Berawal Dari Bercanda, Namun Bisa Berujung Malapetaka

Lagi-lagi,  saya melihat  pemandangan yang tidak mengenakan perihal becanda yang dilakukan anak-anak. Rasanya, tidak ada salahnya kalau kita kembali mengingatkan bahwa bercanda pun ada batasannya. Bahwa yang awalnya untuk candaan bisa menjadi bahaya dan malapetaka.

Belum lama ini saya sempat liputan ke sebuah sekolah dasar. Saya selalu suka kalau melihat wajah anak-anak berseragam putih merah dengan  wajah ceria, polos, di mana senyum dan tawa sering kali hadir dalam guratan wajah mereka. “Enak, ya… menikmati masa anak-anak, dunia yang selalu dipenuhi tawa dan canda,” batin saya.

Namun saat itu saya dibuat tertegun melihat pemandangan segerombolan anak laki-laki yang sedang bermain, namun sayangnya menurut saya gaya bercanda mereka cukup membahayakan. Bagaimana nggak, jadi ada salah satu dari mereka yang terlihat seperti ‘diserang’ dan dicekik lehernya. Saya bisa memastikan kalau mereka tidak sedang berkelahi atau sedang ada tindakan bullying, soalnya saya sempat dengar mereka sedang bermain ala zombie. Nah, anak yang dicekik itu adalah ‘korban’  teman-temannya yang sudah menjadi zombie.

Mereka sih tampak happy saja, tapi saya yang melihat kok malah deg-degan, ya. Ngeri juga kalau permainan tersebut malah berujung mencelakai salah satu anak. Ada yang punya pikiran seperti saya ini nggak, sih?  Bukan apa-apa, yang namanya musibah itu kan datangnya nggak kaya tamu, ya. Pakai permisi dan mengucapkan salam lebih dulu. Jadi, lebih baik mencegah segala hal yang berisiko mencelakai anak, bukan?

Masih ingat, dong, dengan pemberitaan soal kasus tarik-tarikan kursi yang akhirnya bikin celaka? Nah, kondisi seperti ini yang mau saya hindari. Oleh karena itulah saya selalu mengatakan ke Bumi, anak saya, bahwa bercanda juga ada etikanya. Nggak boleh sembarangan.

ANAK BERTERIAK KE TEMANNYA

Bercanda itu, apa, sih?

Sebelum mengajarkan batasan apa itu bercanda, mana yang tidak boleh dan boleh. Saya pun mencoba menjelaskan pada anak saya, Bumi, pengertian bercanda dari kacamata saya. Menurut saya, sih, hidup nggak akan berwarna tanpa bercanda, Istilah zaman sekarang, mah, ‘garing’, hahahaa. Kebayang nggak kalau di rumah sehari-hari nggak pernah ada candaan di antara suami dan anak? Duh…

Bercanda itu kan tujuannya untuk membuat suasana jadi menyenangkan, ya… harapannya, candaan baik dalam bentuk tindakan atau kalimat yang bisa mengundang tawa. Bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat seseorang jadi gembira. Bukannya sedih, kecewa, sakit hati, atau malah terluka. Oleh karena itulah candaan itu juga ada etikanya. Tidak berlebihan, tetap ada batasnya.

Menjadi contoh lebih dulu.

Anak adalah foto copy orangtua. Makanya, tindak tanduk kita perlu dijaga. Jangan sampai, deh, memberikan contoh yang tidak baik ke anak. Kalau memang mau anak punya batasan dalam bercanda, tunjukkan dulu kalau kita pun bisa melakukannya dengan baik. Contoh sederhananya, kalau saya lagi ngumpul sama teman-teman dekat, plus jadi ajang playdate anak-anak, batasi ajang bercanda seperti mencela teman. Kadang, kalau lagi ngumpul sama temen-temen, kita kan sudah nggak perlu jaim, ajang main cela-celaan tanpa sadar juga sering dilakukan. Hal seperti juga perlu diperhatikan. Bukankah anak perlu contoh yang kongkrit?

Jelaskan batasannya. Mana yang boleh, dan mana yang tidak.

Saya menyadari, kalau saya nggak punya kemampuan membaca’ hati seseorang. Makanya, sebisa mungkin saya selalu berusaha lebih hati-hati ketika bercanda dengan teman.  Soalnya, saya kan memang nggak pernah tahu perasaan orang lain, apa yang ada di hatinya di balik tawa yang ia tujukan.

Saya juga pernah, kok, merasa kesal mendegar guyonan teman, tapi tetap memaksaan diri untuk tetap tersenyum. Kalau kadar pertemanan sudah sangat dekat, sih, saya bisa langsung protes dan bilang kalau nggak suka. Tapi bagaimana kalau bukan teman dekat?

Saya juga ingat saat ngobrol dengan Mbak Vera Itabiliana, psikolog anak dan remaja, ia sempat mengatakan bahwa becanda bisa dikatakan sudah tidak mana apabila menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain  dan merusak barang.

Ia memberikan contoh, bercanda yang tidak aman itu seperti menarik kursi ketika teman akan duduk, selengkat kaki ketika sedang jalan, membuat kaget, mendorong, dan bercanda dengan menggunakan benda yang berisiko membuat celaka seperti pensil. Selain itu, menurut saya, sih, yang paling penting bercanda pun nggak boleh mengandung unsur bohong-bohong. Karena justru justru bisa mengakibatkan orang marah atau kesal.

Bagaimana menurut Mommies? Ada yang mau sharing soal pengalaman anak bercanda nggak?

 


Post Comment