Ayah dan Breastfeeding

Mumpung masih bulan November, di mana bulan ini ada Hari Ayah Nasional, nggak afdol rasanya kalau saya nggak membahas betapa pentingnya peran ayah dalam pengasuhan. Mulai anak di dalam kandungan, hingga lahir ke dunia, termasuk mendukung dalam memberikan ASI.

Saya yakin, kita semua sudah paham kalau peran ayah nggak bisa tergantikan. Ayah punya peran besar membentuk karakter baik untuk anak perempuan ataupun laki-laki. Rasa cinta anak pada ayah juga nggak perlu diragukan lagi. Nggak percaya? Coba lihat pengakuan dan ungkapan rasa sayang beberapa anak soal ayahnya dalam video yang sempat kami buat belum lama ini.

Stress ayah baru

Bahkan dalam video tersebut, anak saya Bumi sempat bilang saya itu seperti T-rex, ahahhaa. Iya, kalau dibandingkan dengan suami, sumbu sabar saya memang jauh lebih pendek. Nggak heran kalau Bumi akhirnya menganggap bapaknya sangat sabar dan nggak gampang ngomel kaya saya :D

Saya sendiri bersyukur punya suami yang mau hands on. Aaah… Jadi ingat waktu saya baru melahirkan, suami saya ini sangat galau karena ia harus tugas ke luar negeri dalam jangka waktu yang cukup panjang. Berkali-kali dia tanya, ‘Beneran kamu nggak apa-apa kalau aku tinggal tugas lama kaya begini?’

Saya paham, kekhawatiran suami ini muncul karena dia mengerti  kalau perempuan yang baru melahirkan butuh dukungan suaminya. Termasuk ketika sedang berusaha memberikan ASI, makanan terbaik seorang anak. Suami cukup paham, kalau memberikan ASI itu perlu dipelajari dan perlu usaha keras, bahwa ASI sering kalau mendek di awal, seperti yang saya alami dulu.

Buktinya banyak sekali teman-teman saya yang kini sudah berstatus jadi ayah mengakui kalau mereka menjadi support system utama ketika istrinya baru berusaha memberikan ASI eksklusif.

Ini kata mereka :

Bambang Suwito

“Waktu istri menyusui, pokoknya saya cuma mau kasih yang terbaik buat istri dan anak. Jadi waktu itu,  apa yg dimau istri, kalau untuk kepentingam ngASI, akan selalu saya penuhi. Termasuk begadang jaga debay, atau ngangetin ASIP dari freezer waktu tengah malem atau dini hari. Kalo saya ada di rumah, urusan debay saya yang tanganin, kaya mandi, pup, cuci popok, dan lain-lainnya, kecuali pas nenennya baru saya serahin ke istri. Bisa dibilang kalau saat akhir pekan, saat saya libur, tugas istri hanya menyusui anak-anak. Selebihnya pekerjaan rumah tangga yang bisa saya kerjakan, akan saya lakukan.”

Febri Joko

“Kedua anak saya memang  nggak ASI eksklusif. Karena memang waktu itu kondisinya tidak memungkinkan. Awalnya, jujur saya sedih dong, karena  pengen banget buat anak-anak bisa dapat asi eksklusif. Tapi yang di Atas berkehendak lain, saya pun tetep harus support istri,  ngeyakinin walaupun  nggam bisa ASI eksklusif, Igo dan Gya gimana pun harus tetap menjadi anak yang sehat. Ternyata setelah dijalanin, mereka tumbuh kembangnya pun Alhamdulillah sama seperti anak yang mendapatkan ASI eksklusif”.

Oscar Hariman

“Dulu, saat istri menyusui yang saya tahu, istri pasti jadi laper terus. Jadi dukungan yang bisa saya berikan paling  dengan membelikan dan membuat makanan yang istri suka. Kalau sarapan, juga saya yang bikinan. Biar gimana kan, punya bayi itu repot. Selain soal makanan, dulu sih, saya sering banget pijat istri kalau lagi ngeluh capek dan pegel”.

Terbukti ya, kalau kondisi saat ini dengan puluhan tahun lalu memang cukup berbeda dan mengubah perilaku seorang Ayah. Kalau dulu tugas ayah sebatas mencari nafkah, dan istri mengurus anak, sekarang semua serba seimbang. Sekarang ayah sudah melek soal  breastfeeding.


One Comment - Write a Comment

  1. Alhamdulillah, suami juga mendukung. Beberapa kali ikut kelas edukasi menyusui juga lihat bapak-bapak yang ikutan, jadi ikut seneng deh. Memang belum semuanya juga sih ya, kadang baca cerita ada juga yang justru karena kasihan lihat perjuangan istri lalu minta berhenti saja. Ada juga suami teman-teman yang kurang aktif, mungkin masih clueless bukan karena nggak peduli tapi lebih karena berpikir itu hal alami yang harusnya bisa berjalan begitu saja.

Post Comment