Milestone Saya Menjalani 7 Tahun Pernikahan

First comes love, then come marriage… dan ini lah milestone pernikahan saya selama 7 tahun.

Tahun ini pernikahan saya sudah memasuki 7 tahun. Rasanya, baru kemarin kami melewati masa pacaran. Deg degan kalau ketemu apalagi kalau diajak kencan. Kemudian setelah pacaran 3 tahun lebih, saya pun dilamar lalu menikah dan akhirnya memiliki seorang anak yang kami beri nama Bumi.

milestone pernikahan

Banyak yang bilang kalau pernikahan di atas 5 tahun, sudah aman. Kerena stage yang paling membahayakan dalam sebuah pernikahan akan dilalui selam 5 tahun pertama. Buat pasangan yang bisa melewatinya, berarti cukup kuat dan bisa bisa melewati ‘badai’ yang akan datang di tahun berikutnya.

Yang jelas, menikah selama kurun waktu 7 tahun, saya harus mengakui kalau memang banyak perubahan yang terjadi antara saya dan suami. Tapi saya pikir, itu memang wajar. Siapa, sih, yang nggak berubah? Belum lagi kalau ingat dengan kondisi kesibukan yang sama-sama kami jalankan.

Kalau kemarin Fia sudah menulis milestone-nya sebagai ibu, suami saya sudah share soal milestone sebagai ayah, saat ini saya mencoba menulis milestone pernikahan yang saya lihat dari kaca mata pribadi. Seperti yang Fia bilang, paling nggak dari sini saya bisa mundur sejenak dan me-review kembali sudah tepatkah langkah saya  selama ini.

1-3  tahun pernikahan

Saya ingat sekali, di awal pernikahan suatu hari, kakak pertama saya pernah bertanya, “Gimana, Dis, kehidupan jadi pegantin baru? Menyenangkan atau banyak bikin kamu terkaget-kaget?”. Mendengar pertanyaannya, saya cuma bisa nyengir kuda, hahahaha…. Buat saya, sih, pernikahan 3 tahun pertama, saya memang sering terkaget-keget melihat kebiasaan yang dilakukan suami saya. Saya juga yakin kalau suami saya juga merasakan hal serupa dengan saya. Contoh kecilnya adalah saya suka kesal melihat kebiasaan suami saya yang sering kali meletakan handuk basah setelah mandi di atas kasur. Kebiasaan yang terlihat sepele seperti ini yang sering kali bikin hati mangkel. Belum lagi kalau dilihat kepribadian saya dan suami yang cukup bertolak belakang. Untuk itu, saya pun berusaha untuk beradaptasi. Sisi baiknya, sih, kami juga bisa saling melengkapi  satu sama lain. Kalau masalah hubungan seksual, dipastikan masih on fire, ya, hahahaha. Jadi, nggak ada istilah ‘dingin di ranjang’, karena bawaannya masih mau nempel terus. Milestone pernikahan saya semakin terasa setelah saya memiliki anak dan menyandang status ibu. Sejak itu rasanya hidup saya semakin lengkap, sepaket dengan PR yang harus saya dan suami lakukan sebagai orangtua.

3-6 tahun pernikahan

Kalau menurut saya, di masa ini saya atau pun suami sudah mulai masuk pada tahapan menerima kelebihan dan kekurangan masing. Tapi bukan berarti kami nggak punya usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lho. Seperti lirik lagu Tulus,  ‘Jangan Cintai Aku Apa Adanya’,  idealnya pasangan suami istri bisa berusaha melakukan sesuatu yang lebih baik untuk masa depan. Selain itu, saya pun sering kali merasa banyak sekali kegiatan atau aktivitas yang kami lakukan sebagai rutinitas biasa. Lah wong, topik yang diulas nggak jauh-jauh seputar anak, rumah. Makanya, saya sering kali berusaha untuk bisa mengatur dan malakukan jadwal ‘kencan’ dengan suami. Untuk masalah aktivitas seksual, nggak bisa bohong kalau kami berdua sama-sama perlu mencari variasi, misalnya dengan mencari lokasi yang berbeda. Saya pun sudah nggak perlu jaim dan sungkan untuk mengatakan bagaimana cara perempuan mencapai multi orgasme.

7-9 tahun pernikahan

Nah…. saya sudah mulai masuk dalam masa tahapan ini, nih. Yang jelas, memasuki pernikahan ke-7 tahun, saya makin sering merindukan hal-hal kecil yang sering dilakukan sebelum menikah. Selain itu, setelah sekian lama tertunda, akhirnya rumah second yang kami beli bisa direnovasi. Buat kami ini sebuat milestone yang cukup besar. Nah, kalau hasil ngobrol dengan beberapa teman, termasuk Fia yang sudah menjalani pernikahan selama 12 tahun. Ternyata, pernikahan di usia ini banyak sekali pasangan yang kerap kali sudah berada dalam titik ‘take for granted’. Padahal, nih, dalam urusan percintaan terlebih pernikahan kita nggak bisa tidak anggap remeh nilai atau suatu hal yang sudah biasa terjadi. Jika hal ini dilakukan, pernikahan malah akan terasa ‘sepi’. Pantas saja kalau ada sebuah studi yang mengungkapkan bahwa seseorang lebih cenderung untuk selingkuh pasca menikah sebelum 10 tahun usia pernikahan.  Kalau ngomongin masalah perselingkuhan, sebenarnya sangat kompleks dengan alasan beragam Bahkan perselingkuhan bisa terjadi lewat social media. Tapi yang perlu diingat, kalau memang mendapati pasangan selingkuh, perceraian bukan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.

Ngomongin masalah pernikahan, saya kok jadi ingat dengan apa yang dibilang Indra Noveldy, relationship coach, bahwa untuk bisa merasakan pernikahan yang bahagia sebaiknya ingat dengan hukum alam pernikahan. Di mana setiap pasangan idealnya bisa bermurah hati dalam memberi, dan lihat apa yang akan terjadi ke depannya. Selain itu, jangan pernah lupa kalau soulmate itu diciptakan, bukan ditemukan. Saya juga sadar bahwa menjalankan sebuah komitmen pernikahan butuh semangat juang yang besar dan itu semua harus dimulai dari diri sendiri. Sampai sekarang saya masih terus belajar dan selalu menikmati prosesnya.


Post Comment