Para Orang tua Juga Perlu Belajar Tentang Empati

Saat kita sibuk mengajarkan anak-anak kita untuk memiliki empati, apakah diri kita sendiri juga sudah memiliki empati?!

Oke, saya mau bertanya kepada seluruh mommies yang membaca tulisan ini, seberapa sering kita mengajarkan anak-anak kita untuk memiliki rasa empati? Seberapa besar keinginan kita sebagai orangtua, agar anak-anak paham dan mempraktikkan apa itu yang namanya empati? Saya pribadi akan menjawab, besar sekali dan sering. Karena saya percaya, hidup akan terasa lebih menyenangkan dan damai kalau semakin banyak orang yang mempraktikkan empati.

Namun, di saat kita kerap menjejali anak dengan ajaran tentang empati, pernah nggak kita bertanya ke diri sendiri, sebagai orang tua sudah cukup besarkah rasa empati kita terhadap anak sendiri atau anak orang lain? Karena nggak jarang, saya menemukan beberapa orang tua yang kayaknya kok nggak ngerti apa itu empati.

orang tua belajar tentag empati

Beberapa waktu lalu, saat pembagian raport kenaikan kelas, kebetulan si kakak rankingnya merosot cukup drastis sedangkan si adik berhasil meraih peringkat ketiga dan pulang membawa piala. Malam harinya, ada seorang saudara (yang juga memiliki dua anak) yang datang ke rumah dan melihat raport kedua anak saya. Tiba-tiba, dengan entengnya dia berkata “Benar ya berarti, anak kedua itu lebih pintar dari anak pertama.” DI DEPAN KEDUA ANAK SAYA! Deeeeeg!!! Saya murka luar biasa.

Kebayang nggak, perasaan si kakak yang mendengar kalimat tersebut. Mungkin saat itu anak saya tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi siapa yang tahu apa yang dia rasakan di dalam hati. Dan siapa yang tahu apakah statement ini akan membuat si adik kemudian menjadi besar kepala?

Orang tua, sesulit itu, kah, kalian untuk belajar berhenti membanding-bandingkan seorang anak dengan saudaranya atau dengan temannya? Bayangkan kalau seandainya anak kalian yang diperlakukan seperti itu! Belajarlah berempati!

Kasus lain, cukup sering saya menyaksikan atau mendengar para orang tua menjadikan kondisi fisik anak-anaknya sebagai bahan guyonan. Misalnya, si hitam, si kecil, si kurus, si mbem, si ndut, si kiting, si kribo. Mungkin, bagi para orang tua ini hanyalah julukan sayang, atau candaan. Tapi sekali lagi, kita nggak pernah tahu apa yang dirasakan di dalam hati anak-anak kita. Apalagi jika nama panggilan itu terbawa terus hingga mereka dewasa. Kalau ditanya, apakah kita mau, sebagai orang dewasa yang berusia 25 tahun ke atas ini memiliki nama julukan yang sebenarnya membuat kita tidak nyaman? Tentu tidak mau dong.

Ya bedaaaalah, kita sebagai orang tua kan udah punya rasa malu. Kalau anak-anak kan itu hanya buat lucu-lucuan.” Kalau seperti itu pembelaan Anda, saya hanya mau bilang…. Anda dan anak-anak itu kan sama-sama manusia ya. Yang sama-sama punya perasaan. Jadi apa bedanya???

Dan satu lagi, yang membuat saya kerap gregetan adalah melihat orang tua yang membentak-bentak anak di muka umum. Intinya, sebelum kita melakukan sesuatu ke anak-anak kita, coba deh bayangkan jika itu terjadi pada diri kita. Mau, kita dimarahin di depan umum? Atau ditegur oleh atasan di depan seluruh rekan kerja?

Jadi boleh ya, mari kita sama-sama mengajar diri kita sendiri dulu tentang apa itu empati, kemudian mempraktikkannya, baru deh kita boleh membrainwash anak-anak kita :D.


Post Comment