Sudah Yakin Jiwa Anda dan Keluarga Sehat?

Self

?author?・11 Oct 2016

detail-thumb

Maraknya kasus kekerasan pada anak oleh ibu yang disinyalir memiliki masalah kejiwaan jadi membuat saya bertanya, apakah ciri-ciri jiwa yang sehat? Ternyata cukup 3 tanda sederhana lho untuk membuktikan jiwa kita sehat!

Sudah Sehat kah Kejiwaan Anda dan Keluarga?

Ilmu kejiwaan ini memang selalu menarik untuk dibahas, dari berbagai aspek. Makanya saat menerima undangan bertepatan pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diadakan oleh PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia), di Jakarta dengan tema “Cegah Gangguan Jiwa Akibat Bencana Psikososial” saya semangat hadir.

Inti diskusi di hari itu adalah fokus pada orang-orang yang pernah berada di situasi krisis. Misalnya, mengalami bencana atau trauma tertentu yang terjadi di sekitarnya (tindak kekerasan, baik fisik atau psikologis). Karena ternyata orang-orang seperti ini rentan terkena gangguan jiwa sehingga berpotensi bunuh diri, menurut dr. Eka Viora SpKJ (K), Ketua Umum PP PDSKJI.

Persoalan kesehatan jiwa ini ternyata bisa terjadi di tengah keluarga, dan sebagai orang tua kita harus lebih peka mengenali gejala dini gangguan jiwa pada pasangan maupun anggota keluarga kita.

Menurut dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ ada 3 indikator dari standar WHO seseorang bisa dikatakan memiliki jiwa yang sehat:

  • Sehat fisik, termasuk memiliki perasaan sehat dan bisa merasa bahagia.
  • Bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain, juga menerima kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri.
  • Dan yang terakhir sanggup berkompetisi dengan orang lain, sekaligus kuat menghadapi tantangan hidup.
  • Pada praktiknya menurut Dr. Nova ada 3 hal yang sebaiknya kita perhatikan di keluarga kita:pikiran, perasaan dan perilaku setiap anggota keluarga. Misalnya perilaku awalnya biasa berkumpul menonton TV di ruang keluarga menjadi senang berdiam diri sendirian di dalam kamar, atau biasanya selera makannya bagus, tapi kok ini jadi berubah , biasanya pulangnya cepat, tapi kok ini jadi pulang larut terus menerus.

    Masih ingat kasus Awkarin yang sempat bikin hati ibu-ibu kembang kempis? Lantaran perilaku Awkarin yang tidak mengindahkan norma sosial dan sengaja ia unggah ke sosial media. Hal ini bisa jadi lantaran mental distress yang dialami Awkarin di tengah keluarganya, tapi tidak tertangani dengan baik.

    Dari sisi lain, yang menurut saya juga menarik dan perlu digaris bawahi, adalah soal kesehatan jiwa yang masih terpinggirkan. Coba deh, Mommies perhatikan, pernah nggak sih Mommies secara berkala pergi ke psikiater atau pusat pelayanan kesehatan  untuk memeriksakan keadaan psikologis Anda?

    “Masalah kesehatan itu tidak hanya fisik tapi juga psikologisnya, tapi pada kenyatannya ketika seseorang datang ke pelayanan kesehatan, biasanya yang diperhatikan hanyalah fisiknya saja.  Sementara di balik itu dia masih memiliki masalah-masalah mental emosional, yang seharusnya hal ini juga ditanggapi dengan baik,” papar dr. Eka Viora SpKJ (K) Ketua Umum PP PDSJKI.

    Jadi para narsum yang hadir itu sangat menyarankan agar mereka yang terpapar peristiwa berat hingga menimbulkan trauma tertentu, tidak ragu datang dan konsultasi dengan psikiater, baik itu di klinik pribadi mereka maupun ke pusat kesehatan, seperti Rumah Sakit.

    Tak hanya orang dewasa, DR. Dr. Nurmiati Amir, SpKJ (K), ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiatri, yang saya temui usai acara, juga mengingatkan penting bagi Mommies memeriksakan kesehatan jiwa anak sedari dini. Nggak usah malu menemui psikiater anak di pusat-pusat kesehatan. Psikiater akan melakukan kesehatan menyeluruh, termasuk fisik mereka. Karena pada dasarnya seorang psikiater akan melakukan pendekatan holistik, artinya menelusuri secara rinci terhadap aspek biologi atau fisik, psikologi (mental dan emosional) serta sosial budaya seseorang.

    Yuk, lebih sadar lagi tentang kesehatan jiwa ini, salah satunya jangan segan konsultasi ke psikiater jika menemukan diri Anda atau mungkin orang-orang terdekat Anda mengalami sesuatu yang tidak nyaman dari segi psikis.

    Baca juga:

    Post Partum Psychosis, Benarkah Penyebab Seorang Ibu Memutilasi Anaknya?

    Depresi pada Anak Kecil