Supaya Anak Bisa Menghargai Pendapat Orang Lain

Dibuat oleh: Dewi Warsito

Suka gemas kalau lihat di sebuah kelompok bermain, ada anak yang ngomong melulu, nggak ngasih kesempatan temannya yang lain?

Percaya, kan, kalau anak adalah peniru paling ulung? Kalau dia sampai nggak mau mendengarkan pendapat orang lain, atau selalu mau dituruti keinginannya, bisa dipastikan bahwa karakter inilah yang memang dibentuk oleh lingkungannya. Entah itu oleh orangtua, sekolah, atau lingkungan tempat ia tinggal. Jadi, bukan bawaan, ya, Moms!

Supaya Anak Bisa Menghargai Pendapat Orang Lain - Mommies Daily

Contoh dari Orangtua

Hal pertama yang harus kita perhatikan, bahwa dalam bersikap anak-anak justru melihat contoh dari keseharian kita, orangtuanya. Kita jelas memberikan contoh nyata dalam melihat atau menyikapi sebuah persoalan. Let’s see. Selama menonton debat Pilkada DKI kemarin, apa yang keluar dari mulut kita? Ketika kita dukung paslon 1 sementara suami mendukung paslon 2, keluarkah komentar-komentar menghakimi, gerutuan, serta pernyataan-pernyataan tak mau kalah dari mulut kita sendiri? Nah, ini yang harus diwaspadai. Perbedaan pandangan politik tentu tak menjadi masalah selama kita bisa mengompromikan satu sama lain. Misalnya, di depan si kecil kita bisa jelaskan kenapa mommies pilih paslon 1, sementara si ayah pilih paslon 2. Dengan begitu, anak akan bisa melihat bahwa di antara orang-orang yang saling mencintai pun, perbedaan pendapat sah-sah saja. Menjadi tidak sah ketika saat menyampaikan pendapat kita emosi tinggi dan saling menyerang.

Anak Juga Boleh Punya Pendapat

Pernah suatu kali, anak saya yang pertama bersikeras “Aku nggak mau les piano, mama, please,”. Ini kesekian kalinya saya dengar ia merengek menolak berangkat les piano. Padahal bila dilihat permainan pianonya buat saya banyak kemajuan. Oke, akhirnya saya pun menanyakan dirinya, kenapa? Apa yang membuat ia belakangan alergi kalau harus les piano. Oh, saat ini merasa bosan dengan materi yang diberikan. Saya hargai pendapatnya, dengan tidak memaksa berangkat saat itu. Kemudian saya pun bicara dengan guru lesnya, dan kemudian oleh gurunya, materinya dimodifikasi agar tidak terlalu membosankan membuat si kakak tak lagi ogah berangkat les.

Intinya begini, nih, mom. Kita sebagai orangtua juga ingin didengar, kan? Begitu pun anak-anak. Dia mungkin punya pendapat sendiri mengapa les piano tak ingin lagi diikutinya. Mungkin saja dia bosan, atau ternyata dia tidak suka dengan guru lesnya. Jadi kalau kita mau mendengarkan pendapatnya, kita bisa tahu kalau ternyata bukan les pianonya yang dia tidak suka, tapi gurunya. Dengan begitu solusinya bisa dicari bersama.

Selain itu, kita juga bisa minta bantuan mereka untuk menentukan hal-hal dalam kseharian kita, seperti lokasi kita berakhir pekan. Misalnya, kita memberikan 3 pilihan, mau camping, menginap di hotel, atau ke museum. Saat mereka memilih, coba tanyakan apa yang membuat mereka memilih tempat tersebut. Jika ternyata masuk akal (dan budget tentunya), nggak ada salahnya, lho, kita mengikuti usul mereka. Tujuan kita berakhir pekan, kan, untuk membahagiakan mereka juga, toh?

Menghargai Anak Dengan Tulus

Ini teori yang sebenarnya sudah sering banget kita dengar, cuma terkadang terabaikan. Menghargai anak dengan tulus nggak selalu harus ditunjukkan hanya saat dia meraih prestasi, tapi juga ditunjukkan saat ia sedih karena tidak bisa menyelesaikan resital pianonya saking groginya. Atau misalnya saat ia mampu berterima kasih, ketika orang lain memberikan bantuan padanya. Hal-hal yang simpel, sih, sebenarnya. Tapi sangat terasa. Selain itu, kita sebagai orangtua juga harus berani minta maaf kalau memang kita yang salah. Misalnya saja, saat kita melupakan janji makan es krim karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Tentunya setelah itu jangan diteruskan lupanya, ya, Moms. Saat meminta maaf pun kita harus bersungguh-sungguh, sama seperti kita mengharapkan ia bersungguh-sungguh saat meminta maaf. ;)


Post Comment