Empati, Sebuah Rasa Yang Perlu Dipelajari

Beberapa waktu lalu, di timeline Twitter beredar foto ini:

Tiga orang yang (terlihat) sehat, asyik duduk di kursi penumpang prioritas (ibu hamil, perempuan dan penyandang disabilitas), sementara di sebelah mereka, pria penyandang disabilitas malah duduk di lantai.

Ada juga foto ini yang saya ambil dari sebuah forum:

Ibu hamil duduk di lantai, sementara yang (tampak) sehat ga sedikit pun menunjukkan rasa peduli

Bagaimana dengan yang ini?

Ga perlu pakai caption ya, foto ini. Cukup menjelaskan :(

Bagaimana menurut pendapat Mommies?

Saya pelanggan angkutan umum, dan sering sekali menemukan kasus ini. Nggak hanya satu dua kali, tapi berkali-kali. Pernah suatu kali saya naik Trans Jakarta yang penuh. Saya berdiri di deretan kursi penumpang perempuan bersama banyak perempuan dan terselip satu dua lelaki. Ketika salah satu penumpang berdiri, Mommies tau, ada satu penumpang pria yang berdiri cukup jauh dari kursi tersebut, bergerak secepat kilat menuju ke kursi kosong tersebut! Semua penumpang perempuan yang berdiri terperangah, nggak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Si penumpang pria itu dapat duduk dengan santai, memasang earphone, lalu memejamkan matanya.

Oh my god.

Sudah terkikiskah rasa empati kita terhadap orang lain?

Saya, nggak mau anak saya tumbuh jadi anak yang kurang rasa empatinya. Saya ingin ia dipenuhi rasa empati, rasa peduli ada sekitar, tak hanya manusia lain tapi juga lingkungan.

Empathy is the ability to understand the feelings of others, feel what they feel, and respond in helpful, compassionate ways.- dari situs ini

Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. – dari situs ini

Empati bukan hal yang diturunkan secara genetis, seperti fisik atau kepintaran seseorang. Empati harus dipelajari. Bagaimana mempelajarinya? Sudah pasti lewat kita, orangtuanya.

Selanjutnya: Belajar empati dari kita, orangtuanya! >>


9 Comments - Write a Comment

  1. saya udah lama bgt gak naik angkutan umum (kalo pergi selalu sm suami/keluarga), tp alhamdulillah dr dulu blm pernah ngalamin beginian. pas hamil atau bawa anak pasti ada penumpang lain yg ngalah..
    ke anak saya jg gitu, kalo dia lg pegang mainan & ada teman atau saudaranya mau pinjam pasti dikasih. ya kadang2 dipertahankan jg sih., he he.. kalo udah gitu, saya kasih pengertian “kakak kan udah main td, sekarang temennya mau pinjam, dikasih ya”..
    ya saya mulai dr hal sederhana ky gitu sih…

    tapi… kalo sering ngalah, kok saya takut anak jd dibully. krn saya pernah ngalamin, anak saya (2thn) didorong sm temennya yg umurnya lbh tua, sampai jatuh nangis.. gimana ya cara yg efektif??

    1. Halo mbak, menurut saya, sih, justru jangan diajarin ngalah, ya. Tapi ajarin supaya bisa mempertahankan pendapatnya. Kalaupun dia harus ngalah, tapi kasih penjelasan alasan dia harus ngalah. Sejauh ini aku begitu, sih…

  2. Berhubung gue memang pelanggan angkutan umum, pemandangan di atas juga udh jadi hal biasa. Gue juga paling geregetan liat kondisi kaya gitu. Waktu hamil dulu, juga sering banget kok dicuekin, Semuanya pada sibuk liat ponselnya atau bahkan pura2 tidur. Errr….
    Beberapa waktu lalu, teman gue ada yg posting di FB. Di foto tsb ngejelasain, ada bumil yang minta duduk sama salah satu penumpang perempuan yang usianya masih remaja. Eh, bukannya di kasih duduk, malah dia ngejawab, saya juga mau duduk plus dengan kata2 memangnya saya pikirin. Aduhhh, Lit….. bacanya jadi emosi jiwa!
    Nggak habis pikir ada anak remaja yang bersikap kaya gitu. Anak perempuan pulaaaa :((

Post Comment