Skills to Design Your Life

Kalau katanya Rene Suhardono, “Bakat tapi nggak punya waktu untuk mengasahnya itu, it’s nothing”.

Beberapa waktu lalu saya sempat datang ke Pesta Pendidikan, salah satu talkshow yang sempat saya ikuti adalah talkshow ‘Skills to design your life’ yang dibawakan oleh Rene Suhardono. Sepanjang talkshow tersebut banyak sekali kalimatnya membuat saya tersentil sekaligus mendapatkan momen ‘jleb’.

skill

Jadi gini…. waktu itu Rene Suhardono seakan mengingatkan saya kembali bahwa mengasah passion dalam hidup itu sangat penting. Penting buat diri sendiri termasuk untuk anak-anak kita. Bahkan, lewat keterampilan mengasah passion ini jauh lebih penting membuat seseorang sukses ketimbang mendapatkan setumpuk ijazah. Ya, kebayang, sih, ya, kalau kita bekerja tapi nggak pakai passion, pasti rasanya jadi hambar. Melakukannya hanya sebatas menyelesaikan tugas saja dan  semata-mata untuk mendapatkan uang.

Salah satu contoh yang digambarkan Rene saat itu adalah sosok Joey Alexander, sang pianis cilik asal Indonesia yang kini namanya sudah mendunia. “Ada nggak yang pernah bertanya  ke Joey Alexander, dia punya ijazah apa saja? Berapa banyak, sih, waktu yang ia habiskan sehingga bisa berhasil jadi pianis cilik seperti sekarang ini? Gue pernah baca kalau dia itu spend time 3.5 jam sampai 6 jam untuk latihan setiap hari dari usia 3 tahun. Nah, sekarang berapa banyak anak Indonesia lainnya punya privilege untuk melakukan itu semua? Untuk menguasai apa yang menurut mereka itu adalah kekuatannya mereka?” ujar Rene.

Umh… benar juga, sih, kalau dipikir-pikir saat ini anak kita sudah banyak direpotkan dengan tugas sekolah, termasuk mengerjakan  PR. Belum lagi kalau anak sudah ikutan  les ini itu. Jadi, waktu untuk mengasah passion sangat terbatas. Kalau kata Rene, belum lagi dengan banyaknya pemikiran orangtua yang serupa. “Misalnya, nih, ‘Mama nggak mau tahu, deh, pokoknya nilai kamu minimal bisa 7, Mama nggak mau tahu, deh, yang penting kamu itu bisa jadi sarjana. Paling nggak kamu punya gelar’.  Padahal pemikiran orangtua seperti ini hanya untuk memenuhi strandar minimum aja?“.

Sementara apakah kita mau anak kita mendapatkan hal yang standar saja? Tentu nggak kan? Oleh karena itulah terkait dengan skills to design your life, Rene mengingatkan kalau hal yang sangat critical untuk dimiliki semua orang lebih dulu adalah pentingnya mengenali diri sendiri. Apa yang paling diinginkan oleh diri sendiri. Bukan keinginan orang lain, termasuk orangtua.

Bukan tidak mungkin jika kita tidak mampu mengenali diri sendiri akan membuat kita tidak enjoy menjalankan hidup, termasuk ketika sedang bekerja. Dan kenyataannya, saat ini memang masih banyak sekali yang merasa nggak enjoy dengan apa yang dikerjakaan.  “Orang modern ternyata banyak yang memisahkan antara kehidupan pekerjaan dengan kehidupannya di luar pekerjaan. Dan yang lebih mengerikan lagi, banyak yang nggak  happy dengan pekerjaannya. Mereka nggak punya ekspektasi untuk happy. Gimana mau happy kalau loe sendiri nggak punya ekpektasi untuk bisa happy?,” tutur Rene lagi.

