Alasan Mengapa Perempuan Sulit Berada Pada Level Atas dalam Perusahaan

Pada banyak perusahaan di Indonesia, ternyata peran perempuan yang menempati level atas masih rendah? Umh, kenapa ya?

Saya selalu dibikin takjub kalau melihat ada perempuan sukses. Sukses yang saya maksud di sini baik urusan karier dan keluarga. Maaf saja, ya… kalau buat saya, sih… perempuan yang nggak bisa menyeimbangkan urusan pekerjaan dan rumah tangga, belum masuk dalam kategori sukses.

Saat ini sudah banyak sekali, contoh-contoh perempuan sukses. Sosok yang paling gampang dan hampir setiap hari saya lihat adalah sosok Mbak Hanifa Ambadar, Founder & CEO at Female Daily Network.

ibu-bekerja1

Beberapa bulan yang lalu, Mbak Hanzky pernah membuat sebuah artikel yang keren, isinya, mengajak perempuan untuk bisa bekerja dan berkarya. Bentuk pekerjaan yang dimaksud ini juga sangat luas, kok. Jadi nggak hanya sebatas kerja kantoran aja, karena pada dasarnya kita- para perempuan, bisa berkarya di mana pun, termasuk di rumah.

Seperti yang sudah Mbak Hanzky tulis dalam artikelnya, kalau perempuan nggak ada yang menempati posisi penting atau kalau perempuan tidak bekerja sama sekali, banyak sekali dampak yang yang ditimbulkan.

Bagaimana kondisinya sekarang? Apakah sudah banyak perempuan yang menduduki level atas? Ternyata, 43% perempuan di Indonesia masih merasakan kalau perwakilan perempuan masih sangat minim menempati posisi atas untuk pengambilan sebuah keputusan besar. Setidaknya, kondisi ini saya ketahui lewat sebuah survey yang dilakukan sebuah perusahaan rekrutmen Robert Walters.

Menurut whitepaper terbaru bertajuk Pemberdayaan Perempuan Di Tempat Kerja menyebutkan kalau 43% dari perempuan yang disurvei di Indonesia merasa bahwa mereka tidak cukup diwakili dalam posisi kepemimpinan. Sebagai perbandingan, 55% dari responden laki-laki di negara Indonesia berpikir kalau sebenarnya perempuan memiliki kemampuan untuk berada dan menduduki peran utama dalam sebuah bisnis.

37% dari responden di Indonesia juga setuju bahwa ada 20% perempuan yang sudah menempati posisi kepemimpinan dalam perusahaan. Selain itu, 62% percaya juga percaya bahwa ada pemimpin perempuan dalam perusahaan yang dapat dijadikan role mode.

Kalau bisa saya simpulkan, berarti perempuan memang punya kesempatan dan peluang yang sangat besar mengembangkan kariernya, sama halnya dengan laki-laki untuk mendapatkan posisi teratas.

Vicky Semidang, Manager di Robert Walters Indonesia memberikan komentar, “Mengelola komitmen keluarga menduduki peringkat pertama sebagai alasan utama di balik beberapa karyawan perempuan Indonesia menjadi tidak dapat mencapai posisi kepemimpinan di tempat kerja. Pengusaha bisa mempertimbangkan menawarkan pilihan kerja yang fleksibel untuk kelompok perempuan dan budidaya lingkungan kerja yang inklusif yang mempromosikan kesetaraan gender. Langkah-langkah seperti ini akan membantu perempuan untuk maju dalam karir mereka.”

Apa yang dikatakan Vicky Semidang memang beralasan, soalnya dari hasil survey yang dilakukan, ada beberapa alasan di balik mengapa perempuan kurang terwakili untuk menduduki level atas. 28% dari semua responden mengatakan bahwa ada tekanan keluarga atau komiten di luar pekerjaan yang memengaruhi, termasuk adanya pemikiran bahwa perempuan sering kali kesulitan kembali bekerja setelah memiliki anak, dan kultur perusahaan tidak mendukung tercapainya kesetaraan.

Umh… tampaknya saat ini memang diperlukan lebih banyak perusahaan yang ‘ramah’ dengan ibu bekerja, ya :)

Baca juga : Alasan Mengapa Ibu Bisa Menjadi Pemimpim yang Baik di Kantor


Post Comment