Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Bahasa Asing Anak Sejak Dini

Sebagai orangtua sudah seharunya kita membekali anak dengan kemampuan yang mumpuni, agar kelak ia dapat bersaing dengan jutaan SDM lainnya di dunia kerja. Salah satunya kemampuan si kecil menguasai bahasa asing.

Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Bahasa Asing Anak Sejak Dini

Semenjak menyandang predikat sebagai ibu, terus terang saya suka merasa deg-degan mengetahui kalau persaingan kerja pada masa anak saya kelak pasti lebih dahsyat dibandingkan dengan era saya sekarang. Bayangkan saja nih, Mommies kini sudah masuk yang namanya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dimana akan ada banyak sekali SDM dari berbagai negara masuk ke Indonesia dan menjadi bagian dari lingkungan pekerjaan. Ini artinya si kecil membutuhkan kemampuan berbahasa asing yang mumpuni, bahasa asing yang paling digunakan apalagi kalau bukan bahasa Inggris?

Baru-baru ini saya menghadiri seminar parenting “Optimizing Child’s Learning Ability & Elasticity In Early ChildHood” yang diadakan oleh RISE sebuah wadah belajar bahasa Inggris untuk anak-anak mempersiapkan diri sebagai global citizens. Seperti era MEA yang tadi sempat saya singgung, Moms. Karena suka nggak suka, mau nggak mau persaingan kerja dalam 10-20 tahun mendatang di era anak-anak kita nanti akan semakin ketat.

Di sinilah peran kemampuan berbahasa asing benar-benar dibutuhkan, tapi jangan keburu takut duluan ya, Moms. Menurut Hanlie Mulyani, M, Psi – Clinical Psychologis: Child, Teen & Educational Psychologist pada dasarnya semua otak manusia itu terlahir dengan potensi yang sama. Bahkan tak ada bedanya dengan otak Albert Einstein, yang membedakan tinggal bagaimana cara menstimulasi kecerdasan otak tadi. Otak yang dikategorikan cerdas ketika sistem antar neuron di dalam otak terkoneksi dengan sempurna (synapse), artinya begini Mommies – semakin banyak antar neuron tadi terkoneksi maka semakin cerdas otak manusia. Nah, dalam otak Albert Albert Einstein ditemukan begitu banyak synapse.

Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Bahasa Asing Anak Sejak Dini

Nah, caranya menyambungkan synapse tadi bisa dirangsang dengan 3 unsur, yaitu: pengalaman, stimulasi dan nutrisi. “Ketiga unsur berperan penting membentuk struktur otak anak,” ujar Hanlie. Di kesempatan yang sama Hanlie juga mengingatkan kalau waktu yang paling tepat untuk menstimulasi otak adalah pada di 1.000 hari pertama usia anak (kurang lebih 3 tahun), dan golden periode ke-2 adalah sampai 6 tahun, dan berikutnya ada usia hingga remaja 14 tahun.

“Jangan sampai kehilangan 3 golden periode tadi dalam masa-masa anak belajar,” pesan Hanlie kepada para peserta seminar yang diadakan di RISE fX Sudirman dan RISE Bintaro xChange. Semenjak dari kandungan dan pada saat anak kecil sebaiknya rangsang anak dengan kegiatan belajar, tapi caranya harus pas dan menyenangkan ya, Mommies – supaya tidak jenuh.

Dan hati-hati ketika memberikan sejumlah stimulasi terhadap anak, karena sesuatu yang sering terpapar anak, maka itu yang akan menjadi pemenangnya atau hal itulah yang akan ia pahami dan terekam dalam otaknya. Poinnya jika kita rajin senstimulasi anak dengan hal yang baik, maka ia pun akan merekam hanya hal yang baik-baik saja.

Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Bahasa Asing Anak Sejak Dini

Dalam proses stimulasi ini wajar saja kok jika terjadi pengulangan, karena memang secara harfiahnya harus seperti itu. Jadiii, yang sabar ya Mommies. Terkait dengan proses repitisi, ini bisa dilakukan dalam ranah Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk), Anda pernah mendengar istilah ini? salah satunya adalah Language Intelligence. Di antara Logic Mathematic Intelligence, Visual Spatial Intelligence, Music Intelligence, Physical Intelligence, Nature Intelligence, Intrapersonal Intelligence dan Interpersonal Intelligence. Semuanya harus berjalan beriringan kata Hanlie, tidak boleh ada yang dianaktirikan. Karena tujuan utamanya adalah anak bertumbuh secara optimal dan seimbang. Nggak mau dong si kecil menjadi tumbuh pribadi yang cerdas secara ilmu pasti tapi tidak pandai beinteraksi dengan lingkungannya. Bahkan orang-orang sekitarnya menjadi tidak simpati dengan dia, contoh kasus seperti ini karena interpersonal skill-nya tidak dilatih dengan baik.

Hanlie menaruh Language Intelligence diurutan paling pertama karena ini merupakan modal berinteraksi dengan lingkungan sekitar, selain itu juga modal belajar banyak hal ketika seorang anak menuntut ilmu (apapun itu!). Cara menstimulasi yang paling mudah adalah berinteraksi langsung dengan orang nyata, artinya bukan melulu disodori TV, dan aneka gadget.

Cara lainnya adalah membaca buku yang dapat memperkaya kosa kata si kecil, selain itu imajinasinya dan konsentrasinya juga terlatih. Di usia 0-12 tahun merupakan masa keemasan untuk belajar bahasa asing. Dan jangan khawatir dengan istilah “bingung bahasa”, yang lahir dari anggapan sebagian orang yang khawatir jika mengajarkan bahasa terlalu banyak kepada si kecil maka munculah istilah tersebut.

Menurut Hanllie hal itu tidak tepat, karena menurut penelitian, ketika anak berusia 3 tahun dia bisa belajar lebih dari 1 bahasa. Yang dinamakan bingung bahasa jika si kecil menerima stimulasi bahasa yang berbeda dari sumber yang sama. Tapi jika misalnya ibu konsisten berkomunikasi dengan bahasa Inggris, Ayah Bahasa Indonesia maka si kecil tidak akan bingung bahasa.

Setelah mengikuti sesi seminar ini, mata saya lebih terbuka – kalau kebutuhan bahasa asing khususnya Inggris ini boleh dikatakan adalah kemampuan yang harus dimiliki si kecil. Dan bisa dicicil semenjak dini. Supaya terbiasa dan akhirnya mahir berkomunkasi dengan bahasa Inggris. Hmmm, saya jadi tertarik mendaftarkan diri ke RISE, ketika nanti dia genap 2 tahun. Ada yang ingin bergabung dengan saya, Moms?


Post Comment