Untuk itulah, dalam kaitan skills to design your life, Rene mengingatkan kuncinya adalah bisa mengenali diri lebih dulu, apa yang benar-benar diinginkan? Apa passion dalam hidup. “Dalam konteks design your life ini kuncinya adalah bagaimana kita mengenali diri sendiri, kemudian kenali lingkungan, mulai dari kenal market, kenal satu sama lain di luar sana karena banyak orang keren di luar sana, kemudian jangan lupa ambil peran”.

Lebih lanjut, waktu itu Rene pun memberikan ilustrasi mengenai skills to design your life, di mana ada beberapa pertanyaan penting yang bisa kita tanyakan ke diri sendiri ataupun ke anak-anak.

Pertama, tanyakan ke diri sendiri atau anak-anak kita mengenai kekuatan diri sendiri. Apa, sih, kekuatan loe?

Seperti yang diungkapkan Rene, mungkin kalau kita hidup di zaman dulu, 30 tahun lalu, profesi kita sudah bisa ketebak. Maksudnya begini, pekerjaan kita sudah ditentukan di mana kita lahir dan siapa orangtua kita. Kalau kita anak petani, sudah hampir pasti akan jadi petani. Kalau orangtua pedagang, kemungkinan besar kita juga akan jadi pedagang. Tapi kalau saat ini sudah berubah, kita ataupun anak kita bisa menjadi apapun sesuai dengan passion-nya. Rene juga menegaskan kalau passion itu adalah kekuatan, bukan cita-cita.

“Definisi simple-nya menurut gue adalah passion itu adalah segala aktivitas  yang membuat kita merasa berdaya, dan aktivitas ini harus spesifik. Lalu konsisten melakukan aktivitas tersebut kemudian baru loe akan piawai. Contohnya, ya, Zoey itu yang sudah lebih dulu melakukan proses yang ia jalankan. Waktu dia untuk mengasah untuk membuatnya jadi kinclong“. 

Pertanyaannya, sudahkah kita tahu passion kita? Passion anak-anak kita sehingga mereka bisa berhasil dan merasa enjoy dengan pekerjaannya kelak?

Selanjutnya, tanyakan ‘How do I perform atau how do I learn?

Tiap orang itu pasti punya karakter yang berbeda-beda, dan punya momen tersendiri yang bikin kita bisa merasa hidup. Untuk itulah, ketahui cara yang paling efekif untuk menerima informasi yang paling baik. Contohnya, ada orang yang baru bisa produktif ketika sudah malam, tapi ada juga yang merasa produktif saat pagi hari. Jangan lupa pahami gaya belajar anak. Masalahnya, nih, sampai sekarang masih banyak sekolah yang menerapkan metode pendidikan yang disamaratakan, sementara semua orang punya cara yang berbeda dalam menerima informasi atau pelajaran. Untuk itu pahami diri sendiri.

Katanya Rene, “The beauty of learning is you know your self”. Selain itu, jangan lupa diskusikan hal ini dengan orang lain khususnya orang terdekat. Ketika kita sudah mengenali diri sendiri, bagaimana dengan yang lain? Rene mengingatkan, karena hal terburuk adalah saat kita memperlakukan orang lain dengan sama.

Kemudian, apa misi yang ingin dijalankan dalam hidup ini?

Menurut Rene, misi yang dimaksud di sini nggak ada hubungannya dengan cita-cita, karena yang paling hakiki dalam hidup justru adalah misi. “Hal ini justru yang akan mengarahkan hidup loe,” ungkap Rene. Rene mengingatkan kalau setiap orang pada hakikatnya sudah punya peran masing-masing, dan semua itu kembali ke diri masing-masing apakah peran tersebut ingin kita jalani atau tidak.

Umh, siapa yang setuju dengan Rene? Kalau saya, sih, iya… sekarang PR saya adalah harus mengajukan pertanyaan di atas pada anak saya, Bumi. Kelak ketika dia sudah dewasa, saya tidak ingin ia tidak merasa enjoy menjalani kehidupan dan sebaliknya bisa sukses menjalankan pekerjaannya. Apapun pilihannya, saya ingin anak saya bahagia.


Post Comment