalkan. Namun, nggak nutup mata masih ada guru-guru yang model begini. Jadi, saya sebelumnya sudah ‘minta izin’ kalau suatu saat anak-anak saya mungkin mengkritisi atau mendebat atau sekadar bertanya tentang sebuah topik, yang disampaikan oleh para guru, tolong biarkan mereka melakukannya selama disampaikan dengan cara yang baik.

2.Berpikir dengan logika bukan sekadar hapalan

Saat UKK tahun kemarin, anak saya yang kecil mengeluhkan tentang satu soal yang menurut dia jawabannya benar namun disalahkan oleh bu Guru. Demikian percakapannya:

A: Ma, masa ada satu soal yang menurut aku jawabannya benar tapi disalahin sama bu Guru.

M: Oya, soal tentang apa?

A: Ada pertanyaan tentang bumi berputar pada…..Jawabanku disalahin karena kata bu Guru yang benar itu berputar pada porosnya. Padahal jawabanku juga benar kok.

M: Emang jawaban kamu apa?

A: Aku jawabnya berputar pada siang dan malam hari serta setiap hari. Tapi sama bu guru itu salah, jawabannya harus sesuai dengan buku pelajaran. Terus udah, aku disuruh balik ke kursi.

Nangkap kan maksud saya ya mom?! Iya, mungkin benar bahwa menurut buku jawabanya adalah berputar pada porosnya. Tapi jawaban anak saya menurut dia juga benar, ahahaha. Harapan saya, sebelum si anak main disuruh kembali ke kursinya, coba kasih penjelasan atau bisa jadikan ini topik diskusi kan.

3.Bahwa mereka nggak harus sempurna dalam segala hal

Saya selalu mengatakan ke anak-anak saya, dari sekian banyak mata pelajaran, nggak perlu mereka meraih nilai bagus di semua mata pelajaran. Mereka manusia tidak sempurna yang juga punya keterbatasan. Yang mungkin bisa 100 di Bahasa Indonesia tapi harus cukup puas dengan nilai 75 di Matematika, dst. Jadi, tolong jangan push anak-anak saya untuk menjadi murid teladan di semua faktor :).

4.Belajar memiliki empati bahkan untuk hal yang kesannya sepele

Menertawakan teman yang jatuh, ngeledek teman yang dapat nilai tiga, memusuhi teman yang dianggap nggak keren mungkin memang nggak masuk dalam kategori penilaian akademis, namun tolong bantuannya ya pak, bu, untuk mengingatkan anak-anak ini, bahwa itu bukan tindakan yang terpuji. Ingatkan mereka terus untuk memiliki empati terhadap sesama. Jadi, kalau ada seorang anak yang datang ke Bapak atau Ibu dan mengeluhkan tentang teman-temannya yang meledek, jangan katakan “Udah, gitu aja pakai ngadu.” Karena sampai si anak mengeluh, itu tandanya dia memang merasa tidak nyaman :).

Harapannya, dengan nilai-nilai yang sama di rumah atau di sekolah, anak-anak saya bisa memupuk empat kebiasaan di atas ini hingga mereka tua. Mana Aminnya?? :)


Post Comment