Trik Biar Anak Nggak Malas Cerita Tentang Aktivitasnya

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Setiap kali ditanya tentang kegiatan hariannya, jawabannya selalu nggak inget. Kesel, nggak sih. Tapi kan nggak boleh menyerah ya :D.

Trik Biar Anak Nggak  Malas Cerita Tentang Aktivitasnya - Mommies Daily

“Hmm…lupa!”

“Nggak inget!”

“Hmm…ya gitu, deh. Kayak biasa aja.”

“……..”

Begitu, tuh, jawaban yang pernah diberikan anak saya yang paling besar, Awan, 8 tahun, setiap ditanya, “Tadi di sekolah ngapain aja bang?”, atau “Hari ini ada apa?” kalau saya seharian nggak ketemu dia, karena ada pekerjaan. Masa iya, belum sehari udah lupa tadi ngapain aja? Tapi, rupanya itu lebih kepada dia malas aja untuk menjawab pertanyaan saya, yang mungkin terdengar seperti interogasi (Blame my Sumatran blood for this) =D

Padahal, penting buat kita sebagai orangtua untuk tahu, seperti apa harinya, dengan siapa saja ia bermain, atau siapa yang suka mengganggunya di sekolah. Karena saya sulit mendapatkan jawaban yang memuaskan, saya pun mengganti trik untuk bertanya. Berikut trik saya yang mungkin teman-teman mau coba, hasil dari browsing dan konsultasi dengan beberapa psikolog anak.

Yang Santai
Memang harus pilih suasana yang santai, jadi kedua belah pihak juga lebih nyaman. Orangtuanya nyaman, anaknya pun lebih tenang. Saya biasanya pilih jam-jam sudah mau dekat tidur. Ketika dia sudah cuci kaki, sikat gigi, memakai piyamanya, dan sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Biasanya saya bakal berbaring juga di sebelahnya, sambil mengusap-usap rambut, atau memeluknya. Secara cuma di momen ini juga saya bebas peluk-peluk dan cium dia, kalau sudah di luar, dia sudah mulai ogah =) Nah, di saat itulah saya sekalian nanya sama dia, dengan nada bicara yang juga santai, apa saja yang dilakukannya hari ini. Atau, dengan siapa saja ia bermain hari ini. Trik ini berhasil, sih, asal anaknya nggak dalam keadaan terlalu capek.

Reverse Psychology
Alih-alih langsung menanyakan ngapain aja si anak hari ini, saya coba untuk menceritakan dulu aktivitas saya secara detil. Jangan lupa untuk memilih suasana yang santai dulu, ya. Biasanya saya akan mulai dengan cerita tentang aktivitas saya di hari tersebut seperti, “Hari ini mama ada meeting sama client mama. Pas jalan, masa commuter line-nya berhenti lamaaa banget. Katanya, sih, ada gangguan sinyal. Jadi mama telat, deh, sampai ke kantor client.” Nah, biasanya dia akan ikut bertanya. “Client mama marah nggak?”, atau “Commuter line-nya, kok, bisa gangguan sinyal?” Setelah saya jawab dengan detil, saya akan bertanya balik dengan pertanyaan yang lebih spesifik, seperti, “Ada teman Awan yang suka datang terlambat, nggak?” Dari situ, saya berlanjut bertanya tentang teman-temannya siapa saja, ada teman yang suka mengganggunya di sekolah, atau tidak, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Jangan lupa, nanyanya sesantai mungkin, jangan seperti sedang menginterogasi tersangka =)

Kalimat (Lebih) Positif
“Tadi soal ulangannya susah nggak?”

“Tadi bisa nggak bikin prakaryanya di kelas?”

Mungkin si anak bakal merasa, Mama, kok, kayak nggak pede gitu, sih, sama aku?

Males, deh, jawabnya. Supaya anak mau cerita, mungkin akan lebih enak didengar, kalau kita juga memilih kata-kata yang lebih positif serta membangun rasa percaya dirinya. Misalnya, “Pasti tadi bisa, kan, ngerjain ulangannya? Nggak apa-apa salah sedikit.” Nah, anak saya kalau sudah dengar saya ngomong begitu, dia pasti senyum-senyum dan bilang, “Tadi Awan sepertinya ada salah sedikit.” Baru, deh, saya tanya, sebelah mana yang salah. Mana yang dia nggak ngerti, lalu kita bahas sama-sama.

Iya, sih, tahu, semua anak itu beda, sehingga beda pula cara penanganannya. Tapi nggak ada salahnya dicoba trik-trik positif ini, kan? Siapa tahu berhasil juga diterapkan, ya kan? ;)


One Comment - Write a Comment

Post Comment