Biarkan Si Kecil ‘Berteman’ dengan Pisau dan Kompor

Nggak usah buru-buru melarang atau malah sampai memarahi anak ketika memegang pisau. Termasuk berdekatan dengan kompor. Kenapa?

Tunggu… jangan buru-buru langsung mencap saya ini ibu yang gila, ya, karena membiarkan anak memegang pisau dan berdekatan dengan kompor. Tapi serius, deh, buat saya membiarkan anak untuk mengenal pisau dan kompor juga sebenarnya sangat perlu.

Saya kasih sedikit contoh, ya. Ayah saya tipe lelaki yang jarang banget masuk ke dapur. Bahkan buat menyalakan kompor saja nggak bisa, hehehe. Jadi, kalau mau membuat sesuatu atau sekedar menghangatkan makanan selalu tergantung dengan orang lain. Buat saya, sih, kondisi ini merepotkan sekaligus merugikan, ya :D

Saya sendiri menganggap bahwa salah satu keterampilan hidup yang perlu diajarkan sebelum anak usia 10 tahun adalah memasak. Lalu, gimana anak bisa terampil kalau sama pisau dan kompor saja takut? Lagi pula saya yakin, mommies setuju kalau saya bilang, mengajak anak ikut memasak punya ragam manfaat.

Masalahnya, nih, sebagai ibu kita suka parno membiarkan anak untuk ikutan masak di dapur. Anak pegang pisau, langsung diomelin. Takut jari tangan anaknya cidera lantaran teriris. Anak ikut menggoreng makanan, takut anaknya kecipratan minyak panas atau kena penggorengan panas.

biarkan si kecil berteman dengan pisau dan kompor_mommisdaily

Ada yang kaya begini nggak? Bukannya pintar masak, bisa-bisa anak malah mengangap dapur sebagai ‘neraka’ :D Selain itu, akhirnya banyak orangtua yang lebih memilih mengajak anaknya membuat kue alias baking ketimbang masak sungguhan.

Saya terlahir dari seorang ibu yang doyan dan jago masak. Rasanya, hampir semua masakan yang dibuat mama saya selalu enak. Nggak ada yang ngalahin, deh! Tidak sedikit dari teman-teman yang akhirnya berguru dan tanya resep makanan ke mama saya.

Karena terbiasa melihat mama masak, saya pun akhirnya punya ketertarikan untuk belajar masak. Nggak mengherankan, ya, kalau saya lebih senang bergulat dengan centong dan ulekan sambel ketimbang ketemu dengan pel sama sapu, hahaha. Dan saya lihat, sejak kecil Bumi pun sudah punya ketertarikan serupa. Seneng main di dapur dan ikut-ikutan masak.

Namanya juga ibu-ibu, ya, saat Bumi mulai senang ikut-ikutan ke dapur, saya paling takut kalau dapur anak saya ini memainkan pisau. Nggak kebayang gimana ngilu dan sakitnya kalau saat bantu saya masak, tahu-tahu tanganya tanpa sengaja teriris.

Tapi kalau saya tidak memberikan izin, parno dengan ketakutan sendiri, bukannya justru akan menimbulkan kekhawatiran pada anak saya, Bumi? Saya pun akhirnya sadar, kalau mau anak saya mencintai kegiatan masak-memasak, tentu perlu adanya keyakinan lebih dulu. Artinya, saya perlu menyisihkan ketakutan kita dan membiarkan anak melakukannya.

Dari pada terus-terusan melarang anak memegang pisau, gimana kalau kita justru memberikan inspirasi dan menghilangkan rasa takut mereka. Siapa tahu kan suatu saat anak kita jadi chef andal? Yah… setidaknya ketika besar, mereka bisa masak sendiri.

Biarkan anak memasak sungguhan

Maksud saya membiarkan anak memasak sungguhan, artinya membuat menu makanan selain kue atau cookies, ua.  Sebenarnya nggak ada yang salah mengajak anak bikin cookies, lah wong kegiatan ini juga menyenangkan dan bisa dikenang sampai anak besar, kok. Tapi maksud saya, nggak da salahnya juga kalau kita mengajak anak membuat menu sederhana seperti membuat orak-arik telur, membuat tepung ayam crispy atau membuat menu fish and chips. Kalau anak dilibatkan secara langsung untuk membuat menu makanan yang mereka suka seperti ini, tentu akan memperluas referensi mereka. Harapannya, sih, saya ingin mengajarkan pada pada  Bumi kalau memasak itu memang kegiatan yang menyenangkan.

Biarkan anak yang menjadi pemimpin

Nggak usah ditanya, ya, kalau orangtua khususnya ibu tanpa sadar suka mengendalikan anak dan maunya menjadi pemimpin. Anak, ya, harus manut. Padahal, dalam kegiatan masak-memasak ini anak juga perlu diberikan kepercayaan. Nggak ada salahnya, kok, membiarkan anak yang menjadi leader, mulai saja dengan membiarkan anak memutuskan apa yang ingin dimasak. Kalau anak mendaoatkan kesempatan menjadi chef, tentu saja bisa menimbulkan rasa percaya diri dan anak juga bisa akan lebih menikmati prosesnya.

Biarkan anak ‘berkenalan’ dengan pisau tajam dan kompor yang panas

Saya ingat, pertama kali mengenalkan Bumi pada pisau ketika anak saya ini ingin membantu saya mengupas buah mangga saat usianya masih 5 tahun. Deg-degan takut tangannya teriris? Ya, jelas saja. Tapi kalau nggak diberikan kesempatan untuk mencoba, kapan bisanya? Kapan beraninya? Menurut saya yang paling pentig adalah bagaimana kita bisa mengajarkan anak untuk terampil menggunakan pisau. Tentu saja, juga perlu diawasi.

Nggak usah ngomel kalau dapur berantakan dan hasilnya tidak sempurna

“Aduuuh, kok, beratakan banget, sih?”. “Lho, kok, ngirisnya begitu? Salah…. harusya seperti ini”.

Yah, namanya juga lagi belajar, ya…. Pasti hasilnya nggak sempurna. Selama menjadi orangtua saya memang selalu berusaha untuk menekan ekpektasi saya yang terlalu besar. Dengan ekspektasi yang terlalu tinggi, nggak hanya membuat saya stress, tapi anak juga iku-ikutan stess. Iya kan? Namanya masak, aneh juga kalau berharap kondisinya langsung bersih. Justru dari sini, anak-anak juga perlu belajar kalau bersih-bersih  adalah kegiatan yang nggak bisa terelakkan saat memasak, dan mereka harus punya kewajiban dan tanggung jawab untuk membantu membersihkan.

 


Post Comment