Cara Menyampaikan Kritik Secara Profesional kepada Tim Anda

Hati-hati saat harus memberikan kritik terhadap tim mommies, salah menyampaikan bisa-bisa malah tersinggung dan pesan yang ingin disampaikan tidak dapat terserap dengan baik.  

Pernahkah mommies memberikan kritik atau mungkin menerima kritik dari orang lain? Tentunya pernah, ya? Seringkali kita merasa alergi menerima kritik karena isinya yang cenderung negatif dan mungkin dapat menyinggung perasaan kita. Padahal kritik itu sesungguhnya sangat berguna bagi proses belajar dan penngembangan diri, karena seringkali kita perlu mendapat masukan dari orang lain tentang hal-hal apa perlu kita perbaiki. Cuma jika kita disampaikan secara tepat, maka kritik bisa berakibat negatif, misalnya melemahkan semangat orang yang dikritik. Nah supaya kritik tetap bersifat membangun dan membawa manfaat bagi orang lain berikut ini ada beberapa cara yang mommies dapat ikuti.

Baca juga: 5 Hal yang Sebaiknya Jangan Dikatakan Atasan kepada Bawahan

Cara Menyampaikan Kritik Secara Profesional kepada Tim Anda - Mommies DailyImage: www.fortune.com

1. Fokuslah pada perilaku, bukan label

Sebuah kritik sebaiknya berfokus kepada perilaku orang yang dikritik, bukan mengarah kepada penilaian atas pribadinya. Misalnya daripada menyebut bawahan sebagai “pemalas”, kita bisa menyoroti perilaku spesifik si bawahan yang perlu diperbaiki. Misalnya, kita bisa menyampaikan bahwa selama sebulan terakhir si bawahan seringkali datang di atas jam 9 pagi, sehingga pelanggan yang menelpon tidak terlayani dengan baik.

Keuntungan memberikan kritik yang berfokus pada perilaku adalah karena hal tersebut memberi peluang perbaikan di sisi orang lain. Sebaliknya jika kita menggunakan kata-kata yang menyerang pribadi, seolah-olah kita membicarakan sifat dasar  yang sulit untuk diubah. Di samping itu kata-kata yang menyerang pribadi bisa membuat orang lain tersinggung dan tidak termotivasi untuk melakukan perubahan. Oiya, jangan lupa menyampaikan dampak dari perilaku yang perlu diperbaiki tersebut. Jabarkan dampak negatif jika perilaku tersebut diteruskan dan manfaatnya jika perilaku tersebut diubah.

Baca juga: 10 Skills You’ll Need in The Workplace by 2020

2. Sampaikanlah hal-hal yang positif terlebih dahulu

Sebelum memberikan kritik ada baiknya mommies menyampaikan terlebih dahulu hal-hal positif yang mommies amati pada orang yang bersangkutan. Hal-hal positif tetap harus dijabarkan dalam bentuk perilaku yang teramati. Misalnya, mommies bisa menyampaikan betapa mommies menghargai kualitas kerja sang bawahan yang hasilnya sesuai dengan harapan mommies.

Sesudah hal-hal positif tersampaikan barulah sampaikan kritik untuk perbaikan bawahan. Masukan-masukan positif bertujuan untuk membangun emosi positif pada diri orang lain, sehingga ia lebih siap menerima kritik. Namun demikian, sebaiknya hindari menggunakan kata “tapi” sesudah mommies menyebutkan hal-hal yang positif. Misalnya, “kamu sih sudah baik dalam bekerja, tapi sayangnya kamu masih sering datang terlambat. Dalam contoh tadi, pujian mommies menjadi berkurang bobotnya, karena menyiratkan rasa kurang puas yang tersembunyi. Cobalah pisahkan antara masukan positif di awal dengan kritik yang kemudian ingin disampaikan dengan mengatakan, misalnya, “Nah, kalau tadi saya sudah menyampaikan hal-hal positif dalam cara kerjamu, sekarang saya mau menyampaikan hal-hal yang perlu kamu perbaiki sehingga kinerjamu bisa lebih baik lagi..”

Baca juga: Bagaimana Kita Bisa Menjadi Pendengar yang Baik Dalam Dunia Kerja?

3. Nyatakan dengan tenang

Kritik yang disampaikan ketika mommies sedang terbakar amarah tentunya dapat mengaburkan pesan konstruktif yang ingin mommies sampaikan. Carilah waktu yang tenang, ketika mommies tidak terlalu emosi, dan sampaikan kritik secara pribadi, jangan mengumbarnya di depan orang banyak. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan orang lain menangkap esensi dari kritik yang mommies sampaikan.

Baca juga: Ibu Bekerja, Berhenti Melakukan 4 Hal Ini Agar Karier Tidak Jalan di Tempat

 4. Bantu dengan memberi saran perbaikan

Sedapat mungkin berikanlah juga saran kepada orang lain tentang bagaimana ia bisa meningkatkan kinerjanya atau memperbaiki perilakunya. Dengan demikian orang bisa mendapatkan ide tentang langkah-langkah konkrit yang bisa ia lakukan.

5. Fokus pada fakta bukan asumsi

Usahkan untuk mendasarkan kritik pada fakta dan data bukan asumsi-asumsi yang belum teruji. Daripada menghakimi orang berdasarkan anggapan yang kita bangun sendiri, lebih baik berbicara tentang apa yang teramati dan terukur, misalnya, jumlah customer yang mengeluh, seberapa sering perilaku yang dikritik muncul atau kerugian yang ditanggung akibat perilaku buruk yang dipertahankan. Fakta bisa diamati dan didiskusikan, sementara asumsi hanya mengundang perdebatan tanpa titik temu.

Baca juga: 7 Kesalahan yang Sering Kita Lakukan di Tempat Kerja

*Artkel ini ditulis oleh Tim EXPERD


Post Comment