Superwoman Gagal itu Bernama Ibu

Ditulis oleh: Azza Waslati

Merasa lelah menjadi Ibu? Jangan salahkan diri dan merasa gagal karena tak sanggup menjadi Superwoman yang diharapkan orang-orang. Superwoman itu fiktif, Anda bukan.

“Hidup gue baru damai saat di kamar mandi. Setidaknya di sana nggak ada macet, kerjaan kantor yang nggak pernah habis, atau anak yang minta ini itu. Wait, di kamar mandi pun anak gue masih ngejar minta tolong ini itu sih! Ha ha ha…” Kemarin saya membaca twit yang isinya kurang lebih seperti itu.

Dan banyak ibu-ibu lain yang merasakan hal yang sama. Bahkan, di kehidupan sehari-hari pun, saya sebagai ibu dari 3 orang anak mengalaminya. Rasanya kamar mandi itu seperti bunker tempat menyelamatkan diri dari perang dan kisruh di luar sana.

Tak ada jam istirahat atau hari libur yang pasti buat seorang ibu. Tentu saja ini bukan keluhan, karena sebagai ibu kita dicemoohkan saat mengeluh. Ha ha ha… Iya, itu tadi sarkasme.

Dulu, saya mengira saya ibu yang cukup lumayan. Karir bagus, anak 3 semuanya baik, rumah tangga pun tak ada masalah berarti. Hingga suatu saat saya masuk rumah sakit 2 kali dalam waktu berdekatan. Penyebabnya vertigo. Sejak itu saya jadi mudah sakit. Bahkan pernah sampai lupa caranya bernapas!

Saya memutuskan untuk bertemu seorang kawan lama yang bekerja sebagai terapis. Dia memiliki beberapa sertifikasi dari luar negeri untuk mental wellness therapy. Sahabat saya tidak mengatakan apa masalah saya, namun dia membimbing saya untuk menemukan masalah saya sendiri. Saya kelelahan, bukan sekadar fisik, tapi juga jiwa. My body was trying to shut down because I was so tired, but I didn’t want to admit it. I couldn’t breathe because, mentally, I sabotaged my body to tell me something.

Anda tahu ada orang yang malas saat menyapu? Dibanding membuang debu keluar rumah, dia menyapunya ke bawah karpet atau menyembunyikannya di sudut ruangan. Itu yang sering kita lakukan dengan masalah-masalah kita.

Saking sibuknya kita dengan rutinitas, ditambah lagi kebiasaan denial supaya kita bisa tetap berfungsi normal, sebagai ibu kita menaruh diri di prioritas belakang. Tujuannya agar anak dan keluarga terurus, dan kita merasa bahagia melihat mereka bahagia. Kita bahagia karena merasa diri kita sudah melakukan hal yang benar. Namun, hal itu tidak menyebabkan masalah menjadi lenyap.

Superwoman Gagal itu Bernama Ibu - Mommies Daily

Bolehkah Ibu Lelah?

“Menurut saya, ada yang salah dengan masyarakat yang menuntut perempuan untuk menjadi Superwoman. Wanita sukses adalah yang karirnya cemerlang namun keluarga tetap nomor 1. Masuk akal nggak? Kita harus memenuhi kewajiban kita di dua tempat sekaligus. Coba kalau di kantor kita ijin ini itu buat keperluan anak, pasti dicibir sebagai emak-emak nggak profesional. Sementara kalau di rumah kita telat pulang ngantor udah dijudesin mertua yang dititipin anak. Kayaknya dosa besar banget. Padahal dunia kan nggak selamanya berjalan sesuai keinginan kita.” Mira, ibu 2 anak yang bekerja di industri makanan mengungkapkan kekesalannya.

Di luar negeri, orang ramai membicarakan parental burnout, kelelahan jiwa raga yang mempengaruhi performa kita sebagai orang tua. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Yang pro bilang bahwa ibu, memang perlu lebih memperhatikan dirinya sendiri. Perlu lebih banyak me time dan bersosialisasi. Intinya, lebih perhatian pada diri sendiri.

Yang kontra bilang bahwa orang tua zaman sekarang sudah banyak distraksi yang mengakibatkan anak tak terurus dengan baik. Sebagai contoh, orang tua asik bersosial media hingga mengabaikan keselamatan si anak bahkan dirinya sendiri.

Terlepas dari pro dan kontra ini, adalah hal yang sering terjadi bahwa kita punya kecenderungan “mengorbankan diri” saat memiliki anak. Pengorbanan mulai dari sisi waktu dan tenaga. Tentunya, saat tenaga kita habis, kita perlu mengisinya. Namun, seperti batre yang di-charge, kita cuma menganggap bahwa untuk bisa berfungsi baik, kita perlu istirahat alias tidur. Bagaimana dengan kebahagiaan lainnya?

“I can’t afford to be burned out. I can do this,” begitu kata Aris, ibu dari Jarvis yang juga bekerja kantoran. “Kalau super capek, jadinya gue uring-uringan. Dan jadinya yang kena Jarvis. Tapi sekarang gue mengatasinya dengan minum kopi habis maghrib. Capek sih masih, tapi sangat mengurangi kebutekan kepala.”

Me Time

“Me time? Teramat langka. Paling nonton bioskop. Dulu, bisa 3-4 kali seminggu. Sekarang, sekali setahun juga udah syukur. Itu juga terburu-buru. Dateng, nonton, pulang. I would feel extremely guilty. Bukan ke Jarvis, tapi ke orang yang dititipin jagain dia.”

Sudah terlalu sering me time dibahas. Dan kita semua sepakat agar bisa menjadi ibu yang baik, kita juga perlu bahagia dan menjaga diri kita sendiri. Tidak cuma dari segi makanan, tapi juga istirahat dan kebahagiaan diri. Kalau ibunya nggak bahagia, bagaimana bisa membahagiakan anak?

Kita pun perlu berhenti menyalahkan diri sendiri, yang memang hasil indoktrinasi masyarakat. Ibu harus begini, ibu harus begitu. Niatnya mungkin baik, agar anak menjadi prioritas, tapi bukan dengan cara mengenyampingkan kesehatan dan kebahagiaan ibu, harusnya.

Me time tidak harus terbang ke Ubud untuk meditasi. Me time bisa jadi ke toko buku kesayangan, lalu duduk membaca di sudut kafe favorit. Jangan lupakan juga menjaga hubungan dengan kawan-kawan yang seringnya terlupakan. Menjadi ibu harusnya tidak membuat Anda kehilangan diri sendiri. Menjadi ibu sepatutnya membuat Anda semakin utuh, memperkaya diri, dan melengkapi kebahagiaan Anda.

Jadi, Ibu lelah? Jangan salahkan diri dan merasa gagal karena tak sanggup menjadi Superwoman yang diharapkan orang-orang. Superwoman itu fiktif, Anda bukan. Anda hebat dengan segala perjuangan memberikan yang terbaik bagi keluarga.

Dan kalau yang terbaik menurut Anda ternyata dianggap belum cukup baik oleh orang lain? Mungkin mereka perlu lebih banyak me time biar bahagia dan tidak sibuk menghakimi para ibu.


Post Comment