Anak Saya dan Demam Pokemon Go

Siapa yang sudah menikmati serunya bermain games Pokemon Go? Keluarga saya sih belum, dan belum tahu juga apakah akan mencoba atau tidak.

Saya bukan pencinta Pokemon, jadi saat games ini dilaunching bertepatan pada hari Lebaran lalu, saya juga nggak terlalu menaruh perhatian. Saya mulai penasaran mencari tahu seperti apa Pokemon Go ini setelah banyak sekali teman saya di sosial media menuliskan status mengenai bagaimana addict-nya mereka saat bermain ataupun teman-teman pengguna IOS yang penasaran mencari cara untuk mengunduh secara di Indonesia belum masuk secara resmi.

Intinya, dari bertanya ke beberapa teman, kita sebagai pemain atau Pokemon Trainer (benar nggak nih saya nulisnya) harus mencari keberadaan Pokemon yang ada di sekitar kita (oh iya games ini menggunakan real map) dan menangkapnya. Belum lagi kalau ada Lure yang sangat langka, para Pokemon Trainer ini pun berbondong-bondong dan berlomba-lomba mencari. Entah kenapa, saya tetap nggak tertarik, hahaha. Dan saya berharap anak-anak saya juga nggak ngeh akan kehadiran games ini.

Apa boleh buat, ketika harapan dan kenyataan tidak sejalan. Anak-anak saya pun tahu tentang keberadaan Pokemon Go dari sepupunya yang juga bermain. Sudah bisa ditebak, mereka membujuk saya untuk mendownload. Saya pun semakin giat mengumpulkan informasi mengenai games ini, sehingga saya mengarah pada satu kesimpulan: jika anak-anak ingin bermain Pokemon Go, mereka WAJIB ditemani oleh orang tua. Kenapa?

Pokemon Go

– Rasa penasaran untuk bisa menangkap Pokemon dan naik level bisa jadi membuat anak-anak saya kurang awas terhadap kondisi di lingkungan sekitar. Main jalan atau lari tanpa melihat kanan kiri. Belum lagi jika lokasi yang didatangi mungkin sepi dsb.

– Kalau kata seorang teman saya yang bernama Tasya Simatupang, “Permainan ini memungkinkan anak-anak berinteraksi dengan orang asing. Saat ada orang asing menempatkan Lure dan dia tahu anak-anak kita lagi main, siapa yang bisa jamin orang itu nggak ada niatan buruk.”

– Di sisi lain, jika permainan ini dilakukan bersama antara anak dan orangtua, yang jelas bonding antara orangtua dan anak semakin meningkat. Itu yang dirasakan oleh Ivy Aralia Nizar. “Walaupun gue harus muter-muter Jakarta untuk nganterin Hae anak gue untuk nemuin tu Pokemon, tapi gue jadi berasa kalau komunikasi antara gue dan Hae semakin bagus lho Fi! Mau nggak mau di dalam mobil kan kita jadi ngobrol.

– Dan, sebenarnya ini bagus juga untuk membuat anak-anak aktif bergerak, hahaha. Masih menurut Ivy lagi “Hae itu sekarang banyak gerak. Aktif dia Fi, jalan ke sana kemari. Jadi menurut gue, Pokemon membuat Hae nggak lagi hanya duduk atau tidur kalau di rumah atau di mall, tapi JALAN atau sedikit lari.”

Akan selalu ada dua sisi yang bisa kita lihat tentu saja. Seperti juga permainan Pokemon Go ini. Masalah Anda mau bermain sendiri atau melibatkan anak, atau membiarkan anak bermain sendiri karena Anda berpikir sudah cukup usia, semua kembali kepada keputusan masing-masing.

Tapi untuk saya sendiri, kalau sampai suatu saat saya mengizinkan anak-anak untuk bermain ini, berarti saya pribadi ataupun suami sudah siap untuk selalu menemani mereka kemana pun mereka pergi untuk menangkap Pokemon. Karena saya tidak akan bisa membiarkan anak-anak saya bermain Pokemon Go sendiri tanpa pengawasan orang tua :).


Post Comment