Keterampilan Hidup yang Perlu Diajarkan Sebelum Anak Berusia 10 Tahun

Kemampuan teknologi memang dibutuhkan oleh anak-anak kita sekarang. Tapi, jangan sampai lupa, kalau anak juga perlu diajarkan keterampilan hidup lain sebelum mereka memasuki usia 10 tahun. Keterampilan apa saja?

Suatu ketika, sedang lagi asik ngobrol-ngobrol dengan Bumi, anak saya ini tiba-tiba saja bertanya soal kematian. Iya, pertanyaan anak usia 6 tahun memang sering kali random. Kadang bikin ngikik, kadang bikin hati mellow, mengharu biru. Persis seperti yang diucapkan Bumi waktu itu.

Saat itu Bumi sempat bertanya soal umur dan kapan seseorang bisa meninggal. Hingga akhirnya dia bilang, “Bu, kalau nanti aku sudah dewasa, Ibu dan Bapak masih ada nggak, ya?”. Duh, waktu denger kalimatnya, hati saya mencelos. Sedih. Kemudian membayangkan, ketika saya sudah nggak ada di dunia, ini, apakah saya sudah memberikan ‘bekal’ yang cukup untuknya?

Bekal yang saya maksud tentu saja nggak terbatas dengan pendidikan yang tinggi atau persiapan finansial. Tapi, lebih kepada keterampilan agar anak bisa bersikap mandiri sejak dini. Rasanya, bekal yang saya berikan memang belum seberapa. Biar bagaimanapun, pekerjaan rumah orangtua itu kan banyak sekali, yang akan terus bertambah seiring pertumbuhan usianya.

Beberapa waktu lalu, saya sudah sempat menulis, 4 Pelajaran Hidup yang Sering Lupa Diajarkan pada Anak. Mengingat saat ini usia Bumi sudah 6 tahun, salah satu tantangan kedepannya adalah menyiapkan pelajaran atau keterampilan yang perlu ia kuasai ketika ia tumbuh besar.

Untuk itulah saat ini saya sedang membuat list keterampilan apa saja yang perlu diajarkan pada Bumi sebelum ia berusia 10 tahun.

  1. Mencuci

Siapa di antara Mommies yang sudah mulai mengajarkan anak untuk membersihkan pakaian mereka sendiri? Bukannya mau ‘menyiksa’ anak, tapi kelak ketika anak sudah remaja, dan mungkin saja harus hidup mandiri karena kuliah di luar kota atau luar negeri, kemampuan ini tentu perlu dimiliki.  Caranya, bisa dengan mengajaknya untuk menyortir pakaian, bagaimana mengoperasikan mesin cuci, kemudian menambahkan sabun, hingga menjemur. Nggak ada salahnya kok, mulai mengenalkan tugas ini pada anak. Setidaknya dilakukan saat akhir pekan. Lagi pula, anggap saja aktivitas mencuci bersama anak ini jadi ‘bonus’ buat ART karena bisa istirahat.

  1. Mengobati luka

Sampai sekarang, kalau habis jatuh dan ada bagian kakinya terluka, anak saya masih saja heboh. Heboh dalam artian nangis dan minta segera diobati. Buat saya, sih, kemampuan anak untuk mengobati lukanya sendiri perlu diajarkan sebelum usianya 10 tahun. Saya pikir perlu kok melatih anak nggak panik saat melihat darah, termasuk tidak bereaksi berlebihan. Untuk itu, saya pun mulai mencari cara bagaimana mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit dan tentunya mengajarkan beberapa langkah untuk membersihkan dan mengobati luka. Oh, ya, di rumah jangan sampai nggak ada P3K, keberadaannya memang sering dianggap sepele namun sangat penting, lho, ya.

  1. Membersihkan Kamar Mandi

Keterampilan yang satu ini rasanya sudah dikenal Bumi sejak lama. Mengingat anak saya doyan banget main air di kamar mandi, dia sering kali beralasan membantu saya membersihkan kamar mandi. Ya, meskipun hasilnya masih nggak karuan, tapi lumayanlah…

  1. Menyiapkan Makanan Sederhana

Aktivitas ini sering kami tunggu-tunggu saat akhir pekan. Masak bersama! Semua Mommies pasti sudah paham kalau banyak sekali pelajaran yang bisa diambil saat mengajak anak masak bersama. Buat saya. Ini adalah keterampilan hidup yang cukup mendasar Menu yang dipilih pun nggak usah yang ribet. Salah satu contohnya bisa membuat salad, pudding, donat atau sandwich. Lebih serunya lagi, sih, bisa mengajak anak baking. Sayangnya sampai sekarang saya belum punya oven. *hiks

kemampuan keterampilan hidup anak

  1. Menulis surat

Sudah tidak terbantahkan lagi, ya, kalau anak-anak zaman sekarang makin sering berkomunikasi menggunakan teknologi. Termasuk menggunakan  media sosial. Bahkan penelitian AVG Technologies membuktikan kalau 50 anak berusia 6-9 tahun lebih sering berkomunikasi dengan temannya  secara online. Memang nggak ada yang salah, sih, dengan hal ini, tapi kondisi ini sering membuat anak-anak lupa bahkan tidak paham bagaimana menulis surat. Alhasil, mereka pun tidak paham kaidah berbahasa yang baik dan benar. Setidaknya, ketika anak bisa menulis surat dengan benar, bagaimana cara memparkan pada selembar kertas, kemampuan sangat bermanfaat ketia ia sudah tumbuh dewasa. Syukurnya di usia Bumi sekarang, saya sudah melihat dirinya punya kemampuan untuk menulis surat. Setidaknya anak saya ini sering sekali membuat surat cinta buat ibu dan bapaknya.


One Comment - Write a Comment

  1. Setuju dengan poin terakhir, di tengah derasnya arus informasi, tapi Anak tidak diajarkan bagaimana kembali menceritakan informasi yang diterimanya secara runut dan runtun. Padahal itu adalah bekal utama bahkan bisa menjadi mata pencaharian, misal suatu saat menjadi penulis. *inisihmimpimomminya*

Post Comment