Toleransi Itu Nggak Bisa Dipaksa

Ada saatnya saya membiarkan anak saya berada dalam situasi ketika lingkungannya tidak memiliki kadar toleransi sesuai harapannya.

Puasa tahun ini menjadi puasa full pertama yang dijalani oleh anak pertama saya. Kalau sebelum-sebelumnya dia biasa setengah hari, tahun ini karena sudah kelas 3 SD, dia diminta untuk berpuasa secara full oleh Ayahnya. Dan ketika dia mencoba, sampai detik ini saya menulis artikel, sih, dia masih sukses dengan puasa full-nya, hehehe.

Masalahnyaa, tahun ini, entah kenapa, si adik yang biasa-biasanya sangat pengertian dengan kondisi kakaknya yang berpuasa, sekarang mendadak lagi ‘ngeselin’ luar biasa. Beberapa kali saya melihat, dia sengaja minum susu kotak dengan gaya yang lebay (tahu kan, minum dengan sruput sekencang mungkin dan suara sok mendesah-desah) di depan kakaknya. Di lain waktu, dia berjalan di depan si kakak sambil asik mengunyah mie schotel bikinan tante-nya.

“Maaaaaa, adek ngeselin banget nih, minum di depan aku.”

“Maaaa, adek tuh nggak menghormati aku banget sih, aku lan lagi puasa”

Dan beragam jeritan lainnya yang diungkapkan Bagus untuk menunjukkan rasa tidak suka atau rasa kesalnya dengan kelakuan si adik.

toleransi pada anak

Awal- awal saya selalu menegur si adik, untuk berhenti bersikap seperti itu dan menghormati kakaknya yang lagi puasa. Dan saya meminta adiknya untuk makan di meja makan, jangan sengaja wira-wiri di depan kakaknya. Di sisi lain, saya juga mengingatkan si kakak untuk jangan memaksa adiknya makan sembunyi-sembunyi, karena adiknya juga punya hak untuk makan dan minum. Bagaimanapun saya ingin anak-anak saya belajar mengenai empati dan toleransi, satu sama lain.

Namun, suatu saat, ketika drama itu terulang kembali, saya memutuskan untuk tidak menegur si adik. Saya biarkan saja sampai akhirnya mereka berantem hingga dorong-dorongan. Karena masing-masing merasa punya hak untuk dihargai dan dihormati. Sounds familiar ya Moms? :) Untungnya sebelum dorong-dorongan semakin heboh, mereka berhenti sendiri dan malah balik bertanya ke saya, kenapa saya nggak membela mereka, hahaha.

Ya, kenapa saya kali ini tidak mengambil sikap?

Satu, karena saya ingin mengajarkan kepada kedua anak saya, bahwa tidak selamanya orang-orang di sekitar mereka memiliki empati dan toleransi sesuai dengan harapan mereka. Jadi mereka pun perlu belajar bagaimana menghadapi kondisi-kondisi seperti ini.

Kedua, saya ingin kalau anak-anak saya memiliki toleransi bukan karena mereka dimarahin mamanya atau karena ada orang yang memaksa mereka. Toleransi itu atas kesadaran bukan karena paksaan.

Saya berharap, penjelasan saya masuk di pikiran mereka. Tunggu kabar selanjutnya dari saya Moms, apakah mereka berhenti bertengkar atau tidak? Hehehe.


Post Comment