4 Hal yang Harus Diperhatikan oleh Pewawancara Kerja

Apa saja yang harus Anda lakukan saat harus mewawancarai calon pegawai di kantor? Atau untuk menjadi tim kerja  mengelola bisnis yang sedang Anda kelola.

 

4 Hal yang Harus Diperhatikan oleh Pewawancara Kerja

Image: www.blogs.nottingham.ac.uk

Walau terbilang sudah sangat lampau, saya masih ingat momen demi momen ketika diwawancara di beberapa tempat yang menjadi calon tempat saya bekerja. Terutama ketika saya harus mempersiapkan hal-hal saat melakukan wawancara kerja. Semuanya harus dipersiapkan dengan baik, hingga ke detail penampilan – karena saya yakin sekecil apapun hal baik yang kita tunjukkan akan menjadi penilaian bagi pihak pewawancara (interviewer).

Nah, bagaimana jika posisi Anda menjadi pewawancara? Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan? Berikut ini ada 4 hal yang harus dipersiapkan menurut Anida Triana Dewi – Senior Consultant Experd lulusan S2 UI Psikologi yang berparas cantik ini sudah 7 tahun lebih berkecimpung dalam dunia Psikologi dan Human Resources.

Silakan disimak ya, Mommies:

  1. Pertanyaan dan standar kelulusan

Interview bukanlah ngobrol-ngobrol biasa. Interview adalah percakapan yang terarah dan memiliki tujuan. Oleh karena itu, persiapkan arah pertanyaan kita. Pelajari lagi posisi yang akan kita interview, lihat kompetensi atau kualifikasi yang diperlukan, dan arahkan pertanyaan kita pada kompetensi yang diperlukan. Buat standar kriteria kandidat yang kita cari.

Siapkan daftar pertanyaan sebelumnya sehingga waktu tidak terbuang percuma saat proses wawancara karena kita bingung hendak menanyakan hal apa lagi. Pelajari CV kandidat dan temukan pertanyaan dari sana. Ingat, sedapat mungkin hindari pertanyaan hipotetikal (berandai-andai), seperti “Seandainya Anda ditugaskan untuk menghadapi teknisi lapangan, apakah Anda sanggup?”, rata-rata interviewee akan menjawab sanggup. Lebih baik kita tanyakan langsung pengalaman kandidat dalam menghadapi teknisi lapangan. Berdasarkan jawabannya kita akan dapat menilai sejauh mana kesanggupannya. Untuk mendapatkan jawaban yang nyata dan bukan sekadar karangan, kita dapat meminta contoh pengalaman langsung, kapan pengalaman tersebut dijalani, apa saja yang dilakukan saat itu, dan bagaimana hasil akhirnya. Semakin tajam kita bertanya, peluang kandidat untuk mengarang jawaban akan semakin kecil.

  1. Sikap dan penampilan

Sebagai interviewer, kitalah yang memegang kendali proses wawancara. Kondusif  atau tidaknya suatu wawancara lebih banyak dipengaruhi oleh sikap kita. Oleh karena itu atur emosi kita dari awal, ciptakan suasana yang positif, bangun rapport (kedekatan) dengan interviewee sehingga ia merasa nyaman dan lebih terbuka dalam memberikan jawaban, bangun empati sehingga kita juga lebih mudah dalam menggali isu-isu yang sensitive. Ajukan basa-basi di awal untuk memecahkan kekakuan yang dapat menghambat proses wawancara. Ingat interview bukanlah proses interogasi yang memojokkan. Kita justru perlu menciptakan komunikasi yang interaktif sehingga banyak informasi berharga yang tergali. Siapkan juga penampilan yang rapi dan professional, sebab dalam interview, kita tidak hanya mewakili diri sendiri namun juga membawa nama organisasi. Jangan sampai kandidat merasa tidak dihargai karena sikap dan penampilan kita sehingga nama organisasi juga menjadi tercemar.

  1. Observasi dan pencatatan

Selain jawaban verbal, kita juga perlu jeli dalam melakukan observasi sikap interviewee. Perhatikan eye contact kandidat, kepercayan dirinya, dan gerak-geriknya. Adakalanya hal ini dapat memberikan informasi tertentu pada kita, misalnya mengenai kepercayan dirinya, kejujurannya, atau bahkan kesesuaian sikap kandidat dengan budaya organisasi. Jangan lupa untuk membuat catatan terkait sikap dan jawaban kandidat sehingga kita memiliki dokumentasi terkait mereka. Hal ini akan sangat berguna saat kita harus mengambil keputusan. Mengandalkan ingatan saja sudah pasti tidak cukup.

  1. Ambil keputusan

Dalam mengambil keputusan, perhatikan kembali standard atau kriteria yang sudah kita tetapkan di awal. Carilah kandidat yang paling memenuhi standar tersebut. Lihat catatan kita untuk memperkuat bukti dan dasar pengambilan keputusan. Ingat, kesimpulan kita sedapat mungkin obyektif dengan bukti nyata ya, jangan terpengaruh oleh penampilan luar saja.

Mudah-mudahan kiat dari Anida tadi bisa bermanfaat dan mudah untuk dipraktikkan :)


Post Comment