Adu Argumen dengan Pasangan di Depan Anak? Nggak Selalu Buruk, Kok!

Percaya, deh, anak nggak selalu harus melihat orangtuanya tampil mesra dan harmonis. Sesesekali anak juga perlu melihat orangtuanya adu argumen secara sehat, lho!

Ok, saya paham sekali kalau anak memang sebaiknya nggak perlu melihat orangtuanya bertengkar. Adu mulut menggunakan kata-kata kasar, apalagi sampai gontok-gontokan alias KDRT. Iiiih… itu sih, sudah pasti menyeramkan dan berdampak buruk pada perkembangan emosionalnya.

Tapi bukan berarti anak jadi nggak boleh melihat ayah ibunya saling berargumen lho, ya. Dalam artian adu argumen secara sehat. Semacam diskusi gitu, deh. Kalau perlu, jika memang anak sudah cukup besar seperti anak saya, Bumi, bisa juga dilibatkan untuk dimintai pandangan atau pendapat. Dari sini justru sebenarnya ada banyak hal yang justru bisa anak pelajari.

Bisa dibilang saya ini tipe orang yang blak-blakan, maksudnya kalau memang ada sesuatu yang nggak disuka, saya lebih suka langsung mengungkapnya saja. Dengan catatan hal ini saya lakukan pada orang yang memang hubungannya sudah cukup dekat. Kalau belum, jelas saya masih bisa membatasi alias bisa ngerem. Intinya, sih, harus tetap bisa melihat siapa lawan bicara yang saya hadapi.

Kalau sama suami? Wah, kalau sama pak suami jelas lebih senang apa adanya. Kalau ada sesuatu yang mengganjal dan berkaitan dengan rumah tangga, saya akan memilih untuk langsung membicarakannya. Lagi pula buat apa ditahan-tahan? Saya takut malah jadi bom waktu, yang bisa meledak kapan pun juga. Makanya saya lebih senang mengungkapkannya saat itu juga biar lebih plong. Dari pada ditelan sendiri, bikin stress dan malah nimbulin jerawat, kan makin bahaya, hahahaa.

argumen di depan anak mommiesdaily

Pernah suatu kali, saat sedang makan bersama, saya berdiskusi dengan suami. Ndilalahnya, obrolan kami  itu kian memanas, karena padangan saya dan suami ternyata bersebrangan. Padahal ketika itu kami sedang makan bersama anak.

Dengan polosnya Bumi akhirnya melontarkan satu pertanyaan, “Ibu dan bapak lagi berantem, ya?”

Sambil senyum, saya pun langsung jawab, “Nggak, kok, Mas Bumi… ibu sama bapak lagi diskusi seru. Jadi ngomongnya tambah serius gini, deh”. Dan langsung ditimpali oleh suami, “Iya, mas Bumi… ibu dan bapak nggak berantem, kok.”

Ada kalanya, saya dan suami tidak menutup-nutupi atau menunda untuk berdikusi di depan anak. Buat kami, justru ada beberapa nilai yang bisa dipelajari oleh anak, salah satunya adalah keberanian untuk mengemukakan pendapat. Berkaitan dengan hal ini, saya pun bertanya dengan Mbak Ayank Irma, selaku psikolog anak dan remaja. Dan ternyata, memang benar, kok, ketika anak melihat orangtuanya sedang berdiskusi dan berargumen, mereka bisa belajar banyak hal.

“Ketika anak melihat orangtuanya sedang berargumen, umumnya anak-anak akan belajar mengenai penghargaan walaupun berbeda pendapat. Belajar mencari solusi atau pemecahan masalah yang baik, belajar bicara dengan efektif tanpa berkata kasar atau merendahkan,” jelas Mbak Irma.

Argumen yang dimaksud di sini tentu dengan cara yang sehat, yaitu bagaimana kita bisa mempu menghargai pendapat satu dengan lainnya, paham kapan saatnya bicara dan mendengarkan pasangan, termasuk menyatakan keberatan tanpa merendahkan satu sama lain.

Malah, menurut Mbak Irma lagi, jika ditinjau dari sisi psikologi, anak yang melihat diskusi sehat antara orangtua juga akan merasa  nyaman dan biasanya jauh lebih bahagia dibandingkan mereka yang seringkali melihat ayah ibunya adu argumentasi dgn cara yang negatif.  “Perilaku positif ini tentunya akan ditiru anak dalam kehidupannya, umumnya bisa menjadi leader yang akomodatif ketika berada dalam kelompok sosialnya,” tukas Mbak Irma.

Jadi memang perlu dipahami, ya, kalau argumentasi di sini dilakukan secara sehat dan postitif. Bukan dengan cara negative, seperti berteriak, saling memojokkan dan berkata kasar, saling merendahkan, anak yang melihat akan mengalami rasa yang tidak menyenangkan, bisa juga menimbulkan trauma sehingga penghayatan anak terhadap konsep pernikahan juga bisa menjadi buruk. Atau bisa juga anak menutup perilaku yang ditampilkan orangtuanya.

Oh, tapi sebagai orangtua kita juga perlu tahu batasan, topik apa yang boleh dan tidak didebatkan di depan anak. Kalau Mbak Irma mengigatkan, bahwa jangan sampai anak mendengarkan argumentasi atau melihat oarngtuanya cek cok yang berkaitannya dengan dirinya. Artinya, ayah ibu tidak konsisten soal pengasuhan, karena pasti akan berdampak pada psikologis anak. Selain itu, hindari juga pembicaraan yang sensitif tentang keluarga besar di hadapan anak, termasuk meributkan soal keuangan.

Jadi kalau diskusi seru soal pemilihan Gubernur DKI boleh, dong, ya! :D

 

 


Post Comment